Pengertian Dan Tinjauan Tentang Pendidikan Karakter

Pengertian Dan Tinjauan Tentang Pendidikan Karakter 
Pengertian Karakter dan Pendidikan Karakter 
Dalam bahasa arab karakter diartikan ‘khulu, sajiyyah,thab’u’, (budipekerti, tabiat, atau watak. Kadang juga diartikan syahsiyah yang artinya lebih dekat dengan personality (kepribadian). 

Dalam kamus besar bahasa Indonesia menjelaskan bahwa karakter adalah sifat atau cirri kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak. Dengan demikian, karakter adalah cara berpikir dan berprilaku yang menjadi cirri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. 

Karakter adalah cara berpikir dan berprilaku yang menjadi cirri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. 

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan cara berpikir dan berprilaku yang menjadi cirri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun Negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang mampu membuat sesuatu keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang dibuatnya. 

Pendidikan karakter adalah gerakan nasional menciptakan sekolah yang membina etika, bertanggung jawab dan merawat orang-orang muda dengan pemodelan dan mengajarkan karakter baik melalui penekanan pada universal, nilai-nilai yang kita semua yakini. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (feeling), dan tindakan (action). 

Lahirnya pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivism yang dipelopori oleh filsuf Prancis Auguste Comte. Karakter merupakan titian ilmu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan tanpa landasan kepribadian yang benar akan menyesatkan dan ketrampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan.

Karakter akan membentuk motovasi, dan pada saat yang sama dibentuk dengan metode dan proses yang bermartabat. Karakter bukan sekadar penampilan lahiriah, melainkan secara implicit mengungkapkan hal-hal tersembunyi. Oleh karenanya, orang mendefinisikan, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika, meliputi aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. 

Tujuan Utama Pendidikan Karakter 
Jika di kaji secara intensif sebenarnya pendidikan karakter mengacu pada pendidikan agama yang bertajuk akhlakqul karimah. Akhlak berkaitan dengan ketakwaan manusia kepada Tuhan Yang Maha Karim, dalam rangka menuju pribadi yang taqwa. Masyarakat yang akhlaknya baik akan menjadi masyarakat yang damai, aman, dan tentrem. Demikian juga jika di sekolah tidak ada kerisauan (misalnya pencurian motor, perusakan atau pengambilan suku cadang motor oleh siswa sendiri, atau orang dalam sekolah) berarti ada gangguan akhlak di dalam sekolah itu. 

Adapun tujuan pendidikan karakter adalah: 
a. Mendorong kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengna nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. 
b. Meningkatkan kemampuan untuk menghindari sifat-sifat tercela yang dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan. 
c. Memupuk ketegaran dan kepekaan peserta didik terhadap situasi sekitar sehingga tidak terjerumus ke dalam perilaku yang menyimpang baik dalam individual maupun social. 
d. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai penerus bangsa. 

Dari penjelasan tujuan pendidikan karakter di atas, maka sangat jelas bahwa karakter itu sampai kapan pun diperlukan dalam langkah menopang pembangunan bangsa akan berjalan sempoyongan. Karakter yang telah tumbuh pada pribadi laki-laki dan perempuan adalah sama penting, sebagaimana telah dijelaskan oleh founding Father bangsa ini, Bung Karno bahwa laki-laki dan perempuan bagi sebuah bangsa adalah ibarat dua sayap burung yang sama-sama penting, jika salah satu sayap sakit maka akan tertatih-tatih terbangya burung itu. 

Menurut Kemendiknas, tujuan pendidikan karakter antara lain: 
a. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga Negara yang yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa; 
b. Mengembangkan kebiasaan dan prilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius; 
c. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. 
d. Mengembangkan kemampuan pesarta didik untuk menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan; 
e. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreatifitas dan persahabatan serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity) 

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa tujuan dari pendidikan karakter adalah membentuk, menanamkan, memfasilitasi, dan mengembangkan nilai-nilai positi pada anak sehingga menjadi pribadi yang unggul dan bermatabat. 

Model Pendidikan Karakter Berbasis Agama 
Pendidikan agama atau pendidikan berbasis agama sangatlah penting, lebih khusus untuk pendidikan karakter. Pendidikan agama merupakan proses transmisi pengetahuan yang diarahkan pada tumbuhnya penghayatan keagamaan yang akan memupuk kondisi ruhaniah yang mengandung kayakinan akan keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan segala ajaran yang diturunkan melalui wahyu kepada Rosulnya, dan keyakinan tersebut akan menjadi daya dorong bagi pengamalan ajaran agama dalam perilaku dan tindakan sehari-hari. Salah satu aspek dalam pendidikan agama atau pendidikan agama ialah pendidikan moralitas sangatlah penting, bahkan memiliki peraturan erat dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Salah satu tugas utama pendidikan ialah untuk membuat peserta didik dan atau masyarakat menjadi dewasa, mandiri, berwawasan, dan berbudaya luhur sesuai dengan nilai-nilai moral yang positif dan universal. 

Pendidikan islam yang berorentasi pada pembentukan karakter dapat dilakukan melalui banyak model. Pertama, model pesantern. Pesantren atau pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia berabad-abad lamanya. Pesantren yang diselenggarakan dalm kehidupan umat Islam beragam jenis dan coraknya, baik model lama (tradisioanal) maupun baru (modern) dari berbagai organisasi Islam yang tersebar di Indomesia. Dengan kelebihan dan kelemahannya, pendidikan model pesantren atau pondok pesantren memiliki keunggulan dalam pembimaam karakter karena santri atau siswa hidup 24 jam di lembaga pendidikan Islam ini di bawah bimbingan kyai, ustadz, dan para pendidik lainnya secara yaumiyah atau dari hari-kehari (day to day). Secara umum cirri pendidikan dalam lembaga pesanteren atau pondok pesantren ialah sebagai berikut:
(1) adanya hubungan yang akrab antara santri dengan kiyainya; 
(2) adanya kepatuhan santri kepada kyainya; 
(3) hidup hemat dan penuh kesederhanaan;
(4) kemandirian; 
(5) jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan; 
(6) kedisiplinan; 
(7) berani menderita untuk mencapai tujuan; 
(8) pemberian ijazah. 

Model kedua ialah Madrasah. Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang lebih modern, yang memadukan antara pendidikan pesantren dan sekolah, yang materinya mengitegrasikan agama dan pengetahuan umum. Madrasah diselenggaran dengan dua model, yakni model boarding school seperti halnya pesantren di mana siswa belajar dan hidup 24 jam di lembaga pendidikan ini sebagaimana di pesantren. Model kedua madrasah dengan pelaksanaan seperti halnya sekolah umum di mana siswa belajar dalam jam tertentu, tetapi kurikulumnya memadukan pendidikan pesantren dan sekolah umum. Dari system pendidikan madrasah ditekankan keseimbangan antara nilai-nilai keagamaan dan pengetahuan umum, sehingga melahirkan sosok manusia yang saleh secara kepribadian tetapi berpikir dan bersikap maju dalam memandang kehidupan. 

Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam berfungsi menghubungkan system lama dan system baru dengan jalan mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik dan dapat dipertahankan dan mengambil sesuatu yang baru dalam ilmu, teknologi, dan ekonomi yang bermanfaat bagi kehidupan umat Islam, sedangkan isi kurikulum madrasah pada umumnya sama dengan pendidikan di pesantren ditambah dengan ilmu-ilmu umum. Dengan model madrasah yang sama dengan pesantren, maka pendidikan karakter dapat dilakuakan sepanjang hari di lembaga pendidikan tersebut di bawah asuhan yang intensif, sementara madrasah yang sama dengan sekolah umum memberi peluang pendidikan karakter selama di sekolah diserahkan pada pihak sekolah setelah di luar menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan, yang penting terdapat proses yang intensif dan tepat sasaran dalam pendidikan karakter berbasis nilai-nilai agama. 

Ketiga, model sekolah umum. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal di Indonesia sebenarnya mirip dengan madrasah karena dalam sekolah-sekolah di negeri ini terdapat muatan pendidikan agama, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan, dan nilai-nilai budi pekerti lainnya yang utama. Sekolah umum meskipun mengajarkan pengetahuan umum tidak lepas dari pendidikan moral dan pembudayaan di lingkungan sekolah, sehingga sekolah umum pun memiliki kelebihan dan relevansi untuk pendidikan karakter. Namun diperlukan proses dan focus yang lebih intensif dalam pendidikan karakter di sekolah, sehingga subjek didik tidak sekedar didik kognisi dan spikomotoriknya, tetapi afeksi dan life-skill yang menyeluruh sehingga sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yakni terbentuk pribadi-pribadi manusia Indonesia yang utuh, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang utuh, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan yang tinggi.

Pendidikan karakter dengan model pesantren, madrasah, dan sekolah sebenarnya tidak hanya bertumpu pada penyelenggaraan kurikulum formal, tetapi di dalamnya sama pentingnya membangun budaya pesantren, budaya madrasah, dan budaya sekolah yang memberikan proses pembelajaran yang intensif, interaktif, dan berkelanjudtan sehingga terbentuk pribadi-pribadi yang berkarakter akhlak mulia. Ke depan pendidikan dengan model pesantren, madrasah, dan sekolah umum tidak bisa bersifat status-quo, artinya bertahan dengan pola yang baku tanpa trasformasi atau perubahan kea rah yang lebih inovatif dan berorientasi pada kemajuan untuk menjawab tantangan zaman. Di sini penting dintergrasikan dan dikembangan pendidikan karakter yang menyeluruh atau holistic dengan trasformasi membangun system nilai dan mentalis manusia Indonesia yang kuat jiwa, moral, dan kepribadian sekaligus unggul dalam pemikiran, penguasaan iptek, dan kecakapan hidup seiring dengan tuntutan kehidupan di era global. Misalnya, kedepan sosok orang indonesia tidak hanya memiliki karakter baik selaku orang beragama, karakter cinta tanah air sebagai anak bangsa ini menjadi maju dan bermanfaat setera dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Di sinilah pentingnya karakter holistic (menyeluruh) dalam trasformasi system pendidikan yang juga menyeluruh (holistic).

Desaign Pengembangan Pendidikan Karakter 
Nilai-nilai karakter untuk siswa

Pada tahap pelaksanaannya (implementasi) dikembangkan pengalaman belajar (learning experiences) dan proses pembelajaran yang bermuaran pada pembentukan karakter dalam diri peserta didik. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Di setiap pilar pendidikan ada dua jenis pengalaman belajar yang dibangun melalui intervensi dan habitulasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi pembelajaran yang dirancang untuk mencapai tujuan pembentukkan karakter dengan penerapan pengalaman belajar terstruktur (structured learning experiences). Dalam habitulasi diciptakan situasi dan kondisi (persistence life situation) yang memungkinkan para siswa di mana saja membiasakan diri berprilaku sesuai nilai dan telah menjadi karakter dirinya, karena telah diinternalisasi dan dipersonifikasi melalui proses intervensi. Pada tahap evaluasi hasil dilakukan asesmen untuk perbaikan berkelanjutan yang sengaja dirancang dan dilaksanakan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik.

Dalam ranah mikro sekolah sebagai leading sector berupaya memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk inisiasi, memperbaiki, menguatkan dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter disekolah. Pengembangan nilai/karakter dibagi dalam empat pilar, yaitu kegiatan pembelajaran di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk kegiatan kebudaya sekolah (scholl culture), kegiatan kokurikuler dan atau ektrakulikuler, serta kegiatan keseharian di rumah dan dimasyarakat. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas pengembangan karakter dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintregasi dalam semua mata pelajaran (ambedded approach) 

Strategi Mikro Pendidikan Karakter

Pendidikan budaya dan karakter bangsa (PBKB) pada dasarnya merupakan pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bansga indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional. PBKB bertujuan (1) mengembangakn potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga Negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bansga, (2) mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejelan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius, (3) menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa, (4) mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan, dan (5) mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreatifitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuasaan, cinta tanah air, menghatgai prestasi, bersahabat/komunikastif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. 

Dalam implementisi di satuan pendidikan melalui jalur kurikuler dan pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/ madarasah. Kegiatan budaya sekolah dan kegiatan ektrakulikuler dalam ketentuan lain disebut kegiatan pengembangan diri. Pelaksanaan PBKB melalui pengembangan diri perlu mendapatkan perhatian karena dapat melahirkan budaya sekolah yang kondusif. 

Peran Guru, Orangtua, Masyarakat, dan Negara dalam Pendidikan Karakter 
a. Peran Guru 
Kepribadian bukanlah karakter, karena setiap orang tentu memiliki pribadi yang beda, lengkap dengan kekuatan dan kelemahannya. Ketika manusia belajar untuk mengatasi kelemahan kepribadiannya dan mau meluncurkan hal-hal positif baru dalam hidupnya, maka inilah yang disebut dengan karakter. Karakter itu tidak bisa di beli, tidak bisa diwariskan, dan tidak akan datang dengan sendirinya. Namun, karakter bukanlah sidik jari yang tidak mungkin diubah-ubah lagi. Karakter itu bisa dibangun dan dikembangkan, namun melalui proses yang tidak instan.

Peran guru hadir untuk membantu membangun dan mengembangkan karakter setiap anak didiknya. Lingkungan keluarga pun turut berperan dalam membangun karakter seseorang. Namun, peran gurulah yang dianggap paling vital karena sebagian besar orang menghabiskan waktu lama di bangku sekolahan, di dunia pendidikan. 

Sebelum bisa menularkan karakter baik kepada anak didiknya, setiap guru dituntut harus sudah memiliki karakter yang baik. Setiap guru harus menjalani pendidikan karakter terlebih dulu dibandingkan anak didiknya. Karena bagaimanapun, guru yang tidak memiliki karakter baik tidak akan mungkin bisa memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya.

Dalam pendidikan karakter idealnya seorang guru harus mampu memahami siswa. Namun, pada kenyataannya tidak banyak guru yang mampu mencermati kondisi siswa, apa yang sedang dialami, dan lain sebagainya. Hal ini mungkin disebabkan oleh metode pembelajaran yang kurang tepat, guru hanya senang didengarkan ketimbang mendengarkan atau memahami. 

Jaman sekarang bukan jaman kolonial yang harus mengajar dengan kekerasan. Beri siswa senyuman ketika masuk ruangan, sehingga kesan pertam siswa nyaman berada dikelas. Kemudian, sebelum memulai pelajaran beri semangat dengan kalimat motivasi agar semangat siswa terjaga. Lempar pertanyaan yang sekiranya tak berat bagi siswa untuk menjawab. Sebagai guru, pasti bisa mengukur seberapa jauh kualitas anak didik. 

Apabila anda belum pernah menempatkan diri anda dan bertukar tempat sebagai siswa di kelas, maka lakukanlah sekali dua kali. Artinya tidak bertukar secara fisik, tetapi rasakan perasaan siswa anda. 

b. Peran Orangtua 
Bagi keluarga (Ayah dan Ibu) pendidikan karakter merupakan kebutuhan yang pertama dan utama. Kedua orang tua menjadi teladan bagi anak dalam perkembangan kejiwaannya. Jika orang tua memberikan perilaku negatif di mata anak, jangan berharap anak akan mempunyai perilaku positif. 

Cara berpikir moral koqnitif melalui pertimbangan moral yang harus menjungjung tinggi dan membela nilai-nilai kemanusiaan juga berlandas pada tiga prinsip, yaitu, prinsip kemerdekaan, kesamaan, dan saling terima (liberty, equality, dan reciprocity). Oleh karena itu pembetukan kepribadian anak di rumah melalui pertimbangan moral anak yang dilakukan oleh orang tua juga harus berlandas pada tiga prinsip tersebut. Artinya, apa pun yang dipikirkan dan akan dilakukan oleh orang tua di rumah dalam interaksi dan komunikasinya harus dapat dikembalikan pada niali-nilai kemerdekaan, kesamaan dan saling terima. Orang tua (ayah dan ibu) adalah kunci utama yang harus terlebih dahulu benar-benar memahami dan mampu menerapkan nilai-nilai dari ketiga prinsip tersebut. Ini berarti, semestinya orang tua dalam suatu rumah tangga harus benar-benar telah memiliki kepribadian yang baik dan mantap dalam nuansa morslitasnya. 

c. Peran Masyarakat 
Pendidikan menjadi perhatian serius masyarakat luas, ketika moralitas dipinggirkan dalam system berprilaku dan bersikap di tengah masyarakat. Akibatnya, di satu sisi, pendidikan yang telah dijalankan menjadikan manusia kian terdidik intelektuaknya. Namun, di sisi lain, pendidikan yang diusung semakin menjadikan manusia kehilangan kemanusiannya. Maraknya aksi kekerasan, korupsi, pembalakan liar, dan sederet gambaran dekadensi moralitas menghadapkan kepada kerinduan untuk mendesain ulang system pendidikan yang berbasis kepada keluhuran akhlak, tata etika, dan moralitas. Antara kehidupan dan pendidikan bagaikan sebuah skema listrik parallel. Keduanya saling terkait satu sama lain. Implikasinya, jika masyarakat menghendaki tersedianya kehidupan yang sejahtera, isi dan proses pendidikan harus diarahkan pada pemenuhan kebutuhan tersebut. 

Kompleksitas permasalahan mulai dari kenakalan remaja, kasus narkoba, hingga efek negative dari globalisasi yang terkandung sampai menghilangkan identitas bangsa karena gaya hidup yang kebarat-baratan dan hedonis, menjadi tantangan yang harus diterima, dilawan dan diselesaikan oleh orang tua, guru, dan masyarakat. Azra menjelaskan bahwa globalisasi yang bersumber dari barat tersebut, tampil dengan watak ekonomi-politik, dan sains-teknologi. Hegemoni dalam bidang-bidang ini bukan haya menghasilkan globalisasi ekonomi dan sain-teknologi, melainkan juga dalam bidang-bidang lain seperti intelektual, social, nilai-nilai, gaya hidup, dan setterusnya. Oleh karena itu, Feisal menyebutkan agar peran pendidikan diperluas dan diberi peran lebih dalam menghadapi era globalisasi industrialisasi, peran pendidikan tidak terfokus pada penyiapan sumber daya manusia yang siap pakai mengingat kecenderungan yang terjadi dalam dunia kerja sangat cepat berubah dalam era ini. Sebaliknya, pendidikan harus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menerima serta menyesuwaikan dan mengembangkan arus perubahan yang terjadi dalam lingkungan. 

Schumacher menilai bahwa masyarakat global sedang mengalami krisis spiritual. Spiritual berasal dari kata spirit yang bermakna napas. Menurut Tony Buzan, dalam dunia modern, kata itu merujuk pada energy hidup dan sesuatu dalam diri kita yang bukan fisik, termasuk emosi dan karakter. Hal ini juga menyangkut kualitas –kualitas vital seperti energy, semangat, dan keberanian. Bagi Schumacher, tidak terlalu signifikan untuk melihat berbagai masalah hanya dengan penalaran dan rasio. Sebab, hal itu hanya akan menyelesaikan persoalan masyrakat global yang terlihat kasat mata. Namun, dari sisi batin, masyarakat global mengalami krisis spiritualitas yang kian kuat. Endapan itu terakumulasi bertahun-tahun tanpa ada usaha keras untuk menyikapi bahkan menangulanginya. Dengan demikian, usaha menyelesaikan krisis masyarakat global, disamping di lakukan dengan pola pemikiran serta penanganan yang rasioanl dan akurat juga di imbangi dengan penyembuhan dengan hati. Hal inilah yang akan membentuk tatanan masyarakat global menuju keberadaban.

Norma-norma moral adalah tolak ukur yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang. Menurut Magnis-Suseno, sikap moral yang sebenarnya disebut moralitas. Ia mengartikan moralitas sebagai sikap hati orang yang terungkap dalam tindakan lahiriyah. Moralitas terjadi apabila orang mengambil sikap yang baik karena ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya dan bukan karena ia mencari keuntungan. Jadi moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih. Hanya moralitaslah yang bernilai secara moral.

d. Peran Negara 
Negara, melalui pemerintah pusat (dalam hal Menteri Pendidikan Nasional), Negara bertanggung jawab berhasil tidaknya pendidikan warga Negara terutama peserta didik di sekolah, Mendiknas dibantu oleh Ditjen dan Dirjen serta sambungan tangannya ke Diknas Provinsi dan Diknas kabupaten, kebijakan pusat terkait pendidikan karakter akan ditindak lanjuti secara matang. Turun tangan Negara sangat menentukan bagi keselamatan masa depan generasi muda tanah air. 

Agar pelaksanaan pendidikan budi pekerti di masa yang akan datang tepat sasaran maka strategi yang dipakai dalam pembelajaran pendidikan budi pekerti harus meliputi tiga hal berikut: 
  1. Mengunakan prinsip keteladanan dari semua pihak, baik orang tua, guru, masyarakat, maupun pemimpinnya. 
  2. Menggunakan prinsip kontinunitas/rutinitas (pembiaasaan dalam segala aspek kehidupan). 
  3. Mengunakan prinsip kesadaran untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan. 
Metode penyampaian pendidikan budipekerti di lakukan secara komprehensif, baik dilingkungan pendidikan formal, informal, maupun non formal dan peran tri pusat pendidikan dalam hal ini orang tua, guru, masyrakat/lingkungan, pers, dan media masa sangat vital dalam pendidikan budi pekerti. Bahkan dalam tri pusat pendidikan diperlukan adanya kesamaan visi dan misi dalam pemberian budi pekerti. Satu hal lagi yang sangat penting adalah kejujuran dari semua pihak untuk melaksanakan budi pekerti tersebut dalam tindakan sehari-hari. 

Kunci menyelesaikan masalah generasi muda sangat tergantung dengan bagai mana orangtua, guru, dan masyarakat menyikapinya. Hal tersebut juga bergantung kepada muatan pendidikan dan nilai-nilai agama yang diberikan kepada siswa. Apalagi dalam islam disebut bahwa pendidikan yang ditanamkan pada siswa sangat dipengaruhi dengan muatan pengetahuan dan nilai yang diberikan oleh orangtua dan guru. Hal tersebut tergambar dalam hadist berikut ini:

“setiap anak dilahirkan itu telah membawa fitrah beragama (perasaan percaya kepada Allah) maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama yahudi, nasrani, atau majusi” (H.R Imam Baihaqi).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Dan Tinjauan Tentang Pendidikan Karakter "

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca