Pengertian Dan Pemahaman Persepsi Masyarakat Menurut Ahli

Pengertian Dan Pemahaman Persepsi Masyarakat 
Pengertian persepsi dari kamus psikologi adalah berasal dari bahasa Inggris, perception yang artinya : persepsi, penglihatan, tanggapan; adalah proses seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya; atau pengetahuan lingkungan yang diperoleh melalui interpretasi data indera (Kartono dan Gulo, 1987:343).

Persepsi yaitu suatu proses yang didahului oleh penginderaan. Penginderaan merupakan suatu proses di terimanya stimulus oleh individu melalui alat penerima yaitu alat indera. Pada umumnya stimulus tersebut diteruskan oleh saraf ke otak melalui pusat susunan saraf dan kemudian proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Stimulus diterima oleh alat indera, kemudian melalui proses persepsi sesuatu yang diterima indera tersebut menjadi sesuatu yang berarti setelah diorganisasikan dan diinterpretasikan (Davidoff dalam Walgito, 2000:53).

Melalui persepsi individu dapat menyadari, dapat mengerti tentang keadaan diri individu yang bersangkutan. Persepsi itu merupakan aktivitas yang integrateed, maka seluruh apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan dan aspek-aspek lain yang ada dalam diri individu masyarakat akan ikut berperan dalam persepsi tersebut (Walgito, 2000:54). Berdasarkan atas hal tersebut, dapat dikemukakan bahwa dalam persepsi itu sekalipun stimulusnya sama tetapi karena pengalaman tidak sama, kemampuan berpikir tidak sama, kerangka acuan tidak sama, adanya kemungkinan hasil persepsi antara individu dengan individu yang lain tidak sama.

Faktor-faktor yang berpengaruh pada persepsi adalah faktor internal: perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, motivasi dan kerangka acuan. Sedangkan faktor eksternal adalah : stimulus itu sendiri dan keadaan lingkungan dimana persepsi itu berlangsung. Kejelasan stimulus akan banyak berpengaruh pada persepsi. Bila stimulus itu berwujud benda-benda bukan manusia, maka ketepatan persepsi lebih terletak pada individu yang mengadakan persepsi karena benda-benda yang dipersepsi tersebut tidak ada usaha untuk mempengaruhi yang mempersepsi.

Pengertian masyarakat pada kamus bahasa Inggris disebut society asal katanya socius yang berarti kawan. Yang lebih tepat, bahwasannya masyarakat adalah kesatuan sosial yang mempunyai kehidupan jiwa seperti adanya ungkapan-ungkapan jiwa rakyat, kehendak rakyat, kesadaran masyarakat dan sebaginya. Sedangkan jiwa masyarakat ini adalah potensi yang berasal dari unsur-unsur dalam masyarakat meliputi pranata, status dan peranan sosial. Menurut Mac Iver, J.L Gillin, pengertian masyarakat adalah kumpulan individu-individu yang saling bergaul dan berinteraksi karena mempunyai norma-norma, cara-cara, nilai-nilai dan prosedur yang merupakan kebutuhan bersama berupa suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu identitas bersama (Soelaiman, dalam Musadun, 2000:86) 

Pengertian persepsi masyarakat dapat disimpulkan adalah tanggapan atau pengetahuan lingkungan dari kumpulan individu-individu yang saling bergaul berinteraksi karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara dan prosedur merupakan kebutuhan bersama berupa suatu sistem adat-istiadat yang bersifat kontinue dan terikat oleh suatu identitas bersama yang diperoleh melalui interpretasi data indera.

Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dalam satu kesatuan dalam tatanan sosial masyarakat. Lebih lanjut adalah pendapat yang dikemukakan oleh Ralph Linton dalam Harsojo (1997:144) menyatakan bahwa masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu. 

Dari defenisi tersebut, penulis menyimpulkan bahwa masyarakat merupakan sekelompok manusia yang hidup secara bersama-sama dan saling berhubungan. Artinya bahwa setiap individu manusia yang satu sadar akan adanya individu yang lain dan memperhatikan kehadiran individu tersebut. Bila dikombinasikan antara persepsi dan masyarakat maka penulis memberikan defenisi bahwa persepsi masyarakat adalah sebuah proses dimana sekelompok individu yang hidup dan tinggal bersama dalam wilayah tertentu, memberikan tanggapan terhadap hal-hal yang dianggap menarik dari lingkungan tempat tinggal mereka. 

1. Terdapat Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat 
Robbins ( 2001 : 89 ), mengemukakan bahwa ada 3 faktor yang dapat mempengaruhi persepsi masyarakat, diantaranya yaitu:
  1. Pelaku persepsi, dimana seseorang memandang suatu objek dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya dan penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dari pelaku persepsi individu tersebut.
  2. Objek atau Target, karakteristik dan target yang diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Target atau Objek tidak dipandang dalam keadaan terisolasi, hubungan suatu target dengan latar belakangnya mempengaruhi persepsi seperti kecendrungan kita untuk mengelompokkan benda-benda yang salaing berdekatan atau yang mirip 
  3. Situasi, dalam hal ini penting untuk melihat konteks objek atau peristiwa sebab unsur-unsur lingkungan sekitar juga dapat mempengaruhi persepsi kita. 

Kebijakan Publik
Sebenarnya batasan atau definisi mengenai apa yang dimaksud dengan kebijakan publik (publik policy) saat ini, cukup beragam tergantung latar belakangnya yang berbeda-beda . Sementara itu di sisi lain model yang digunakan dan pendekatan  juga akan menentukan bagaimana kebijakan publik tersebut hendak didefinisikan (Winarno, 2002:15).Kegiatan pembuatan kebijakan publik harus mencakup beberapa hal sebagaimana telah dikemukakan oleh Rasyid, et al. (2002 :239) yaitu : 
a) Kegiatan membuat kebijakan yang bersifat distributif;
b) Kebijakan mengatur kompetisi;
c) Kebijakan yang mengatur perlindungan;
d) Kebijakan yang menyangkut redistribusi kekayaan masyarakat;
e) Kebijakan yang besifat ekstratif;
f) kebijakan strategis;
g) Kebijaksanaan karena krisis;

Kebijakan publik merupakan suatu bentuk dari intervensi atau tindakan tertentu pemerintah yang dirancang untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan. Dalam memahami kebijakan publik berikut ini diberikan beberapa teori :
1. Mustopadidjaja, (1992), telah megemukakan bahwa “Pada dasarnya adalah suatu keputusan yang dimaksudkan untuk dapat mengatasi permasalahan tertentu untuk melakukan kegiatan tertentu ataupun untuk mencapai  suatu tujuan tertentu yang dilakukan oleh instansi yang berkewenangan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan Negara dan Pembangunan.” 
2. Frewitt, (dalam Thoha, 1990:251) juga berpendapat senada dengan yang telah dikemukakan oleh Mustopadidjaja diatas, bahwasannya “Kebijakan dapat dirumuskan sebagai suatu keputusan yang tegas yang disimpati oleh adanya perilaku yang konsisten dan pengulangan pada bagian dari keduanya bagi orang-orang yang melaksanakannya. Sedangkan kebijaksanaan pemerintah dapat diartikan setiap keputusan yang dilaksanakan oleh pejabat pemerintah atau negara atas nama instansi yang dipimpinnya (Presiden, Menteri, Gubernur, Sekjen dan seterusnya) dalam rangka melaksanakan fungsi umum pemerintah atau pembangunan, guna mengatasi permasalahan tertentu atau mencapai tujuan tertentu atau dalam rangka melaksanakan produk-produk keputusan atau peraturan perundang-undang yang telah ditentukan dan lazimnya dituangkan dalam bentuk aturan perundang-undangan atau dalam bentuk keputusan formal “. 

Kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan mengandung arti:
a) Hasil produk keputusan yang diambil dari komitmen bersama;
b) Adanya formalisasi;
c) Pelaksananya adalah orang-orang dalam organisasi;
d) Adanya perilaku yang konsisten bagi para pengambil keputusan dan pelaksana. 

Kebijakan atau policy penggunaannya sering disama-artikan dengan istilah-istilah lain seperti tujuan (goals), program, keputusan, undang-undang, ketentuan-ketentuan, usulan-usulan atau rancangan besar (Wahab, 1991:1-2). Sedangkan pengertian Policy menurut perserikatan bangsa-bangsa adalah pedoman untuk bertindak, meliputi pedoman yang bersifat sederhana sampai dengan yang komplek, bersifat umum maupun khusus, berdasarkan cakupan yang luas maupun sempit, transparan maupun kabur (tidak jelas), terperinci maupun global, kualitatif dan bersifat publik maupun privat. Dengan demikian, pengertian kebijakan dapat diartikan sebagai serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu dengan diikuti dan dilaksanakan oleh seorang atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu (Anderson, 1979:99-102). 

Pemukiman Masyarakat 
Pemukiman sering disebut perumahan dan atau sebaliknya. Pemukiman berasal dari kata housing dalam bahasa inggris yang artinya adalah perumahan dan kata human settlement yang artinya pemukiman. Perumahan memberikan kesan tentang rumah atau kumpulan rumah beserta prasarana dan sarana lingkungannya. Perumahan menitik beratkan pada fisik atau benda mati, yaitu houses dan land settlement. Sedangkan pemukiman memberikan kesan tentang pemukiman atau kumpulan pemukim beserta sikap dan prilakunya di dalam lingkungan, sehingga pemukiman menitik beratkan pada sesuatu yang bukan bersifat fisik atau benda mati yaitu manusia (human). Dengan demikian perumahan dan pemukiman merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat erat hubungannya yang pada hakikatnya saling melengkapi. 

Masalah perumahan dan pemukiman, baik di perkotaan maupun di pedesaan merupakan masalah yang sangat kompleks. Hal tersebut berkaitan dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki (dana, lahan pemukiman dan lain-lain). Menurut Kuswartojo (2005 115), perumahan memberikan kesan tentang rumah atau kumpulan rumah beserta sarana dan prasarana lingkungannya. Perumahan menitik beratkan pada fisik atau benda mati, yaitu houses dan land settlement. Sedangkan pemukiman memberikan kesan tentang pemukim atau kumpulan pemukiman beserta sikap dan perilakunya di dalam lingkungan, sehingga pemukiman menitik beratkan pada sesuatu yang bukan bersifat fisik atau benda mati yaitu manusia (human). 

Berkembangnya suatu kota secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kondisi lingkungan sekitarnya. Pengembangan pembangunan perumahan dan pemukiman harus diupayakan sebagai satu kesatuan fungsional dalam wujud tata ruang fisik kehidupan ekonomi dan sosial budaya yang mampu menjamin pelestarian kemampuan fungsi lingkungan hidup perumahan dan pemukiman tersebut. Menurut Turner dalam Budihardjo (1999 42), pembangunan pemukiman harus mengacu pada pedoman yang diberi nama Habitat Bill Of Right (hak asasi pemukiman) yang meliputi aspek lingkungan sebagai berikut: 
a) Fisik lingkungan yang mencerminkan pola kehidupan dan kebudayaan masyarakat setempat. 
b) Lingkungan pemukiman yang didukung oleh fasilitas dan utilitas umum yang sebanding dengan penduduk pendukungnya. 
c) Wadah kegiatan untuk menambah penghasilan bagi lingkungan pemukiman masyarakat berpenghasilan rendah. 
d) Tersedianya taman, ruang terbuka ataupun penghijauan. 
e) Perencanaan tata letak berkarakteristik alami. Jalan lingkungan yang manusiawi dengan pemisahan antara jalur kendaraan dan pejalan kaki. 
f) Lingkungan pemukiman yang menunjang terjadinya kontak sosial antar warganya. 

Lebih lanjut Snyder dalam Hadi (1987 116) mengungkapkan, pengertian pemukiman adalah pemukiman sebagai suatu lingkungan binaan dalam ha! mi adalah pemukiman merupakan proses pewadahan fungsional yang dilandasi oleh pola aktifitas manusia seperti pengaruh Setting (rona lingkungan) baik yang bersifat fisik dan non fisik (sosial budaya) yang secara langsung mempengaruhi pola kegiatan dan proses pewadahannya. Dimana lingkungan pemukiman terbentuk secara organik (proses informal) atau secara terencana (proses formal). Pembangunan perumahan dan pemukiman masyarakat selain harus mencerminkan perwujudan manusia seutuhnya dan peningkatan kualitas manusia meniadakan kecemburuan sosial dan secara positif menciptakan pemukiman dan perumahan yang mencerminkan kesetiakawanan serta keakraban sosial disamping itu juga harus memperhatikan aspek sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan kemampuan masyarakat serta berwawasan lingkungan.

Fungsi Bantaran Sungai 
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, tentang pengelolaan kawasan lindung, sempadan sungai didefinisikan sebagai kawasan sepanjang kini dan kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi sungai. Daerah sempadan mencakup daerah bantaran sungai yaitu bagian dan badan sungai yang hanya tergenang air pada musim hujan dan daerah sempadan yang berada diluar bantaran yaitu daerah yang menampung luapan air sungai di musim hujan dan memiliki kelembaban tanah yang tinggi dibandingkan kelembaban tanah pada ekosistem daratan. Banjir di sempadan sungai pada musim hujan adalah peristiwa alamiah yang mempunyai fungsi ekologis penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kesuburan tanah. 

Menyadari pentingnya fungsi sempadan sungai bagi perlindungan ekosistem sungai dan daratan, dimana peningkatan penggunaan lahan terus bertambah sepanjang tahun. Pengalihan pemanfaatan lahan sepanjang sungai menimbulkan risiko bagi penghuni bantaran sungai (seperti penggenangan air secara periodik dan longsor), ditambah lagi dengan perkembangan perumahan dan pemukiman akan semakin meningkatkan beban pencemaran sungai itu sendiri. Pengelolaan daerah sempadan sungai menurut Mulyanto (2007: 97) juga ditujukan untuk : 
a) Pengendalian aliran permukaan tanah (excess) yang merusak, sebagai usaha mengendalikan banjir. 
b) Memperlancar infiltrasi air kedalam tanah. 
c) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk tujuan yang berguna, dan 
d) Mengusahakan semua sumber daya tanah dan air untuk memaksimumkan produksi. 

Seiring dengan keinginan manusia untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, perkembangan kegiatan pemanfaatan kawasan bantaran sungai sudah barang tentu akan sulit dihentikan sama sekali. Sekalipun demikian degradasi kualitas lingkungan harus diminimalkan. Alam sendiri telah memiliki mekanisme pemeliharaan air yang efisien, murah dan perawatan yang mudah dalam bentuk daerah bantaran sungai yang bervegetasi. Dengan memelihara vegetasi bantaran sungai akan membantu tingkat penyerapan air yang tinggi untuk mengisi air tanah yang menjadi kunci pemanfaatan air tanah secara berkelanjutan (sustainable).

Kondisi Faktualnya 
Sungai mengalir dan hulu ke hilir melalui wilayah dengan karakteristik fisik dan administrasi yang berbeda-beda. Dengan permasalahan persungaian yang bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh sifat alami sungai, fungsi Sungai serta perlakuan manusia dalam usaha memanfaatkan sungai berikut sumber daya yang dimilikinya yang secara alami bentuk atau morfologi sungai akan berubah dengan kurun waktu yang berbeda antara sungai satu dengan lainnya. Dimana penanganan sungai menuntut penangan satu sungai, satu perencanaan dan satu pengelolaan. Penanganan secara terpadu umumnya ditujukan untuk mengantisipasi fenomena umum melimpahnya air pada musim hujan serta sedikitnya air pada musim kemarau, ditambah lagi dengan persepsi masyarakat tentang bantaran sungai sebagai tempat pembuangan sampah yang paling praktis akan semakin meningkatkan beban sungai itu sendiri.

Dampak kumulatif dan pengalihan vegetasi bantaran sungai juga akan meningkatkan kecepatan aliran air hujan yang akan menyebabkan banjir dihilir baik durasi, frekuensi maupun kekuatannya. Menurut Legono dan Rahardjo (2000 : 76 ), proses degradasi sungai merupakan proses yang panjang yang lajunya tidak saja dipengaruhi oleh fenomena stokastik seperti hujan, banjir, longsoran, letusan gunung berapi namun juga campur tangan manusia. Dengan tingkat pertumbuhan kawasan disekitar sungai, terutama di perkotaan yang semakin pesat menimbulkan berbagai macam persoalan di sekitarnya. Persoalan tersebut antara lain berupa genangan akibat banjir, erosi tebing sungai, degradasi dasar sungai, pencemaran sungai, sedimentasi sungai di kawasan hulu yang mengganggu kinerja infrastruktur bangunan sungai sampai sedimentasi di muara sungai. Lebih lanjut Kamurur mengungkapkan, kondisi faktual mengenai masalah bantaran sungai yang terjadi di seluruh Indonesia pada saat ini antara lain :
a) Pemukiman penduduk yang semakin meluas kearah sungai yang mengakibatkan penyempitan alur sungai. 
b) Pemanfaatan sungai sebagai wadah pembuangan limbah rumah tangga, industri maupun sektor lainnya sehingga semakin meningkatkan pencemaran air sungai tersebut.
c) Sedimentasi akibat adanya kegiatan di hulu sungai tersebut. 

Dengan kondisi faktual sungai yang terjadi saat mi, tindak lanjut penanganan sempadan sungai harus segera dilakukan pemulihan dan di kembalikan yang mendekati kondisi alaminya akan memberikan dampak lingkungan yang sangat besar dalam perbaikan kualitas air, menjaga keseimbangan ekosistemnya, peningkatan kualitas perikanan air sungai dan menampung luapan air sungai dimusim hujan. Pemulihan sempadan sungai juga akan memberikan dampak positif bagi muara sungai. Semakin lebar bantaran sungai yang bervegetasi maka semakin efektif fungsinya dalam melindungi ekosistem sungai.

Pembahasan Kebijakan Pemerintah Kota Samarinda
Sungai Karangmumus sebagai anak sungai Mahakam telah dipilih sebagai pemukiman penduduk bersama dengan tumbuhnya kota Samarinda. Lebih-lebih pada saat ini kota Samarinda selain sebagai Ibukota Samarinda Propinsi juga sebagai pusat dari salah satu pusat perniagaan yang potensial. Dengan demikian pertumbuhan pemukiman yang padat di sepanjang sungai Karangmumus terlihat mengikuti naluri atau budaya masyarakat sungai. Namun, terdapat suatu hal yang pada saat ini kurang serius diperhatikan, yaitu bahwa pemukiman padat menimbulkan beban pencemaran yang tak tertahankan bagi kawasan sungai Karangmumus yang pada kenyataannya hanya merupakan sebuah anak sungai. 

Kondisi sungai yang telah parah tersebut berkaitan dengan pengaruh alam misalnya curah hujan yang tak menentu Dan ulah manusia yang memperlakukan sungai tersebut sekehendak hati mereka. Sungai Karangmumus melewati tiga kecamatan di kota Samarinda, yaitu, kecamatan Samarinda Ilir, kecamatan Samarinda Ulu, Dan kecamatan Samarinda Utara. Lebih kurang sepanjang 5 km ke bagian hilir, sungai ini membelah kota Samarinda yang padat penduduk sedangkan bagian tengah Dan hulu sungai melewati daerah pertanian, pemukiman, pedesaan, rawa, semak belukar, hutan sekunder Dan hutan bekas tebangan yang rusak (Rianto, 1992).

Bagian hilir sungai dimulai dari muara sungai yang bertemu dengan sungai Mahakam sampai ke daerah pasar segiri dengan lebar antara 25 sampai 30 meter. Keadaan ini berubah setelah dibangunnya lebar sungai yang bebas tinggal 10 meter. Bahkan bagian antara jembatan baru Dan pasar segiri terdapat tempat-tempat yang lebarnya hanya tinggal 5 meter, sehingga perahu motor yang agak besar hanya dapat melewati sungai sampai pasar segiri selebihnya ditempuh dengan perahu motor kecil. Hal ini menunjukan bahwa daerah sepanjang sungai Karangmumus merupakan daerah yang diminati untuk dijadikan daerah pemukiman, terbukti dengan meningkatnya jumlah penduduk di daerah tersebut.

Bagi warga kota Samarinda, sungai Karangmumus mempunyai fungsi yang sangat besar. Oleh penduduk di kawasan bantaran sungai Karangmumus dimanfaatkan untuk keperluan lalu lintas, mandi mencuci bahkan untuk keperluan air minum. Di beberapa tempat lain air sungai Karangmumus digunakan untuk irigasi. Tingginya tingkat pencemaran sungai Karangmumus ini diperkuat oleh warna air sungai Karangmumus yang kehitam-hitaman dan sampah yang semakin menumpuk. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut begitu saja dan memerlukan penanganan khusus dan serius dari pemerintah kota Samarinda.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Dan Pemahaman Persepsi Masyarakat Menurut Ahli"

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca