Pengertian Kepribadian Guru Pendidikan Agama Islam Menurut Ahli

Pengertian Kepribadian Guru Pendidikan Agama Islam 
Kepribadian merupakan terjemahan dari personality (Inggris), personnalita (Prancis); personalita (Italia). Akar kata masing-masing sebutan itu berasal dari kata Latin “persona” yang berarti “topeng” yaitu topeng yang dipakai oleh aktor drama atau sandiwara. Dalam bahasa Arab kontemporer kepribadian ekuivalen dengan istilah syakhshiyyah (pribadi).

Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk menggambarkan identitas diri, jati diri seseorang, kesan umum seseorang tentang individu atau orang lain, dan fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah, seperti “dia baik” atau “dia pendendam”.2Kepribadian tidak bisa hanya dinilai dari perbuatan saja tetapi juga melibatkan segala yang melekat pada pribadi manusia.

Guru adalah orang yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak mencapai kedewasaan masing-masing. Guru bukanlah sekedar orang yang berdiri di depan kelas menyampaikan materi pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat yang harus ikut aktif dalam berjiwa besar serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa.

Guru dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa). Guru Pendidikan Agama Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik terutama dalam hal bidang Agama Islam dan guru Pendidikan Agama Islam berusaha mengeksplor seluruh potensi yang dimiliki siswa dalam menguasai materi Pendidikan Agama Islam baik dari potensi afektif, kognitif dan psikomotorik.

Aspek-Aspek Kepribadian
Kepribadian dapat juga diartikan sebagai kualitas perilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan secara unik. Keunikan penyesuaian tersebut sangat berkaitan dengan aspek-aspek kepribadian itu sendiri, yaitu meliputi hal-hal berikut:
  1. Karakter, yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten atau teguh tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
  2. Temperamen, yaitu disposisi reaktif seseorang, atau cepat/lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
  3. Sikap, sambutan terhadap objek (orang, benda, peristiwa, norma, dan sebagainya) yang bersifat positif atau ambivalen (ragu-ragu).
  4. Stabilitas emosional, yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan, seperti: mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih atau putus asa.
  5. Responsibilitas (tanggung jawab), yaitu kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan dan perbuatan yang dilakukan, seperti: mau menerima resiko secara wajar atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
  6. Sosiabilitas, yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Disposisi ini seperti tampak dalam sifat pribadi yang tertutup atau terbuka; dan berkemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Dalam diri manusia terdapat elemen jasmani sebagai struktur biologis kepribadiannya dan elemen ruhani sebagai struktur psikologis kepribadiannya. Sinergi kedua elemen ini disebut dengan nafsani yang merupakan struktur psikofisik kepribadian manusia. Struktur nafsani memiliki tiga daya, yaitu:
  1. Qalbu yang memiliki fitrah ketuhanan (Ilahiyah) sebagai aspek supra-kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya emosi (rasa)
  2. Akal yang memiliki fitrah kemanusiaan (insaniah) sebagai aspek kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya kognisi(cipta)
  3. Miliki fitrah kehewanan (haya waniyyah) sebagai aspek pra atau bawah kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya konasi (karsa).
Ketiga komponen fitrah ini berintegrasi untuk mewujudkan suatu tingkah laku.6Ketiga kompenen tersebut saling berhubungan dan membentuk kepribadian apakah itu menjadi kepribadian yang baik atau malah sebaliknya membentuk kepribadian yang buruk.

Kepribadian Guru yang Ideal
Esensi pembelajaran adalah perubahan perilaku. Guru akan mampu mengubah perilaku peserta didik jika dirinya telah menjadi manusia baik. Pribadi guru harus baik karena inti pendidikan adalah perubahan perilaku, sebagaimana makna pendidikan adalah proses pembebasan peserta didik dari ketidakmampuan, ketidakbenaran, ketidakjujuran, dan dari buruknya hati, akhlak, dan keimanan. Oleh karena itu guru harus memiliki kepribadian yang ideal.Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan di dalamTeori Kepribadian mengutip kalimat E.B Hurlock yang mengemukakan bahwa karakteristik penyesuaian yang sehat atau kepribadian yang sehat ditandai dengan:
  1. Mampu menilai diri secara realistik, menilai diri apa adanya;
  2. Mampu menilai situasi secara realistik;
  3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik;
  4. Menerima tanggung jawab;
  5. Kemandirian (autonomy);
  6. Dapat mengontrol emosi;
  7. Berorientasi tujuan;
  8. Berorientasi keluar;
  9. Penerimaan sosial;
  10. Memiliki filsafat hidup; dan
  11. Berbahagia.
Adapun kepribadian yang tidak sehat ditandai dengan karakteristik seperti berikut:
  1. Mudah marah (tersinggung);
  2. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan;
  3. Sering merasa tertekan (stres atau depresi);
  4. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang;
  5. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum;
  6. Mempunyai kebiasaan berbohong;
  7. Hiperaktif;
  8. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas;.
  9. Senang mengkritik /mencemooh orang lain;
  10. Sulit tidur;
  11. Kurang memiliki rasa tanggung jawab;
  12. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan bersifat organis);
  13. Kurang memiliki kesadaran untuk menaati ajaran agama;
  14. Bersikap pesimis dalam menghadapi kehidupan; dan
  15. Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan.
Di dalam buku Seluk Beluk Pendidikan dari Al-GhazaliAl-Ghazali mengemukakan syarat-syarat kepribadian seorang pendidik sebagai berikut:
1. Sabar menerima masalah-masalah yang ditanyakan murid dan harus diterima baik.
2. Senantiasa bersifat kasih dan tidak pilih kasih.
3. Jika duduk harus sopan dan tunduk, tidak riya.
4. Tidak takabur, kecuali terhadap orang yang dzalim, dengan maksud mencegah dari tindakannya.
5. Bersifat tawadhu’ dalam pertemuan-pertemuan.
6. Sikap dan pembicaraan tidak main-main.
7. Menanamkan sifat bersahabat didalam hatinya terhadap semua murid-murid.
8. Menyantuni serta tidak membentak-bentak orang-orang yang kemampuan belajarnya rendah.
9. Membimbing dan mendidik murid yang kemampuan belajar rendah dengan cara yang sebaik-baiknya.
10. Berani berkata: saya tidak tahu, terhadap masalah yang tidak dimengerti.
11. Menampilkan hujjah yang benar, apabila ia berada dalam hak yang salah, bersedia kembali kepada kebenaran.

Nabi Muhammad saw. adalah sosok yang telah memenuhi semua sifat dan syarat seseorang guru yang telah ditetapkan oleh para ahli pendidikan An-Nahlawi misalnya, menetapkan sepuluh sifat dan syarat bagi seorang guru yaitu:
  1. Harus memiliki sifat rabbani artinya seorang guru harus mengaitkan dirinya kepada Allah swt. melalui ketaatan pada syariatnya.
  2. Harus menyempurnakan sifat rabbaniahnya dengan keikhlasan, artinya aktivitas pendidikan tidak hanya untuk sekedar menambah wawasan melainkan lebih dari itu harus ditunjukan untuk meraih keridhaan Allah swt.serta mewujudkan kebenaran. 
  3. Harus mengajarkan ilmunya dengan sabar.
  4. Harus memiliki kejujuran artinya yang diajarkan harus sesuai dengan yang dilakukan.
  5. Harus berpengatahuan luas dibidangnya.
  6. Harus cerdik dan trampil dalam menciptakan metode pengajaran yang sesuai dengan materi.
  7. Harus mampu bersikap tegas dan meletakan sesuatu sesuai dengan proporsinya.
  8. Harus memahami anak didik baik karakter maupun kemampuannya.
  9. Harus peka terhadap fenomena kehidupan.
  10. Harus bersikap adil terhadap seluruh anak didik.
Oleh sebab itu menjadi guru tidak hanya dituntut untuk menguasai materi ataupun menguasai metode mengajar, tetapi guru juga dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik. karena siswa belajar tidak hanya dari materi pelajaran tetapi mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat sosok guru mereka dan bentuk nyata yang mereka lihat dari gurunya dari kepribadian guru lah siswa belajar.

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.(QS.An-Nisa : 58)

Begitulah amanah yang diemban oleh seorang pendidik, terutama dari orang tua yang mempercayai untuk mendidik anaknya menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Apa lagi siswa pada tingkat SD sampai SMA adalah anak yang berada pada masa pertumbuhan dan mencari jati diri mereka dan mencari teladan dirinya, dan guru termasuk salah satu contoh atau teladan yang dipilih oleh siswa untuk membentuk jati dirinya dan karakternya. Apalagi seorang guru Pendidikan Agama Islam yang lebih banyak menjadi panutan karena tidak terlepas dari syariat Islam.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Kepribadian Guru Pendidikan Agama Islam Menurut Ahli"

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca