Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Tujuan Prinsip Fungsi Peranan dan Objek

saya akan membagikan beberapa contoh makalah yang membahas mengenai konsep dasar supervisi pendidikan mulai dari tujuan supervisi pendidikan, lalu prinsip supervisi pendidikan, kemudian fungsi supervise pendidikan, serta peranan supervisi pendidikan dan juga objek supervisi pendidikan. Dari beberapa contoh makalah ini diharapkan kamu dapat membuat sebuah makalah mengenai konsep dasar supervisi yang lebih baik.

Dan berikut ini adalah 3 contoh susunan makalah konsep dasar supervisi pendidikan.

supervisi pendidikan - image google
Yang pertama bersumber dari blog pribadi milik mahasiswa yang blum diketahui namanya, yang menjadi pemilik dari blog https://zaenalelizzy.wordpress.com/

I. PENDAHULUAN

Supervisi pendidikan atau yang lebih dikenal dengan pengawasan pendidikan memiliki konsep dasar yang saling berhubungan. Dalam konsep dasar supervisi pendidikan dijelaskan beberapa dasar-dasar tentang konsep supervisi pendidikan itu sendiri. Pendidikan berbeda dengan mengajar, pendidikan adalah suatu proses pendewasaan yang dilakukan oleh seorang pendidik kepada peserta didik dengan memberikan stimulus positif yang mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Sedangkan pengajaran hanya mencakup kognitif saja artinya pengajaran adalah suatu proses pentransferan ilmu pengetahuan tanpa membentuk sikap dan kreatifitas peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan haruslah diawasi atau disupervisi oleh supervisor yang dapat disebut sebagai kepala sekolah dan pengawas-pengawas lain yang ada di departemen pendidikan.

Pengawasan di sini adalah pengawasan yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja para pendidik dan pegawai sekolah lainnya dengan cara memberikan pengarahan-pengarahan yang baik dan bimbingan serta masukan tentang cara atau metode mendidik yang baik dan professional.

Dalam perkembangannya supervisi pendidikan memberikan pengaruh yang baik pada perkembangan pendidikan di Indonesia sehingga para pendidik memiliki kemampuan mendidik yang kreatif, aktif, efektif dan inovatif. Dan dengan adanya mata kuliah supervisi pendidikan pada institusi yang bergerak dalan bidang pendidikan akan lebih menunjang para mahasiswa untuk mengetahui bagaimana mengawasi atau mensupervisi pada pendidikan yang baik.

Dalam makalah ini akan kami paparkan beberapa konsep dasar tentang supervisi pendidikan beserta sub-subnya yang semuanya sudah kami sebutkan dalam rumusan masalah.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Pengertian supervisi pendidikan
B. Tujuan supervisi pendidikan
C. Prinsip supervisi pendidikan
D. Peranan supervisi pendidikan
E. Jenis supervisi pendidikan
F. Sasaran supervisi pendidikan

III. PEMBAHASAN

A. Pengertian supervisi pendidikan

Istilah supervisi berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua akar kata, yaitu super yang artinya “di atas”, dan vision mempunyai arti “melihat”, maka secara keseluruhan supervisi diartikan sebagai “melihat dari atas”. Dengan pengertian itulah maka supervisi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pengawas dan kepala sekolah sebagai pejabat yang berkedudukan di atas atau lebih tinggi dari guru untuk melihat atau mengawasi pekerjaan guru.

Dalam pengertian lain, Supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Dengan demikian hakekat supervisi pendidikan adalah suatu proses bimbingan dari pihak kepala sekolah kepada guru-guru dan personalia sekolah yang langsung menangani belajar para siswa, untuk memperbaiki situasi belajar mengajar agar para siswa dapat belajar secara efektif dengan prestasi belajar yang semakin meningkat. Disamping itu juga memperbaiki situasi bekerja dan belajar secara efektif, disiplin, bertanggung jawab dan memenuhi akuntabilitas.

Sedangkan yang melakukan supervisi disebut supervisor. Bimbingan di sini mengacu pada usaha yang bersifat manusiawi serta tidak bersifat otoriter. Memperbaiki situasi bekerja dan belajar secara efektif terkandung makna di dalamnya bekerja dan belajar secara disiplin, tanggung jawab, dan memenuhi akuntabilitas. Jadi seorang pendidik itu tidak hanya mendidik dan mengajar akan tetapi dia juga harus masih belajar bagaimana cara-cara mendidik yang baik dan benar. Sehingga makna bahwa belajar tidak mengenal umur itu memang harus direalisasikan.

B. Tujuan supervisi pendidikan

Tujuan supervisi pendidikan adalah perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara total, ini berarti bahwa tujuan supervisi pendidikan tidak hanya untuk memperbaiki mutu mengajar guru, tetapi juga membina pertumbuhan profesi guru termasuk di dalamnya pengadaan fasilitas yang menunjang kelancaran proses belajar mengajar, peningkatan mutu pengetahuan dan keterampilan guru-guru, pemberian bimbingan dan pembinaan dalam hal implementasi kurikulum, pemilihan dan penggunaan metode mengajar, alat-alat pelajaran, prosedur dan teknik evaluasi pengajaran.

Supervisi yang baik mengarahkan perhatiannya pada dasar-dasar pendidikan dan cara-cara belajar serta perkembangannya dalam pencapaian tujuan umum pendidikan. Fokusnya bukan pada seorang atau sekelompok orang, akan tetapi semua orang seperti guru-guru, para pegawai, dan kepala sekolah lainnya adalah teman sekerja yang sama-sama bertujuan mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kegiatan belajar mengajar yang baik

Secara nasional tujuan konkrit dari supervisi pendidikan adalah:

Membantu guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan
Membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar murid.
Membantu guru dalam menggunakan alat pelajaran modern.
Membantu guru dalam menilai kemajuan murid-murid dan hasil pekerjaan guru itu sendiri.
Membantu guru dalam menggunakan sumber-sumber pengalaman belajar.
Membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid.
Membantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka.
Membantu guru baru di sekolah sehingga mereka merasa gembira dengan tugas yang diperolehnya.
Membantu guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap masyarakat dan cara-cara menggunakan sumber-sumber yang berasal dari masyarakat.
Membantu guru-guru agar waktu dan tenaganya tercurahkan sepenuhnya dalam pembinaan sekolah.


C. Prinsip supervisi pendidikan

Seorang pemimpin pendidikan yang disebut sebagai supervisor dalam melaksanakan supervisi hendaknya bertumpu pada prinsip supervisi pendidikan sebagai berikut:

1. Prinsip ilmiah (scientific)
Prinsip ilmiah mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.
Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data seperti angket, observasi, dan percakapan pribadi.
Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, berencana dan kontinu.


2. Prinsip demokratis
Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru bukan berdasarkan atasan dan bawahan akan tetapi berdasarkan rasa kesejawatan. Servis dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya.

3. Prinsip kerja sama
Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi sharing of idea, sharing of experience, memberi support mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

4. Prinsip konstruktif dan kreatif
Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi kreativitas. Kalau supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan bukan dengan cara-cara yang menakutkan.
Supervisi juga harus berpegang teguh pada pancasila yang merupakan prinsip asasi dan merupakan landasan utama dalam melaksanakan tugas dan kewajiban.

Di samping prinsip di atas, prinsip pendidikan dapat dibedakan atas prinsip positif dan prinsip negatif. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan di bawah ini.

1. Prinsip positif adalah prinsip-prinsip yang patut diikuti, diantaranya adalah:
a. Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif
b. Supervisi harus kreatif dan konstruktif
c. Supervisi harus scientific dan efektif
d. Supervisi harus dapat memberi perasaan aman kepada guru-guru
e. Supervisi harus berdasarkan kenyataan
f. Supervisi harus memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk mengadakan self evaluation.

2. Prinsip negatif adalah prinsip-prinsip larangan yang tidak boleh dilakukan, diantaranya adalah:
a. Seorang supervisor tidak boleh bersifat otoriter
b. Seorang supervisor tidak boleh mencari kesalahan pada guru-guru
c. Seorang supervisor bukan seorang inspektur yang ditugaskan untuk memeriksa apakah peraturan-peraturan dan instruksi-instruksi yang telah diberikan dilaksanakan atau tidak
d. Seorang supervisor tidak boleh menganggap dirinya lebih baik dari pada guru-guru oleh karena jabatannya
e. Seorang supervisor tidak boleh terlalu banyak memperhatikan hal-hal kecil dalam cara-cara guru mengajar.
f. Seorang supervisor tidak boleh lekas kecewa, bila ia mengalami kegagalan.

D. Peranan supervisi pendidikan

Kegiatan utama pendidikan di sekolah adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.

Supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor dalam mempelajari tugas sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat belajar yang lebih efektif. Maka peranan supervisor adalah memberi dukungan (support), membantu (assisting), dan mengikut sertakan (shearing).

Selain itu peranan seorang supervisor adalah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru merasa aman dan bebas dalam mengembangkan potensi dan daya kreasi mereka dengan penuh tanggung jawab. Suasana yang demikian hanya dapat terjadi apabila kepemimpinan dari supervisor itu bercorak demokratis bukan otokraris. Kebanyakan guru seolah-olah mengalami kelumpuhan tanpa inisiatif dan daya kreatif karena supervisor dalam meletakkan interaksi bersifat mematikan.

E. Jenis-jenis supervisi pendidikan

Berdasarkan banyaknya jenis pekerjaan yang dilakukan oleh guru-guru maupun para karyawan pendidikan, supervisi dalam dunia pendidikan dapat dibedakan menjadi lima macam yaitu supervisi umum, supervisi pengajaran, supervisi klinis, pengawasan melekat, dan pengawasan fungsional.

1. Supervisi umum dan supervisi pengajaran
Supervisi umum adalah supervisi yang dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan atau pekerjaan yang secara tidak langsung berhubungan dengan usaha perbaikan pengajaran seperti supervisi terhadap kegiatan pengelolaan bangunan dan perlengkapan sekolah atau kantor-kantor pendidikan, supervisi terhadap kegiatan pengelolaan administrasi kantor, dan supervisi pengelolaan keuangan sekolah atau kantor pendidikan.

Supervisi pengajaran adalah kegiatan-kegiatan pengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi-kondisi baik personel maupun material yang memungkinkan terciptanya situasi belajar mengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan demikian, uraian di atas tentang pengertian supervisi beserta definisi-definisinya dapat digolongkan ke dalam supervisi pengajaran.

2. Supervisi klinis
Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan profesional guru atau calon guru khususnya dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut.

Supervisi klinis termasuk bagian dari supervisi pengajaran. Dikatakan supervisi klinis karena prosedur pelaksanaannya lebih ditekankan pada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang yang terjadi di dalam proses belajar mengajar dan kemudian secara langsung diusahakan bagaimana cara memperbaiki kelemahan atau kekurangan tersebut. Ibarat seorang dokter yang akan mengobati pasiennya, mula-mula dicari dulu sebab dan jenis penyakitnya.

Setelah diketahui dengan jelas penyakitnya kemudian sang dokter memberikan saran bagaimana sebaiknya agar penyakit itu tidak semakin parah dan pada waktu itu juga dokter memberikan resep obatnya. Di dalam supervisi klinis cara yang dilakukan adalah supervisor mengadakan pengamatan terhadap cara guru mengajar, setelah itu mengadakan diskusi dengan guru yang bersangkutan dengan tujuan untuk memperoleh kebaikan maupun kelemahan yang terdapat pada saat guru mengajar serta bagaimana usaha untuk memperbaikinya.

3. Pengawasan melekat dan pengawasan fungsional
Di dalam dunia pendidikan di Indonesia istilah supervisi disebut juga pengawasan atau kepengawasan. Pengawasan melekat adalah suatu pengawasan yang memang sudah melekat menjadi tugas dan tanggung jawab semua pimpinan. Oleh karena itu setiap pemimpin adalah juga sebagai pengawas, maka kepengawasan yang dilakukan itu disebut pengawasan melekat.
Dengan pengawasan melekat yang efektif dan efisien dapat dicegah sedini mungkin terjadinya pemborosan, kebocoran, dan penyimpangan dalam penggunaan wewenang, tenaga, uang, dan perlengkapan milik negara sehingga dapat terbina aparat pendidikan yang tertib, bersih, dan berdaya guna.

Tujuan pengawasan melekat adalah untuk mengetahui apakah pimpinan unit kerja dapat menjalankan fungsi pengawasan dan pengendalian yang melekat padanya dengan baik sehingga bila ada penyelewengan, pemborosan, dan korupsi pimpinan unit kerja dapat mengambil tindakan koreksi sedini mungkin.

Pengawasan fungsional adalah kegiatan-kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh orang-orang yang fungsi jabatanya sebagai pengawas. Sebagai contoh konkret tentang pengawasan fungsional dapat dilihat dalam struktur organisasi Departemen P dan K dalam struktur tersebut khususnya di lingkungan inspektorat jenderal terdapat delapan inspektorat yang masing-masing dipimpin oleh seorang inspektur.

Khusus mengenai kepala sekolah mempunyai dua fungsi kepengawasan sekaligus, yaitu pengawasan melekat dan pengawasan fungsional. Kepala sekolah harus menjalankan pengawasan melekat karena ia adalah pimpinan unit atau lembaga yang paling bawah di lingkungan Departemen P dan K. Dan ia pun harus menjalankan atau berfungsi sebagai pengawas fungsional, karena kepala sekolah adalah juga sebagai pengawas atau supervisor yang membantu tugas penilik atau pengawas dari Kanwil, khususnya dalam bidang supervisi pengajaran.

F. Sasaran supervisi

Supervisi pendidikan ditujukan kepada usaha memperbaiki situasi belajar mengajar. Yang dimaksud dengan situasi belajar mengajar adalah situasi di mana terjadi proses interaksi antara guru dan murid dalam usaha mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan.

Dalam kegiatan pembelajaran sangat sukar menentukan mana yang benar dalam praktek mengajar karena mengajar adalah seni. mengajar dalam pekerjaan disekolah bukan pekerjaan yang mudah, sehingga kepala sekolah dalam demonstrasi pembelajaran tidak perlu mengakui kelemahan dan perlu mencarikan ahli yang dapat memberikan gambaran tentang pembelajaran yang baik.

Sebetulnya apabila dicermati secara rinci, kegiatan supervisi yang sesuai dengan sasarannya dapat dibedakan menjadi dua yaitu: supervisi akademik, supervisi ini lebih menitikberatkan pengamatan pada masalah akademik, yaitu yang langsung berada dalam lingkup kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru unuk membantu siswa ketika sedang dalam proses belajar mengajar. Dan yang kedua adalah supervisi administrasi, yang lebih menitikberatkan pengamatan pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran.

Di samping dua macam supervisi yang disebut dengan objeknya atau sasarannya, ada lagi supervisi yang lebih luas yaitu supervisi lembaga dan akreditasi. Yang membedakan antara kedua hal tersebut adalah pelaku dan waktu dilaksanakannya. Supervisi lembaga dilakukan oleh orang yang ada di dalam lembaga yaitu kepala sekolah dan dari luar lembaga yaitu pengawas secara terus menerus, sedangkan supervisi akreditasi dilakukan oleh tim dari luar hanya dalam waktu-waktu tertentu.
Tujuannya sama yaitu meningkatkan kualitas lembaga baik parsial maupun keseluruhan. Dengan kata lain yang menjadi sasaran atau objek supervisi akademik, supervisi administrasi, supervisi lembaga, dan supervisi akreditasi adalah sama yaitu meningkatkan kualitas lembaga, tetapi lingkup dan harapan tentang kualitasnya berbeda.

IV. ANALISIS

Pendidika adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus menerus.

Potensi sumber daya guru itu perlu terus menerus tumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara profesional. Selain itu, pengaruh perubahan yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus menerus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat. Itulah sebabnya ulasan mengenai supervisi pendidikan itu bertolak dari keyakinan dasar bahwa guru adalah suatu profesi.

Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Menengah ditegaskan bahwa pada jejang pendidikan menengah, selain kepengawasan, kepala sekolah juga mendapat tugas sebagai supervisor yang diharapkan dapat setiap kali berkunjung ke kelas dan mengamati kegiatan guru yang sedang mengajar.

Meskipun secara teoritik sudah ada pihak yang diharapkan dapat melakukan supervisi terhadap guru, yaitu kepala sekolah dan pengawas, namun dalam kenyataannya baik pengawas maupun kepala sekolah belum dapat menjalankan kegiatan supervisi dengan baik, bahkan semakin berkurang keaktifannya.

Kegiatan pokok supervisi adalah melakukan pembinaan kepada sekolah pada umumnya dan pada guru pada khususnya agar kualitas pembelajaran meningkat. Sebagai dampak meningkatnya kualitas pembelajaran, tentu dapat meningkat pula prestasi belajar siswa, dan itu berarti meningkatlah kualitas lulusan sekolah itu.

Jika perhatian supervisi sudah tertuju pada keberhasilan siswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan di sekolah, berarti bahwa supervisi tersebut sudah sesuai dengan tujuannya. Oleh karena itu siswalah yang menjadi pusat perhatian dari segala upaya pendidikan, berarti bahwa supervisi sudah mengarah pada subjeknya yaitu siswa.

Sebenarnya makna supervisi adalah melihat bagian mana dari kegiatan di sekolah yang masih negatif untuk diupayakan menjadi positif, dan melihat mana yang sudah positif untuk dapat ditingkatkan menjadi lebih positif lagi, dan yang terpenting adalah upaya pembinaan.

IV. KESIMPULAN

Dari pemaparan makalah di atas dapat kami simpulkan bahwa konsep dasar supervisi pendidikan itu terdiri atas pengertian, tujuan, prinsip, peranan, dan objek atau sasaran. Supervisi itu sendiri adalah suatu proses bimbingan dari seorang kepala sekolah kepada para guru dan pegawai yang langsung menangani belajar siswa guna memperbaiki situasi belajar mengajar para siswa agar para siswa dapat belajar secara efektif dengan prestasi belajar yang semakin meningkat.

Tujuan dari supervisi pendidikan itu sendiri adalah perbaikan proses belajar mengajar termasuk di dalamnya adalah memperbaiki mutu mengajar guru juga membina profesi guru dengan cara pengadaan fasilitas yang menunjang kelancaran proses belajar mengajar dan keterampilan guru, selain itu memberikan bimbingan dan pembinaan dalam hal implementasi kurikulum, pemilihan dan penggunaan metode mengajar dan teknik evaluasi pengajaran.

Prinsip supervisi pendidikan terdiri atas prinsip ilmiah, demokratis, kerja sama, dan konstruktif kreatif. Peranan supervisi pendidikan adalah memudahkan supervisor dalam mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Kemudian sasaran supervisi pendidikan ditujukan pada usaha memperbaiki situasi belajar mengajar antara guru dan murid.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, 2004, Dasar-dasar Supervisi, Jakarta, PT. Rineka Cipta.
Mulyasa, E., 2006, Menjadi kepala sekolah Profesional, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
Pidarta, Made, 1992, Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara.
Purwanto, M. Ngalim, 2008, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
Sahertian, Piet A., 1981, Prinsip dan Tehnik Supervisi Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional.
______________, 2000, Konsep Dasar dan Tehnik Supervisi Pendidiksn, Jakarta, PT. Rineka Cipta.
Soetopo, Hendyat dan Wasty Soemanto, 1988, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, Jakarta, Bina Aksara.

Yang kedua yaitu makalah konsep dasar supervisi pendidikan yang dibuat oleh seorang mahasiswa bernama eko sujadi, yang juga merupakan pemilik blog http://ekosujadi-bintan.blogspot.co.id

KONSEP DASAR SUPERVISI PENDIDIKAN (II)


BAB I PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Istilah supervisi baru muncul kurang lebih tiga dasawarsa terakhir ini (Suharsimi Arikunto,2004). Kegiatan serupa yang dahulu banyak dilakukan adalah Inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau pemilikan. Dalam konteks sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan, supervisi merupaka bagian dari proses administrasi dan manajemen. Kegiaan supervisi melengkapi fungsi-fungsi administrasi yang ada di sekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian terhadap semua kegiatan dalam mencapai tujuan.

Dengan supervisi, akan memberikan inspirasi untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dengan jumlah lebih banyak, waktu lebih cepat, cara lebih mudah, dan hasil yang lebih baik daripada jika dikerjakan sendiri. Supervisi mempunyai peran mengoptimalkan tanggung jawab dari semua program. Supervisi bersangkut paut dengan semua upaya penelitian yang tertuju pada semua aspek yang merupakan factor penentu keberhasilan. Dengan mengetahui kondisi aspek-aspek tersebut secara rinci dan akurat, dapat diketahui dengan tepat pula apa yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas organisasi yang bersangkutan.

B.     TUJUAN
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan pengertian supervisi, dan menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan itu . Dan untuk memenuhi tugas administrasi dan supervisi pendidikan

 
BAB II PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN SUPERVISI

Secara morfologis Supervisi berasalah dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision. Super berarti diatas dan vision berarti melihat, masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan –orang yang berposisi diatas, pimpinan-- terhadap hal-hal yang ada dibawahnya.

Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervise bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki.

Secara sematik Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya.

Good Carter memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran.
Boardman et. Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secarr kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi modern.
Wilem Mantja (2007) mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan  supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan
Menurut Kimball Wiles (1967)Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut : “Supervision is assistance in the development of a better teaching learning situation”.
Ross L (1980), mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum.
Menurut Purwanto (1987), supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.

Dari uraian definisi supervisi diatas, maka dapat dipahami para pakar menguraikan defenisi supervisi dari  tinjauan yg berbeda-beda.God Carter melihatnya sebagai usaha memimpin guru-guru dalam jabatan mengajar, Boardman. Melihat supervisi sebagai lebih sanggup berpartisipasi dlm masyarakat modern.

Willem Mantja memandang supervisi sebagai kegiatan untuk perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan. Kimball Wiles beranggapan bahwa faktor manusia yg memiliki kecakapan (skill) sangat penting untuk menciptakan suasana belajar mengajar yg lebih baik.

Ross L memandang supervise sebagai pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan.

Sedangkan Purwanto (1987) memandangkan sebagai pembinaan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.

Kegiatan supervisi dahulu banyak dilakukan adalah Inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau penilikan. Supervisi masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan –orang yang berposisi diatas, pimpinan-- terhadap hal-hal yang ada dibawahnya.

Inspeksi : inspectie (belanda) yang artinya memeriksa  dalam arti melihat untuk mencari kesalahan. Orang yang menginsipeksi disebut inspektur. Inspektur dalam hal ini mengadakan :
1.Controlling : memeriksa apakah semuanya dijalankan sebagaimana mestinya
2.Correcting : memeriksa apakah semuanya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan/digariskan
3. Judging : mengandili dalam arti memberikan penilaian atau keputusan sepihak
4. Directing : pengarahan, menentukan ketetapan/garis
5. Demonstration : memperlihatkan bagaimana mengajar yang baik

Pemeriksaan artinya melihat apa yg terjadi dlm kegiatan sedangkan Pengawasan adalah Melihat apa yg positif & negatif. Adapun Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervisi bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki. Supervisi dilakukan untuk melihat bagian mana dari kegiatan sekolah yg masih negatif untuk diupayakan menjadi positif, & melihat mana yang sudah positif untuk ditingkatkan menjadi lebih positif lagi dan yang terpenting adalah pembinaannya

Orang yang melakukan supervise disebut supervisor. Dibidang pendidikan disebut supervisor pendidikan. Menurut keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 0134/0/1977, temasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penelik sekolah, dan para pengawas ditingkatkan kabupaten/kotamadya, serta staf di kantor bidang yang ada di tiap provinsi.

Mulyasa (2006) supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi modern diperlukan supervisor khusus yang lebih independent, dan dapat meningkatkan obyektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaan tugas.

Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya.

B.     TUJUAN DAN SASARAN SUPERVISI

Tujuan utama supervisi adalah memperbaiki pengajaran (Neagly & Evans, 1980; Oliva, 1984; Hoy & Forsyth, 1986; Wiles dan Bondi, 1986; Glickman, 1990).
Tujuan umum Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru dan staf agar personil  tersebut mampu meningkatkan kwalitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan proses belajar mengajar.
Secara operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari supervisi pendidikan yaitu :
a. Meningkatkan mutu kinerja guru.
1.  Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut.
2. Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya.
3.  Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan lainnya.
4. Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa.
5. Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat pengajaran.
6. Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru dalam pengajaran.
7. Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru.
b. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik.
c. Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa.
d. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan.
e. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan.

Adapun sasaran utama dari pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut adalah  peningkatan kemampuan profesional guru (Depdiknas, 1986; 1994 & 1995).
Sasaran Supervisi ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam bentuk supervisi :
1. Supervisi Akademik
Menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang berlangsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu.
2. Supervisi Administrasi
Menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran.
3. Supervisi Lembaga
Menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di sekolah. Supervisi ini dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), Perpustakaan dan lain-lain.

C.    PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI

Secara sederhana prinsip-prinsip supervisi adalah sebagai berikut :
1.  Supervisi hendaknya memberikan rasa aman kepada pihak yang disupervisi.
2.  Supervisi hendaknya bersifat Kontrukstif dan Kreatif.
3.  Supervisi hendaknya realistis didasarkan pada keadaan dan kenyataan sebenarnya.
4.   Kegiatan supervisi hendaknya terlaksana dengan sederhana.
5. Dalam pelaksanaan supervisi hendaknya terjalin hubungan profesional, bukan didasarkan atas hubungan pribadi.
6.  Supervisi hendaknya didasarkan pada kemampuan, kesanggupan, kondisi dan sikap pihak yang disupervisi.
7.  Supervisi harus menolong guru agar senantiasa tumbuh sendiri tidak tergantung pada kepala sekolah.

Prinsip-prinsip Supervisi :

Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada guru dan staf sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan dan bukan mencari-cari kesalahan.

Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung, artinya bahwa pihak yang mendapat bantuan dan bimbingan tersebut tanpa dipaksa atau dibukakan hatinya dapat merasa sendiri serta sepadan dengan kemampuan untuk dapat mengatasi sendiri.

Apabila supervisor merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik, sebaiknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Sebaiknya supervisor memberikan kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan pertanyaan atau tanggapan.

Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala misalnya 3 bulan sekali, bukan menurut minat dan kesempatan yang dimiliki oleh supervisor.

Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan adanya hubungan yang baik antara supervisor dan yang disupervisi tercipta suasana kemitraan yang akrab. Hal ini bertujuan agar pihak yang disupervisi tidak akan segan-segan mengemukakan pendapat tentang kesulitan yang dihadapi atau kekurangan yang dimiliki. Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau terlupakan, sebaiknya supervisor membuat catatan singkat, berisi hal-hal penting yang diperlukan untuk membuat laporan.

Sedangkan menurut Tahalele dan Indrafachrudi (1975)    prinsip-prinsip supervisi sebagai berikut; (a) supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif, (b) supervisi harus kreatif dan konstruktif, (c) supervisi harus ”scientific” dan efektif, (d) supervisi harus dapat memberi perasaan aman pada guru-guru, (e) supervisi harus berdasarkan kenyataan, (f) supervisi harus memberi kesempatan kepada supervisor dan guru-guru untuk mengadakan “self evaluation”
Karena prinsip-prinsip supervisi di atas merupakan kaidah-kaidah yang harus dipedomani atau dijadikan landasan di dalam melakukan supervisi, maka hal itu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari para supervisor, baik dalam konteks hubungan supervisor-guru, maupun di dalam proses pelaksanaan supervisi.

D.    FUNGSI SUPERVISI

1.      Fungsi Meningkatkan Mutu Pembelajaran Ruang lingkupnya sempit, hanya tertuju pada aspek akademik, khususnya yang terjadi di ruang kelas ketika guru sedang memberikan bantuan dan arahan kepada siswa.
2.       Fungsi Memicu Unsur yang Terkait dengan PembelajaranLebih dikenal dengan nama    Supervisi Administrasi.
3.      Fungsi Membina dan Memimpin.

E.     TIPE-TIPE SUPERVISI

1.            Tipe Inspeksi
Tipe seperti ini biasanya terjadi dalam administrasi dan model kepemimpinan yang otokratis, mengutamakan pada upaya mencari kesalahan orang lain, bertindak sebagai “Inspektur” yang bertugas mengawasi pekerjaan guru. Supervisi ini dijalankan terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan petugas di sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas yang diperintahkan serta ditentukan oleh atasannya.

2.           Tipe Laisses Faire.
Tipe ini kebalikan dari tipe sebelumnya. Kalau dalam supervisi inspeksi bawahan diawasi secara ketat dan harus menurut perintah atasan, pada supervisi Laisses Faire para pegawai dibiarkan saja bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk yang benar. Misalnya: guru boleh mengajar sebagaimana yang mereka inginkan baik pengembangan materi, pemilihan metode ataupun alat pelajaran.

3.           Tipe Coersive
Tipe ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi. Sifatnya memaksakan kehendaknya. Apa yang diperkirakannya sebagai sesuatu yang baik, meskipun tidak cocok dengan kondisi atau kemampuan pihak yang disupervisi tetap saja dipaksakan berlakunya. Guru sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengapa harus demikian. Supervisi ini mungkin masih bisa diterapkan secara tepat untuk hal-hal yang bersifat awal. Contoh supervisi yang dilakukan kepada guru yang baru mulai mengajar. Dalam keadaan demikian, apabila supervisor tidak bertindak tegas, yang disupervisi mungkin menjadi ragu-ragu dan bahkan kehilangan arah yang pasti.

4.           Tipe Training dan Guidance
Tipe ini diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan. Hal yang positif dari supervisi ini yaitu guru dan staf tata usaha selalu mendapatkan latihan dan bimbingan dari kepala sekolah. Sedangkan dari sisi negatifnya kurang adanya kepercayaan pada guru dan karyawan bahwa mereka mampu mengembangkan diri tanpa selalu diawasi, dilatih dan dibimbing oleh atasannya.

5.           Tipe Demokratis
Selain kepemimpinan yang bersifat demokratis, tipe ini juga memerlukan kondisi dan situasi yang khusus. Tanggung jawab bukan hanya seorang pemimpin saja yang memegangnya, tetapi didistribusikan atau didelegasikan kepada para anggota atau warga sekolah sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.

F.     JENIS TEKNIK SUPERVISI

wyn dalam Sahertian dan Mataheru (1986) menyebutkan teknik supervisi terdiri dari individual deviation (bersifat individual) dan group devices (bersifat kelompok). Teknik supervisi yang bersifat individual antara lain; kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling mengunjungi kelas, dan menilai diri sendiri. Sedangkan teknik yang bersifat kelompok diantara adalah;  panel of forum discussion,curriculum laboratry, directed reading, demonstration teaching,  professional libraries, supervisory bulletin, teacher meeting, professional oraganization, workshop of group work.

Evan dan Neagly (1980) menyebutkan teknik supervisi terdiri dari; individual techniques (teknik perorangan) dan group techniques (teknik kelompok). Individual techniques terdiri atas; assignment of teachers, classroom visitation and observation, classroom experimentation, colleges course, conference (individual), demonstration teaching, evaluation, proffesional reading, professional writing, supervisory bulletins, informal contacts. Sedangkan yang termasuk teknik kelompok (group techniques) diantaranya adalah; orientation of new teacher, development of professional libraries, visiting other teachers, coordinating of student teacing.

A.     Teknik perseorangan .
1.      Mengadakan kunjungan kelas (Classroom visitation) Yang dimaksud adalah kunjungan yang dilakukan untuk melihat guru yang sedang mengajar atau ketika kelas sedang kosong.
2.      Mengadakan observasi kelas (Classroom Observation) Kunjungan ke sebuah kelas untuk mencermati      situasi/peristiwa yang sedang berlangsung di dalam kelas.
3.      Mengadakan wawancara :  dilakukan apabila supervisor menghendaki jawaban dari individu tertentu.

B.     Teknik kelompok
1.        Mengadakan pertemuan/rapat (meeting) Dalam kegiatan ini Supervisor dapat memberikan pengarahan (directing), pengkoordinasian (coordinating) dan mengkomunikasikan (comunicating) segala informasi kepada guru/staf .
2.        Mengadakan diskusi kelompok (group discusion)
3.        Mengadakan penataran (in service training)
4.         Seminar

G.    MEKANISME PELAKSANAAN SUPERVISI

Tahap penyusunan program supervisi.
Program tersebut meliputi program tahunan dan program semester ( terlampir )
Tahap persiapan, yang perlu dipersiapkan ;
a)      Format/instrumen supervisi.
b)      Materi pembinaan/supervisi.
c)      Buku catatan .
d)     Data supervisi/pembinaan sebelumnya.
Tahap pelaksanaan : diarahkan pada sasaran yang  telah ditetapkan .
Tahap tindak lanjut. Merupakan pembinaan dan perbaikan dari hasil  temuan pada saat supervisi.

H.    PERANGKAT SUPERVISI

Salah satu perangkat yang digunakan dalam melaksankan supervisi ialah instrument observasi pembelajaran/check list terutama untuk supervisi kelas, supervisi klinis, dengandemikian diharapkan indicator yang diamati untuk setiap unsure yang diamati, antara lain :
Persiapan dan aperisepsi
Relevansi materi dengan tujuan instruksional
Penguasaan materi
Strategi
Metode
Manajemen kelas
Pemberian metivasi kepada siswa
Nada dan suara
Penggunaan bahasa
Gaya dan sikap perilaku
 
BAB III PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Supervisi adalah : suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.

Tujuan Supervisi :
1. Meningkatkan kinerja / mutu guru.
2. Meningkatkan keefektifan kurikulum.
3. Meningkatkan keefektifan sarana prasarana.
4. Meningkatkan kualtas pengelolaan sekolah.
5. Meningkatkan situasi sekolah.

Fungsi Supervisi :
1. Meningkatkan mutu pembelajaran yang tertuju pada aspek akademik, khususnya yang terjadi diruangan kelas ketika guru sedang memberikan bantuan dan arahan pada siswa.
2. Memicu unsur yang terkait dengan pembelajaran.
3. Membina dan pemimpin.

Tipe Supervisi :
1. Supervisi Sebagai Inspeksi
2. Laises Faire
3. Coercive Supervision
4. Training and Guidance
5. Demokratis

B.     SARAN
Diharapkan setelah membaca makalah ini, pembaca dapat memahami apa yang dimaksud dengan supervisi itu serta hal-hal yang berkaitan dengannya.


DAFTAR PUSTAKA

1.      Mudyahardjo, Redja. 2002. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Penerbit PT. Raja Grafindo Persada.
2.      Purwanto, MP, Drs. M. Ngalim. 2007. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
3.      Suryosubroto, Drs. B. 1988. Dasar Dasar Psikologi Untuk Pendidikan di Sekolah. Jakarta : Penerbit PT Prima Karya.

Dan yang terakhir merupakan contoh makalakh yang dibuat oleh seorang mahasiswa bernama SURYANAGARA dari Universitas UIN ALAUDDIN Makassar.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar dan terencana untuk menjadikan manusia berbudaya atau berperadaban. Pendidikan amat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan diperlukan untuk meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh dalam menjawab tantangan era globalisasi. Untuk dapat melaksanakan pendidikan sesuai harapan tersebut maka dibutuhkan pendidikan bermutu yang dapat mengembangkan potensi peserta didik.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]

Dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan, sumber daya manusia menjadi kata kunci yang harus segera diantisipasi pemecahannya, jika bangsa ini ingin berkiprah dalam percaturan global. Guru dan pengawas merupakan sosok pejabat fungsional yang mengemban tugas-tugas teknis pendidikan agama di sekolah. komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus. Pembentukan profesi guru dilaksanakan baik program pendidikan prajabatan (pre-service education) maupun program dalam jabatan (inservice educa­tion). Potensi sumber daya guru perlu terus ditumbuh kembangkan agar dapat melakukan fungsinya secara profesional. Selain itu pengaruh perubahan yang serba cepat mendorong guru untuk terus menerus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.[2]

Tugas guru mencakup perencanaan program program tahunan, program semester, pengembangan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, program pengayaan dan remedial, serta program bimbingan dan konseling. Dalam prakteknya tentu tidak semudah yang dibayangkan, guru sering mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya, adakalanya guru menemui kendala dalam melaksanakan kewajibannya dan tidak mampu menyelesaikannya sendiri, maka oleh karena itu seorang pendidik atau guru membutuhkan bimbingan dari seorang supervisor pendidikan.
Supervisi Pendidikan yang dulunya di kenal sebagai kegiatan inspeksi, peme­rik­saan, pengawasan, atau penilikan atas proses pembelajaran, memang sesekali ma­sih mengadopsi kegiatan inspeksi tersebut. Seiring perkembangan zaman yang berdam­pak pada dunia pendidikan, maka supervisi juga mengalami perubahan. Supervisi pada saat ini titik fokusnya adalah melakukan bimbingan dan membina  profesionalisme guru. Pelaksanaan supervisi bertujuan membina, membantu, membimbing, dan mengevaluasi seluruh komponen sekolah (secara khusus kepada guru) untuk perbaikan kegiatan pembelajaran  dan hasil belajar guna peningkatan mutu pendidikan

Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program supervisi dilakukan oleh supervisor profesional. Seorang supervisor yang dikatakan profesional dapat menjalankan tugasnya secara efektif untuk pencapaian tujuan supervisi, maka supervisor harus mengetahui, memahami, serta memilih model, tipe, pendekatan, dan teknik supervisi yang cocok dan sesuai dengan tujuan pelaksanaan supervisi yang akan dicapai, hal tersebut dikarenakan dalam pelaksanaan supervisi, para supervisor akan dihadapkan dengan berbagai macam karateristik guru. Perbedaan tersebut dapat di lihat dari sisi usia dan kematangan, pengalaman kerja, motivasi, maupun kemampuan guru.

[3] Pemilihan model, tipe, pendekatan, dan teknik supervisi yang cocok dan sesuai akan memberikan hasil yang baik dalam pelaksanaan supervisi serta dapat mencapai tujuan yang dicita-citakan, sehingga tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dapat terwujud.
Di sekolah yang berperan sebagai supervisor adalah kepala sekolah. Sebagai supervisor kepala sekolah memegang peranan penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan.  Kepala sekolah sebagai supervisor di internal sekolah seharusnya mampu mengarahkan, membimbing, menilai, mengawasi, dan memperbaiki kesalahan serta kelemahan yang terjadi dalam proses pembelajaran.

Dalam rangka otonomi sekolah, kepala sekolah mempunyai kewenangan yang besar dalam membuat kebijakan tingkat sekolah, melaksanakan dan mengawasinya, supaya sekolah yang dipimpinnya semakin memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi diri dan lingkungannya. Kepala sekolah sebagai penanggung jawab pendidikan pada tingkat sekolah, kini memiliki kewenangan dan keleluasaan dalam mengembangkan program, mengelola dan mengawasinya, memiliki keleluasaan dalam mengatur segenap sumber daya yang dimilikinya, yang dapat digalinya supaya terjadi peningkatan mutu dan produktivitas yang signifikan dalam memberi layanan belajar bermutu melalui guru serta personal yang kooperatif. Aktivitas pengarahan dan bimbingan yang dilakukan oleh atasan dalam hal ini kepala sekolah kepada guru serta personalia sekolah lainnya yang langsung menangani pembelajaran siswa dalam  memperbaiki situasi pembelajaran, inilah yang dimaksud dengan supervisi.

B. Rumusan Masalah

Berawal dari deskripsi latar belakang masalah di atas maka yang menjadi po­ko­k permasalahan yang dijadikan kajian utama  dalam makalah ini adalah bagai­mana konsep dasar supervisi pendidikan?

Untuk mengkaji pokok permasalah­an tersebut maka penulis mem-breakdawn ke dalam beberapa submasalah yaitu:
1.    Bagaimana  fungsi supervisi pendidikan?
2.    Bagaimana prinsip- prinsip supervisi pendidikan?
3.    Bagaimana pendekatan supervisi pendidikan?
 
I.   PEMBAHASAN

A. Fungsi Supervisi Pendidikan

Secara etimologi, istilah supervisi berasal dari bahasa Inggris Supervision yang berarti pengawasan.[4] Pelaku atau pelaksanaannya disebut supervisor dan orang yang disupervisi disebut subjek supervisi atau supervise. Secara morfologis, supervisi terdiri dari dua kata, yaitu super (atas) dan Vision (pandang, lihat, tilik, amati, atau awasi). Supervisi, karenanya diberi makna melihat, melirik, memandang, menilik, mengamati, atau mengawasi dari atas. Pelakunya disebut supervisor, yang kedudukannya lebih tinggi atau di atas orang-orang yang disupervisi. Makna etimologi ini selalu dalam tafsir hubungan antarsubyek, sehingga tidak berlaku untuk supervisi pabrik, supervisi kerusakan jalan, supervisi bangunan, supervisi taman sekolah, dan sebagainya.[5]
Secara umum supervisi berarti upaya bantuan yang diberikan kepada guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya, agar guru mampu membantu para siswa dalam belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian supervisi diberikan kepada guru untuk mendukung keberhasilan pembelajaran peserta didik.

Kimbal Willes  yang dikutip Syaiful Sagala bahwa supervisi sebagai aktivi­tas yang dirancang untuk memperbaiki pengajaran pada semua jenjang persekolah­an, berkaitan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak supervisi juga merupa­kan bantuan dalam perkembangan dari pembelajaran dengan baik.[6]

Berdasarkan pendapat di atas maka penulis meahami bahwa supervisi adalah pembinaan kearah perbaikan untuk mendukung keberhasilan pembelajaran peserta didik sesuai  karakteristik baik umum maupun khusus.

Sebagai salah satu dari fungsi manajemen, pengertian supervisi telah berkembang secara umum. Secara umum yang dimaksud dengan supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya.

Berdasarkam pendapat para ahli supervisi adalah suatu proses kemudahan sumber-sumber yang diperlukan untuk penyelesaian suatu tugas ataupun sekumpulan kegiatan pengambilan keputusan yang berkaitan erat dengan perencanaan dan pengorganisasian kegiatan dan informasi dari kepemimpinan dan pengevaluasian setiap kinerja karyawan. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan supervisi adalah kegiatan-kegiatan yang terencana seorang manajer melalui aktivitas bimbingan, pengarahan, observasi, motivasi dan evaluasi pada stafnya dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehari-hari.[7]

Berdasarkan pelaksanaan supervisi pendidikan hendaknya dapat dipahami sebagai suatu proses yang dilakukan oleh supervisor (pengawas) dalam membimbing dan membantu guru di sekolah/madarasah dalam upaya pencapaian  mutu pendidikan yang baik, berkualitas, bermakna, efektif dan efisien tersebut, dapat diindikasikan dengan beberapa poin sebagai berikut:
1.    Kegiatan supervisi membantu pencapaian kompetensi.
2.    Kegiatan supervisi membantu guru dalam pementapan penguasaan materi pelajaran.
3.    Kegiatan supervisi dapat menarik minat siswa untuk belajar.
4.    Kegiatan supervisi mampu meningkatkan daya serap siswa dalam belajar.
5.    Kegiatan supervisi membantu meningkatkan ketercapaian angka kelulusan madarasah.
6.    Kegiatan supervisi membantu meningkatkan profesionalisme pengelolaan adminitrasinya.
7.    Kegiatan supervisi membantu meningkatkan ketrampilan guru dalam mengelola dan menggunakan media pembelajaran.[8]
           
Supervisi pembelajaran berfungsi untuk memperbaiki situasi pembelajaran  melalui pembinaan profesionalisme guru. Briggs yang dikutip Piet A. Suhertian menyebutkan fungsi supervisi sebagai upaya mengkoordinir, menstimulir, dan mengarahkan pertumbuhan para guru.[9]                           
Sejalan dengan itu, Jamal menjelaskan bahwa supervisi pendidikan mempunyai tiga fungsi, di antaranya adalah sebagai berikut:
a.    Sebagai suatu kegiatan menyangkut untuk meningkatkan mutu pendidikan.
b.    Sebagai pemicu atau penggerak terjadinya perubahan pada unsur-unsur yang terkait dengan pendidikan.
c.    sebagai kegiatan dalam hal memimpin dan membimbing.[10]

Maryono menambahkan bahwa fungsi utama supervisi pendidikan adalah ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran, menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik, mengoordinasi, menstimulasi, dan mendorong ke arah pertumbuhan profesi guru.[11] Sejalan dengan itu, Suharsimi Arikunto mengungkapkan bahwa supervisi berfungsi sebagai kegiatan meningkatkan mutu pembelajaran, sebagai pemicu atau penggerak terjadinya perubahan pada unsur-unsur yang terkait dengan pembelajaran, dan sebagai kegiatan memimpin dan membimbing.[12]
           
Setiap pengawas pendidikan harus memahami dan mampu melaksanakan supervisi dengan fungsi dan tugas pokoknya baik yang menyangkut pemantauan, penilaian, penelitian, perbaikan maupun pengembangan. Dalam pelaksanaannya, fungsi-fungsi tersebut harus dilakukan secara simultan, konsisten dan kontinyu dalam suatu program supervisi, sebagai inti kegiatan supervisi adalah mengintegrasikan fungsi-fungsi tersebut kedalam tugas pembinaan terhadap pribadi guru yang disupervisi.

Supervisi akademik dilaksanakan atas dasar kerjasama, partisipasi dan kolaborasi dan tidak bersadarkan paksaan, sehingga diharapkan timbul kesadaran serta perkembangan, inisiatif dan kreativitas dari pihak guru  dan bukan konfirmatis.
Jadi supervisi berarti memberi bimbingan, pembinaan, dan membantu guru meningkatkan kreativitas dan potensi secara optimal. Apabila fungsi-fungsi supervisi ini benar-benar dikuasai dan dijalankan sebaik-baiknya oleh pengawas, maka dapat dipastikan kelancaran kegiatan pendidikan di sekolah berlangsung baik sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.

B. Prinsip-Prinsip Supervisi

Lembaga Administerasi Negara RI merinci prinsip kerja pelaksanaan pengawasan dengan poin-poin sebagai berikut:
1.    Prinsip kesisteman: pengawasan ditujukan untuk mengahasilkan good govermance sehingga harus memperhatikan keseluruhan komponen secara sistematik.
2.    Prinsip akuntabilitas: segala yang di tugaskan meminta pertanggungjawaban dari setiap orang yang diserahi tanggungjawab dalam pelaksanaan tugasnya.
3.    Prinsip organisasi: tugas manajeman ada pada setiap level organisasi dan pengawasan merupakan tugas setiap pimpinan yang berada pada organisasi sesuai dengan tugas pokok fungsinya masing-masing.
4.    Prinsip koordinasi:pengawasan dilakukan dengan memperhatikan pengaturan kerjasama yang baik antar komponen. Setiap bagian memiliki tugas fungsi masing-masing, akan tetapi untuk menjaga sinergitas sistem, tiap bagian harus dapat mewujudkan kegiatan terpadu dan selaras dengan tujuan organisasi melalui koordinasi yang baik.
5.    Prinsip komunikasi: pengawasan menjadi sarana hubungan antara pusat dengan daerah, pimpinan dengan bawahan sehingga perlu dikembangkan  komunikasi yang intensif dan empatik agar kerjasama terus berlanjut secara harmonis.[13]
6.    Prinsip pengendalian: pengawasan menjadi sarana mengarahkan dan membimbing secara teknis administratif maupun memecahkan persoalan kerja agar tercapai efektivitas kerja.
7.    Prinsip integritas: merupakan kepribadian pengawas yang melaksanakan pengawasan dengan mentalitas yang baik penuh kejujuran, simpatik, tanggung jawab, cermat, dan konsisten.
8.    Prinsip objektivitas; melaksanakan pengawasan dengan berdasarkan keahlian secara profesional tidak terpengaruh secara subjektif oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
9.    Prinsip futuristik: pengawasan harus dapat memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan dan sadar betul apa yang di perbuat akan menentukan masa depan sehingga ia menghindari penyim-pangan-penyimpangan atau kebocoran karena akan menjadi bumerang bagi masa depan.
10.     Prinsip preventif ; pengawasan dilakukan agar penyimpangan-penyimpangan dapat  dicegah dan kalaupun terjadi dapat dideteksi secara dini sehingga penyelesainnya dapat cepat teratasi.
11.     Prinsip represif; bila terjadi penyimpangan dan kebocoran, pengawas harus tegas dengan menegakkan sanksi/ hukuman sesuai peraturan yang berlaku.
12.     Prinsip edukatif : kesalahan/ penyimpangan dan kebocoran, yang dilakukan segera diperbaiki dan dilakukan saran yang membangun kepercayaan diri agar tidak terulang kembali kesalahan untuk kedua kalinya.
13.     Prinsip korektif; kesalahan penyimpangan/ kebocoran yang dilakukan dengan cara-cara yang benar, waktu yang tepat dan penuh perhitungan sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara ekonomis, efesien, dan efektif.[14]
           
Para pengawas/kepala sekolah baik suka maupun tidak suka harus siap menghadapi problema dan kendala dalam melaksanakan supervisi akademik. Adanya problema dan kendala tersebut sedikit banyak dapat diatasi apabila dalam pelaksanaan supervisi akademik pengawas/kepala sekolah menerapkan prinsip-prinsip supervisi akademik.
           
Akhir-akhir ini, beberapa literatur telah banyak mengungkapkan teori supervisi akademik sebagai landasan bagi setiap perilaku supervisi akademik. Beberapa istilah, seperti demokrasi, kerja kelompok, dan proses kelompok telah banyak dibahas dan dihubungkan dengan konsep supervisi akademik. Pembahasannya semata-mata untuk menunjukkan kepada kita bahwa perilaku supervisi manajerial dan akademik itu harus menjauhkan diri dari sifat otoriter, di mana supervisor sebagai atasan dan guru sebagai bawahan.

Begitu pula dalam latar sistem persekolahan, keseluruhan anggota ( guru ) harus aktif berpartisipasi, bahkan sebaiknya sebagai prakarsa, dalam proses supervisi akademik, sedangkan supervisor merupakan bagian daripadanya. Semua ini merupakan prinsip-prinsip supervisi akademik modern yang harus direalisasikan pada setiap proses supervisi akademik di sekolah.

C. Pendekatan Supervisi Pendidikan

1.    Pendekatan Supervisi Langsung (Directive Approach)
Pendekatan supervisi langsung (directive approach) adalah pendekatan yang didasarkan pada keyakinan bahwa proses pembelajaran dilihat sebagai rangkaian yang utuh. Ibarat sebuah rangkaian nada yang harmonis, bila ada suatu bagian nada yang terganggu terdengar sumbang, maka seluruh nada  juga akan terganggu.

Perilaku direktive dalam pelaksanaan supervisi dilandasi psikologi behavioristik tentang belajar. Pengawas bertindak selaku pemeran utama dalam membimbing guru untuk perbaikan pembelajaran.

Pendekatan lansung adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung, sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan. Supervisor yang berorientasi directive menampilkan perilaku-perilaku pokok sebagai berikut:
a.    Supervisor mengklarifikasi permasalahan.
b.    Supervisor mempresentasikan ide-ide pengembangan profesi kepada guru.
c.    Supervisor mengarahkan gur tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk perbaikan pembelajaran.
d.    Supervisor mendemontrasikan (memodelkan) perilaku guruyang diinginkan dalam pembelajaran.
e.    Supervisor menetapkan standar perilaku mengajar yang diinginkan.
f.     Supervisor memberikan reward bagi yang tampil sesuai standar.[15]

Menurut Nana Sudjana membagi pendekatan supervisi menjadi dua, yaitu: pendekatan langsung (direct contact) dan pendekatan tidak langsung (indiret contact).[16] Pendekatan pertama dapat disebut dengan pendekatan tatap muka dan Kedua pendekatan menggunakan perantara, seperti melalui surat menyurat, media masa, media elektronik, radio, kaset, internet dan yang sejenis.

Pendekatan langsung ini berdasarkan pada pemahaman terhadap psikologis behavioristis. Prinsip behavioristisme ialah bahwa segala perbuatan berasal dari refleks, yaitu respons terhadap ransangan/stimulus.

Oleh karena guru memiliki kekurangan, maka perlu diberikan rangsangan agar ia bisa bereaksi lebih baik. Supervisor dapat menggunakan penguatan (reinforcement) atau hukum (punishment). Pendekatan seperti ini dapat dilakukan, dengan perilaku supervisor dengan cara: menjelaskan, menyajikan, mengarahkan, memberi contoh, menerapakan tolok ukur, dan menguatkan.
Pendekatan langsung dan metode standar diterapkan pada guru yang termasuk kategori lemah.

Pendekatan langsung terdiri:
a.    Pendekatan langsung yang bersumber dari psikologi behaviorisme adalah lawan dari pendekatan tidak langsung. Pendekatan langsung ini tidak memberi peluang bagi guru untuk berinisiatif, kreatif, dan inovatif dalam melakukan tugas sehari-hari. Sebab supervisor merasa peluang seperti itu tidak akan dapat dimanfaatkan dan diisi oleh guru lemah ini, karena kemampuan dan komitmen guru ini sangat rendah. Atas dasar kondisi guru seperti ini, maka supervisor merasa cukup hanya dengan memberi resep tentang perilaku atau tindakan tertentu kepada guru dalam kegiatan-kegiatan yang ia hadapi pada tugas sehari-hari.

b.    Metode yang diterapkan pada guru lemah ini disebut metode standar, maksudnya adalah resep-resep berupa perilaku dan tindakan guru yang disdorkan oleh superisor tersebut adalah bersifat standar. Suatu standar yang berlaku secara nasional atau sesuai dengan keadaan daerah bersangkutan. Di sini petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh supervisor secara langsung kepada guru yang di supervisi sebagian besar sejalan dengan peraturan pemerintah pusat maupun daerah. Kalau perilaku tindakan itu tidak ada tertulis dalam peraturan itu, maka petunjuk-petunjuk atau resep itu dapat dia,mbilkan dari teori-teori yang tertulis dalam kepustakaan atau sesuai dengan atau budaya daerah setempat.[17]

Menurut penulis berkesimpulan tentang directive approach (Pendekatan supervisi Langsung) adalah mengarahkan dan memberi petunjuk kepada guru. Atau supervisi langsung memberi resep tentang cara memperbaiki kesalahan guru. Atau mengatasi kesulitannya.

2.  Pendekatan Supervisi Tidak Langsung (Non Directive Approach)

Pendekatan supervisi tidak langsung (Non Direktif) adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor tidak secara langsung menunjukkan permasalahan, tetapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan oleh guru
Pendekatan supervisi tidak langsung (Non Directive Approach) adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor tidak secara langsung menunjukkan permasalahan, tetapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan oleh guru. Ia memberi kesempatan sebanyak mungkin kepada guru untuk mengemukakan permasalahan yang mereka alami.

Pendekatan tidak langsung ini berdasarkan pada pemahaman psikologis humanistik. Psikologi sangat menghargai orang yang akan dibantu. Oleh karena pribadi guru yang dibina begitu dihormati, maka ia lebih banyak mendengarkan permasalahan yang dihadapi guru. Guru mengemukakan masalahnya, supervisor mencoba mendengarkan, dan memahami apa yang dialami. Perilaku supervisor dalam pendekatan tidak langsung adalah mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah.[18]

Perilaku pengawas yang berorientasi non-directive dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a.    Supervisor mendegarkan masalah guru dengan serius.
b.    Supervisor memotivasi guru untu menyederhanakan dan bertanya.
c.    Supervisor mengajukan pertanyaan kemudian menjelaskan masalah-masalah guru.
d.    Supervisor mengupayakan alternatif pemecahan masalah saat guru bertanya atau meminta solusi.
e.    Supervisor bertanya kepada guru untuk menentukan rencana tindakan pengembangan diri atau profesi.[19]

Menurut penulis tentang Non Directive Approach adalah supervisor memberi kebebasan kepada guru untuk membuat atau mencarai pemecahan terhadap kesulitan-kesulitan dalam kelas pada waktu membina peserta didik, atau mendengarkan, tidak memberikan pertimbangan, membuktikan kesadaran guru, dan mengklasifikasi pengalaman guru.

3.  Pendekatan Supervisi Kolaborasi (Colaborative Approach)

Pendekatan supervisi kolaboratif (Colaborative Approach) adalah  pendeka­tan yang memadukan cara pendekatan  langsung dan pendekatan tidak langsung menjadi suatu cara pendekatan baru. Pada pendekatan  dengan lingkungan ini, baik supervisor maupun guru bersama-sama bersepakat untuk menetapkan struktur proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Pendekatan ini didasarkan pada psikologi kognitif. Psikologi kognitif beranggapan bahwa belajar adalah perpaduan antara kegiatan individu dengan lingkungan yang pada gilirannya akan berpengaruh dalam pembentukan aktivitas individu. Sikap utama supervisor dengan perilaku kolaboratif meliputi: mendengarkan, menawarkan, memecahkan masalah dan merundingkan. Pengawas membuat kontrak bersama dengan guru setelah terjadi kesepakatan rencana supervisi yang disusun bersama.

Tahapan-tahapan supervisi dengan perilaku kolaboratif adalah sebagai berikut:
a.    Supervisor menemui guru dengan menawarkan model atau strategi pembelajaran yang perlu diperbaiki.
b.    Supervisor menanyakan pendapat guru tentang tujuan pelaksanaan supervisi.
c.    Supervisor mendengarkan pandangan guru.
d.    Supervisor dan guru mengajukan altrnatif pemecahan masalah.
e.    Supervisor bersama guru membahas tindakan dan menetapkan rencana bersama.[20] 
Berdasarkan definisi di atas maka  penulis memahami bahwa  colaborative approach (Pendekatan supervisi kolaborasi) adalah kerjasama antara guru dan supervisor yang dilakukan dalam banyak hal, untuk memajukan dan membantu   dalam meningkatkan mutu pendidikan.

II.    PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, maka penulis dapat menyimpukan beberapa hal, sebagai berikut:
1.    Fungsi supervisi pendidikan adalah untuk memperbaiki situasi pembelajaran  melalui pembinaan profesionalisme guru, serta sebagai upaya mengkoordinir, menstimulir dan mengarahkan pertumbuhan para guru.

2.    Prinsip-prinsip dalam supervisi pendidikan harus menjauhkan diri dari sifat otoriter, keseluruhan anggota harus aktif berpartisipasi, bahkan sebaiknya sebagai prakarsa, dalam proses supervisi akademik, semua ini merupakan prinsip-prinsip supervisi akademik modern yang harus direalisasikan pada setiap proses supervisi akademik di sekolah-sekolah.

3.    Pendekatan supervisi pendidikan dalam proses pembelajaran ada 3 pendekatan  yaitu:
a.       Pendekatan Supervisi Langsung (Direktif Approach), yaitu dalam pelaksanaan supervisi dilandasi psikologi behavioristik tentang pembelajaran. Supervisor bertindak selaku pemeran utama dalam membimbing guruuntuk perbaikan pembelajaran.
b.      Pendekatan Tidak Langsung (NonDirektif Approach), yaitu dalam pelaksanaan supervisi dilandasi psikologi humanistik bahwa guru dapat menganalisis dan memecahkan masalah pembelajarannya sendiri dan supervisor hanya sebagai fasilitator.
c.       Pendekatan Kolaboratif (Colaborative Approach), yaitu dalam pelaksanaan supervisi dilandasi psikologi belajar kognitif, bahwa dalam melakukan supervisi mengambil jawab yang bersifat moderat antara supervisor dan guru.
 

B. Implikasi
Pelaksanaan supervisi agar dapat berjalan sesuai dengan harapan dari yang disupervisi, maka tentunya seorang supervisor senantiasa menjaga hubungan keakraban dan rasa cinta serta membangun hubungan kekeluargaan dengan para guru. Seorang supervisor harus mempunyai wawasan yang memadai tentang kepengawasan, ditunjang juga oleh perilaku yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Arwani, Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan, Cet. IV; Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Masaong, Abd. Kadim. Supervisi Pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas Guru, Cet. I; Bandung: Alfabeta, 2012
Muslim, Sri Banun. Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru, Cet. II; Bandung: Alfabeta, 2010.
Departemen Agama RI, Peningkatan Supervisi dan Evaluasi pada Madarasah Ibtidayah, Cet. I; Jakarta: Depag, 2005.
Danim Sudarwan, Visi Baru Manajemen Sekolah, Profesi Kependidikan, Cet. I; Bandung : Alfabeta, 2010.
Echos, Jhon M. dan Hasan Shadily. Kamus Bahasa Inggris-Indoensia, Jakarta; Gramedia, 2010.
Pidarta, Made. Supervisi Pendidikan Kontekstual, Cet. I; Jakarta: Rineca Cipta, 2009.
Sudjana, Nana. Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan, Cet. I;Bandung: Alfabeta, 2011.
Suhertian, Piet A. Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan, Cet. I;Bandung: Alfabeta, 2011.
Sagala, Syaiful.  Adminstrasi Pendidikan Kontemporer, Cet., V; Bandung: Alfabeta, 2009.
Tim Dosen, Adminitrasi Pendidikan , Manajemen Pendidikan, Cet. IV; Bandung: Alfabeta, 2011

Demikianlah beberapa contoh makalah yang membahas mengenai konsep dasar supervisi pendidikan mulai dari tujuan supervisi pendidikan, lalu prinsip supervisi pendidikan, kemudian fungsi supervise pendidikan, serta peranan supervisi pendidikan dan juga objek supervisi pendidikan.

Seperti yang saya katakana sebelumnya, tujuan saya membagi 3 contoh makalah ini yaitu agar dari beberapa contoh makalah tersebut, kamu dapat membuat sebuah makalah mengenai konsep dasar supervisi yang lebih baik. Terimakasihh

Sumber:
http://suryanagarahamida.blogspot.co.id/2014/01/konsep-dasar-supervisi-pendidikan.html
https://zaenalelizzy.wordpress.com/
http://ekosujadi-bintan.blogspot.co.id/2011/04/konsep-dasar-supervisi-pendidikan-ii.html

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Tujuan Prinsip Fungsi Peranan dan Objek"

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca