Pengertian Dan Tinjauan Tentang Karakter Religius Menurut Ahli

Pengertian Dan Tinjauan Tentang Karakter Religius 
Pengertian Karakter Religius 
Kata dasar dari religius adalah religi yang berasal dari bahasa asing religion sebagai bentuk dari kata benda yang berarti agama atau kepercayaan akan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia. Sedangkan religius berasal dari kata religious yang berarti sifat religi yang melekat pada diri seseorang. Religius sebagai salah satu nilai karakter dideskripsikan oleh Suparlan sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini siswa diharapkan mampu memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan buruk yang di dasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama.

Agama dalam kehidupan pemeluknya merupakan ajaran yang mendasar yang menjadi pandangan atau pedoman hidup. Pandangan hidup ialah “konsep nilai yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang mengenai kehidupan”. Apa yang dimaksut nilai-nilai adalah sesuatu yang dipandang berharga dalam kehidupan manusia, yang mempengaruhi sikap hidupnya. Pandangan hidup (way of life, worldview) merupakan hal yang penting dan hakiki bagi manusia, karena dengan pandangan hidupnya memiliki kompas atau pedoman hidup yang jelas di dunia ini. Manusia antara satu dengan yang lain sering memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda seperti pandangan hidup yang berdasarkan agama misalnya, sehingga agama yang dianut satu orang berbeda dengan yang dianut yang lain. 

Pandangan hidup yang mengandung nilai-nilai yang bersumber dan terkait dengan: 
a. Agama, sebagai system kayakinan yang mendasar, sakral, dan menyeluruh mengenai hakikat kehidupan yang pusatnya ialah keyakinan Tuhan. 
b. Ideologi, sebagai sistem paham yang ingin menjelaskan dan melakukan perubahan dalam kehidupan ini, terutama dalam kehidupan social-politik. 
c. Filsafat, sistem berpikir yang radikal, spekulatif, dan induk dari pengetahuan. 

Pandangan hidup manusia dapat diwujudkan atau tercermin dalam cita-cita, sikap hidup, keyakinan hidup dan lebih konkrit lagi perilaku dan tindakan. Pandangan hidup manusia akan mengarah orientasi hidup yang bersangkutab dalam menjalani hidup di dunia ini. Bagi seorang muslim misalnya, hidup itu berasal dari Allah Yang Maha Segala-galanya, hidup tidak sekedar di dunia tetapi juga di akhirat kelah. Pandangan hidup muslim berlandaskan tauhid, ajarannya bersumber pada al-Qur‟an dan Sunnah Nabi, teladannya ialah Nabi, tugas dan fungsi hidupnya adalah menjalankan ibadah dan kekhalifaan muka bumi, karya hidupnya ialah amalan shaleh, dan tujuan hidupnya ialah meraih karunia dan ridha Allah.

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini agama memiliki posisi dan peranan yang sangat penting. Agama dapat berfungsi sebagai fakyor motivasi (pendorong untuk bertindak yang benar, baik, etis, dan maslahat), profetik (menjadi risalah yang menunjukan arah kehidupan), kritik (menyuruh pada yang ma‟ruf dan mencegah dari yang mungkar), kreatif (mengarahkan amal atau tindakan yang menghasilkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain), intergratif (menyatukan elemen-elemen yang rusak dalam diri manusia dan masyarakat untuk menjadi lebih baik), sublimatif (memberikan proses penyucian diri dalam kehidupan), dan liberatif (membebaskan manusia dari berbagai belenggu kehidupan).nmanusia yang tidak memiliki pandangan hidup, lebih-lebih yang bersumber agama, iabarat orang buta yang berjalan di tengah kegelapan dan keramaian: tidak tahu dari mana dia datang, mau apa di dunia, dan kemana tujuan hidup yang hakiki. 

Karena demikian mendasar kehidupan dan fungsi agama dalam kehidupan manusia maka agama dapat dijadikan nilai dasar bagi pendidikan, termasuk pendidikan karakter, sehingga melahirkan model pendekatan pendidikan berbasis agama. Pendidikan karakter yang berbasis pada agama merupakan pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai berdasarkan agama yang membentuk pribadi, sikap, dan tingkah laku yang utama atau luhur dalam kehidupan. Dalam agama islam, pendidikan karakter memiliki kesamaan dengan pendidikan akhlak. Istilah akhlak bahkan sudah masuk dalam bahasa indonesia yaitu akhlak. Akhlak (dalam bahasa Arab: al-akhlak) menurut Ahamad Muhammad Al-Hufy dalam “Min Akhlak al-Nabiy”, ialah “azimah (kemauan) yang kuat tentang sesuatu yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi adat (membudaya) yang mengarah pada kebaikan atau keburukan”. Karena itu, dikenalkan adanya istilah “akhlak yang mulia atau baik” (akhlak al-karimah) dan “akhlak yang buruk” (al-akhlak al-syuu). 

Ajaran tentang akhlak dalam Islam sangatlah penting sebagaimana ajaran tentang aqidah (keyakinan), ibadah, dan mu‟amalah (kemasyarakat). Nabi akhiru zaman, Muhammad s.a.w, bahkan diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, “innamaa buitstu li-utannima makaarim al-akhlak”. Menyempurnakan aklak manusia berarti meningkatkan akhlak yang sudah baik menjadi lebih baik dan mengikis akhlak yang buruk agar hilang serta diganti oleh akhlak yang mulia. Itulah kemuliaan hidup manusia sebagai makhluk Allah yang utama. Betapa pentingnya membangun akhlak sehingga melekat dengan kerisalahan Nabi. 

Macam-macam Nilai Religius 
Landasan religius dalam pendidikan merupakan dasar yang bersumber dari agama. Tujuan dari landasan religius dalam pendidikan adalah seluruh proses dan hasil dari pendidikan dapat mempunyai manfaat dan makna hakiki. Agama memberikan dan mengarahkan fitrah manusia memenuhi kebutuhan batin, menuntun kepada kebahagiaan dan menunjukkan kebenaran.

Pendidikan agama dan pendidikan karakter adalah dua hal yang saling berhubungan. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter di Indonesia diidentifikasikan berasal dari empat sumber yaitu, agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Agama menjadi sumber kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa yang selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan didasari pada nilai agama. Sehingga nilai pendidikan karakter harus didasarkan pada nilai dan kaidah dari agama. Pancasila sebagai prinsip kehidupan bangsa dan negara, nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila mengatur kehidupan politik, hokum, ekonomi, kemasyarakatan dan seni. Sedangkan budaya menjadi dasar dalam pemberian makna dalam komunikasi antar anggota masyarakat. 

Budaya menjadi penting karena sebagai sumber nilai dalam pendidikan budaya dan pendidikan karakter bangsa. Sedangkan tujuan dari pendidikan nasional menurut UU. No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, betujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.

Menurut Zayadi, sumber nilai yang berlaku dalam kehidupan manusia digolongkan menjadi dua macam yaitu:

a. Nilai ilahiyah
Nilai ilahiyah adalah nilai yang berhubungan dengan ketuhanan atau habul minallah, dimana inti dari ketuhanan adalah keagamaan. 

Kegiatan menanamkan nilai keagamaan menjadi inti kegiatan pendidikan. Nilai-nilai yang paling mendasar adalah: 
1) Iman, yaitu sikap batin yang penuh kepercayaan kepada Allah. 
2) Islam, yaitu sebagai kelanjutan dari iman, maka sikap pasrah kepada-Nya dengan menyakini bahwa apapun yang datang dari Allah mengandung hikmah kebaikan dan pasrah kepada Allah. 
3) Ihsan, yaitu kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa Allah senantiasa hadir atau berada bersama kita di manapun kita berada. 
4) Taqwa, yaitu sikap menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. 
5) Ikhlas, yaitu sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan tanpa pamrih, semata-mata mengharapkan ridho dari Allah. 
6) Tawakal, yaitu sikap yang senantiasa bersandar kepada Allah, dengan penuh harapan kepada Allah. 
7) Syukur, yaitu sikap dengan penuh rasa terimakasih dan penghargaan atas ni‟mat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah. 
8) Sabar, yaitu sikap batin yang tumbuh karena kesadaran akan asal dan tujuan hidup yaitu Allah. 

b. Nilai insaniyah 
Nilai insaniyah adalah nilai yang berhubungan dengan sesama manusia atau habul minanas yang berisi budi pekerti. Berikut adalah nilai yang tercantum dalam nilai insaniyah: 
1) Silaturahim, yaitu petalian rasa cinta kasih anata sesama manusia. 
2) Al-Ukhuwah, yaitu semangat persaudaraan. 
3) Al-Musawah, yaitu pandangan bahwa harkat dan martabat semua manusia adalah sama. 
4) Al-Adalah, yaitu wawasan yang seimbang. 
5) Husnu Dzan, yaitu berbaik sangka kepada sesama manusia 
6) Tawadlu, yaitu sikap rendah ahti. 
7) Al-Wafa, yaitu tepat janji. 
8) Insyirah, yaitu lapang dada. 
9) Amanah, yaitu bisa dipercaya. 
10) Iffah atau ta’afuf, yaitu sikap penuh harga diri, tetapi tidak sombong tetap rendah hati. 
11) Qawamiyah, yaitu sikap tidak boros. 
12) Al-Munfikun, yaitu sikap kaum beriman yang memiliki kesediaan yang besar menolong sesama manusia. 

Tahap Perkembangan Religius 
Tahap perkembangan religius yang di kembangkan Moran seperti dikutip M.I Soelaeman sebagaimana dijelaskan berikut: 

a) Anak-anak 
Dunia religius anak masih sangat sederhana sehingga disebut juga dengan the simply religious.pada saat itu anak memang belum dapat melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri, bahkan sampai kepada yang paling sederhanapun. Dalam banyak hal anak harus mempercayakan dirinya kepada pendidiknya. Sifat anak adalah mudah percaya dan masih bersifat reseptif. Dalam dunia yang menurutnya belum jelas strukturnya, kesempatan untuk bertualang dalam dunia fantasi masih terbuka, karena dia belum dapat mengenal secara jelas realita yang dihadapinya. Oleh karenanya pendidikan agama kepada anak seringnya dengan metode cerita. 

b) Remaja 
Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak menuju dewasa. Di samping perubahan biologis anak mengalami perubahan kehidupan psikologi dan kehidupan sosio-budayanya, dan yang lebih penting lagi dunia lainnya, dunia penuh penemuan dan pengalaman yang bahkan ditingkatkannya menjadi eksperimentasi. Tidak jarang dia mengahdapi ketidak jelasan, keraguan bahkan kadang-kadang seperti menemukan dirinya dalam dunia yang sama sekali baru dan asing. Dalam situasi seperti ini, tidak jarang dia harus terus menempuh langkahnya, yang kadang bersifat sejalan dan kadang-kadang berlawanan dengan apa yang telah terbiasa dilakukan sehari-hari, atau bahkan berlawanan dengan kebiasaan atau tradisi yang berlaku, sihingga dia tampak mementang dan menantang arus. Pada saat ini dia memulai aktifitas penemuan sistem nilai, adakalanya dia suka mencoba-coba, bereksperimen seberapa jauh keberlakuan nilai tersebut. Karena perkembangan penalaran, pengalaman dan pendidikannya yang sudah memungkinkan untuk berpikir dan menimbang, bersikap kritis terhadap persoalan yang dihadapinya, maka tidak jarang dia menunjukkan sikap sinis terhadap pola tingkah laku atau nilai yang tidak setuju. Pada saat ini orang tua dan pendidik pada umumnya perlu mengundangnya memasuki dunia religius dan menciptakan situasi agar dia betah mendiaminya. Dengan bimbingan orang tua atau pendidikanya, dengan tingkat kemampuan penalarannya, dengan tingkat kemampuan penyadaran akan nilai-nilai agama, kini dia mampu menganut suatu agama yang diakuinya. 

c) Dewasa 
Pada saat ini seseorang mencapai tahap kedewasaan beragama, yakni mampu merealisasikan agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari atas dasar kerelaan dan kesungguhan dan bukan halnya peluasan diluar. Pribadi yang rela dan sungguh-sungguh dalam keberagamaannya sehingga akan menerima dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama, maupun tugas hidupnya bukan sebagai sesuatu yang dibebankan dari luar, melainkan sebagai suatu sikap yang muncul dari dalam dirinya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Dan Tinjauan Tentang Karakter Religius Menurut Ahli"

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca