Pengertian Dan Konsep Dasar Supervisi Pembelajaran

Pengertian Dan Konsep Dasar Supervisi Pembelajaran
Pengawasan dan supervisi merupakan dua istilah yang merupakan terjemahan dari salah satu fungsi manajemen, yaitu fungsi ”controlling”. Terdapat dua pandangan yang berbeda terhadap makna kedua istilah ini. Di satu sisi ada yang berpendapat bahwa kedua istilah ini sama makna dan pendekatannya. Sedangkan di sisi lain ada yang mengatakan istilah pengawasan lebih bersifat otoriter atau direktif, sedangkan istilah supervisi lebih bersifat demokratis. Istilah-istilah yang biasa digunakan di dalam lembaga pemerintah termasuk Kementerian Pendidikan Nasional adalah inspektorat, pengawas, penilik dan supervisor. 

Di tingkat pusat fungsi pengawasan dilaksanakan oleh Inspektur Jenderal, di tingkat Provinsi dan di tingkat Kabupaten/Kota disebut pengawas. Hanya saja dalam perkembangan terakhir istilah yang banyak digunakan adalah pengawas. Sedangkan orang-orang yang melakukan pengawasan disebut Pengawas/ Supervisor/Penyelia. Sekalipun berbagai istilah yang digunakan dalam menjalankan fungsi ”Controlling”, tetapi yang perlu dipahami adalah fungsi controlling (pengawasan) itu sendiri dan cara pendekatannya serta keterkaitannya dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya. 

Untuk itu, dalam rangka pengembangan wacana perlu dikemukakan secara ringkas tentang pengawasan yang memungkinkan prinsip-prinsip demokrasi berjalan di dalamnya. Keterkaitan antara pengawasan dengan fungsi-fungsi lainnya dapat dilihat pada gambar berikut, (Masaong, 2010).

Mengacu pada gambar di atas dapat ditegaskan bahwa fungsifungsi manajemen di samping dapat berjalan secara sendiri-sendiri sesuai dengan tugas dan fungsinya, akan tetapi lebih efektif jika berjalan secara sistemik. Hal ini penting sebab pengawasan bukan hanya dilaksanakan pada saat kegiatan sedang atau telah selesai dikerjakan, melainkan sejak perencanaan sampai pengawasan sudah harus dilaksanakan guna meminimalisir penyimpangan. Gambar berikut ini lebih mempertegas lagi keterkaitan antar fungsi-fungsi manajemen sebagai kesatuan yang utuh (sistemik) untuk mewujudkan tujuan organisasi.

Di dalam institusi pendidikan, pengawasan lebih ditekankan pada kegiatan akademik. Istilah yang lebih tepat digunakan adalah supervisi. Secara etimologis supervisi (supervisi) berasal dari bahasa Inggris yang  terdiri dari dua kata, yaitu super dan vision. Super berarti atas atau lebih, sedangkan vision berarti melihat atau meninjau. Dengan demikian supervisi dalam pengertian sederhana yaitu melihat, meninjau atau melihat dari atas, yang dilakukan oleh atasan (pengawas/kepala sekolah) terhadap perwujudan kegiatan pembelajaran. 

Atas bermakna orang-orang yang memiliki kelebihan dari segi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman terhadap guru-guru, kepala sekolah dan staf. Supervisi diartikan sebagai layanan yang bersifat membimbing, memfasilitasi, memotivasi serta menilai guru dalam pelaksanaan pembelajaran dan pengembangan profesinya secara efektif. Pengertian lain supervisi pembelajaran diartikan sebagai ”pelayanan yang disediakan oleh pemimpin untuk membantu guru-guru agar menjadi guru atau personal yang semakin cakap sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu pendidikan khususnya, agar mampu meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar di sekolah” (Nawawi, 1981: 104). 

Supervisi pembelajaran didefinisikan sebagai ”usaha manstrimulir, mengkoordinir, dan membimbing pertumbuhan guru-guru di sekolah, baik secara individual maupun kelompok, dengan tenggang rasa dan tindakantindakan pedagogis yang efektif, sehingga mereka lebih mampu menstimulir dan membimbing pertumbuhan masing-masing siswa agar lebih mampu berpartisipasi di dalam masyarakat yang demokratis” (Soetopo, 1982). Supervisi pembelajaran diartikan sebagai ”usaha mendorong, mengkoordinir, dan menstimulir serta menuntun pertumbuhan guru-guru secara berkesinambungan di suatu sekolah baik secara individual maupun kelompok agar lebih efektif melaksanakan fungsi pembelajaran”. (Sergiovanni, 1988). 

Berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan beberapa aspek penting supervisi, yaitu: 
  1. Bersifat bantuan dan pelayanan kepada kepala sekolah, guru dan staf 
  2. Untuk pengembangan kualitas diri guru 
  3. Untuk pengembangan profesional guru 
  4. Untuk memotivasi guru 
Aspek-aspek tersebut menuntut pengetahuan tentang konsepkonsep dan pendekatan supervisi yang ditunjang dengan kinerja serta akuntabilitas yang tinggi dari supervisor. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan supervisi sebagai layanan profesional dapat meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran yang bermuara pula pada perwujudan hasil belajar peserta didik secara optimal. Dewasa ini kegiatan supervisi oleh sebagian supervisor (pengawas) masih berorientasi pada pengawasan (kontrol) dan obyek utamanya adalah administrasi, sehingga suasana kemitraan antara guru dan supervisor kurang tercipta dan bahkan guru secara psikologis merasa terbebani dengan pikiran untuk dinilai. Padahal kegiatan supervisi akan efektif jika perasaan terbebas dari berbagai tekanan diganti dengan suasana pemberian pelayanan serta pemenuhan kebutuhan yang bersifat informal. Aspek lain yang mengakibatkan kegiatan supervisi kurang bermanfaat menurut Semiawan (Imron, 1996) adalah bahwa sistem supervisi kurang memadai dan sikap mental dari supervisor yang kurang sehat. 

Kurang memadainya sistem supervisi dipengaruhi oleh beberapa aspek, antara lain: 
  1. Supervisi masih menekankan pada aspek administratif dan mengabaikan aspek profesional, 
  2. Tatap muka antara supervisor dan guru-guru sangat sedikit, 
  3. Supervisor banyak yang sudah lama tidak mengajar, sehingga banyak dibutuhkan bekal tambahan agar dapat mengikuti perkembangan baru, 
  4. Pada umumnya masih menggunakan jalur satu arah dari atas ke bawah, dan 
  5. Potensi guru sebagai pembimbing kurang dimanfaatkan. 
Sedangkan dikaji dari sikap mental yang kurang sehat dari supervisor terlihat beberapa indikasi, yaitu; 
  1. Hubungan profesional yang kaku dan kurang akrab akibat sikap otoriter dari supervisor, sehingga guru takut bersifat terbuka kepada supervisor, 
  2. Banyak supervisor dan guru merasa sudah berpengalaman, sehingga merasa tidak perlu lagi belajar, 
  3. Supervisor dan guru merasa cepat puas dengan hasil belajar siswa. 
Temuan penelitian Semiawan yang dilaksanakan pada tahun 1996 tersebut, ternyata masih banyak pengawas yang belum mengalami perubahan sampai saat ini, terutama dari segi pendekatan/metode pelaksanaan supervisi. Hasil penelitian penulis (2012) menyimpulkan bahwa pelaksanaan supervisi belum efektif meningkatkan kemampuan profesional guru dalam pembelajaran. Selain itu, tingkat pengetahuan pengawas tentang konsep-konsep supervisi pembelajaran modern perlu dioptimalkan. Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 12 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Pengawas dan Kualifikasi Akademik yang menjadi persyaratan utama pengawas profesional diharapkan posisi pengawas sebagai gurunya guru dan mitra kerja utama kepala sekolah dalam pengembangan sekolah semakin efektif. 

Hasil wawancara penulis dengan beberapa pengawas dan hasil diskusi terhadap dengan guru-guru tentang pola pembinaan pengawas menunjukkan masih banyak pengawas yang mengalami kesulitan dalam menjalankan kompetensi mereka terutama Dimensi Penelitian dan Pengembangan serta Dimensi Supervisi Manajerial. Pemahaman pengawas terhadap standar kompetensi sebagaimana dipersyaratkan dalam permendiknas nomor 12 tahun 2007 ternyata masih banyak pengawas yang kurang memahaminya. Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan mekanisme rekrutmen dan seleksi pengawas di era otonomi daerah yang belum mengacu pada standar kualifikasi pendidikan dan standar kompetensi tersebut. 

Tujuan Supervisi Pembelajaran 
Supervisi pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam proses dan hasil pembelajaran melalui pemberian layanan profesional kepada guru. Wiles (Imron,1996) mengatakan secara umum supervisi pembelajaran bertujuan untuk memberikan bantuan dalam mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik. 

Sedangkan Nawawi (1981) mengatakan supervisi pembelajaran bertujuan untuk menilai kemampuan guru sebagai pendidik dan pengajar dalam bidang masing-masing guna membantu mereka melakukan perbaikan dan bila mana diperlukan untuk menunjukkan kekurangan-kekurangan untuk diperbaiki sendiri. Glickman (dalam Sagala, 2010) mengatakan tujuan supervisi pembelajaran untuk membantu guru-guru belajar bagaimana meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya, agar peserta didiknya dapat mewujudkan tujuan belajar yang telah ditetapkan. Feter F. Oliva (dalam Sagala, 2010) menegaskan tujuan supervisi pembelajaran adalah: 
  1. Membantu guru dalam mengembangkan proses pembelajaran, 
  2. Mengembangkan kurikulum dalam kegiatan pembelajaran, dan 
  3. Membantu guru dalam mengembangkan staf sekolah. 
Sahertian dan Mataheru (1981) mengemukakan tujuan supervisi pembelajaran yaitu: 
  1. Membantu guru melihat dengan jelas tujuantujuan pendidikan; 
  2. Membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar; 
  3. Membantu guru menggunakan sumber-sumber pengalaman belajar; 
  4. Membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar peserta didik; 
  5. Membantu guru menggunakan alat-alat, metode dan model mengajar; 
  6. Membantu guru menilai kemajuan belajar peserta didik dan hasil pekerjaan guru itu sendiri; 
  7. Membantu guru membina reaksi mental atau moral para guru dalam rangka pertumbuhan pribadi jabatannya; 
  8. Membantu guru di sekolah sehingga mereka merasa gembira dengan tugas yang diembannya; 
  9. Membantu guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap masyarakat dan cara-cara menggunakan sumber belajar dari masyarakat; dan 
  10. Membantu guru agar waktu dan tenaga dicurahkan sepenuhnya dalam membantu peserta didik belajar dan membina sekolah. 
Sedangkan Rivai (1987) mengemukakan tujuan supervisi pembelajaran sebagai berikut; 
  1. Membantu guru/staf agar dapat lebih memahami hirarki tujuan-tujuan pendidikan dan fungsi sekolah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan itu; 
  2. Membantu Guru agar dapat melayani peserta didik dengan efektif; 
  3. Membantu kepala sekolah dan guru melaksanakan kepemimpinan secara efektif, demokratis dan Akuntabel; 
  4. Menemukan kemampuan dan kelebihan tiap guru/staf dan memanfaatkan serta mengembangkan kemampuan itu dengan memberikan tugas dan tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuannya; 
  5. Membantu guru meningkatkan kemampuan penampilannya di depan kelas; 
  6. Membantu guru dalam masa orientasinya supaya cepat dapat menyesuaikan diri dengan tugasnya dan dapat mendayagunakan kemampuannya secara maksimal; 
  7. Membantu guru menemukan kesulitan belajar murid-muridnya dan merencanakan tindakan-tindakan perbaikannya; 
  8. Menghindari tuntutan-tuntutan terhadap guru/staf yang di luar batas atau tidak wajar, baik tuntutan itu datangnya dari dalam sekolah maupun dari luar (masyarakat). 
Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa tujuan utama supervisi pembelajaran adalah: 
  1. Membimbing dan memfasilitasi guru mengembangkan kompetensi profesinya, 
  2. Memberi motivasi guru agar menjalankan tugasnya secara efektif, 
  3. Membantu guru mengelola kurikulum dan pembelajaran berbasis KTSP secara efektif; 
  4. Membantu guru membina peserta didik agar potensinya berkembang secara maksimal. 
Demikianlah beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam supervisi, dirumuskan secara lebih spesifik dan terurai. Jika disimpulkan, semuanya mengandung pengertian membantu, memfasilitasi, mendampingi, meningkatkan. Semua tujuan itu berada dalam bidang pendidikan dan pembelajaran. Tidak ada kata-kata yang menyebutkan bahwa bantuan itu, umpamanya untuk kenaikan pangkat guru, pengembangan karier guru, atau kesejahteraan. Kenaikan pangkat, peningkatan karier dan kesejahteraan, semuanya itu termasuk dalam bidang permasalahan administrasi, khususnya administrasi personil. Herzberg (dalam Nurtain, 1987) menegaskan aspek administratif hanya bersifat penyehat (hygiene factors) bukan sebagai motivation factor dalam pengembangan profesi guru. Agar kegiatan supervisi dapat bermanfaat secara efektif, maka kompetensi pengawas harus dapat dioptimalkan oleh pengawas (supervisor). 

Sagala (2010) mengemukakan bahwa untuk dapat menjalankan tujuan tersebut, pengawas dituntut memiliki kemampuan yang memadai untuk: 
  1. Membina kepala sekolah dan guru-guru agar lebih memahami tujuan pendidikan serta peran sekolah dalam mewujudkannya; 
  2. Memperbesar kesanggupan kepala sekolah dan guru-guru untuk mempersiapkan peserta didiknya menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat; 
  3. Membantu kepala sekolah dan guru-guru mengadakan diagnosis secara kritis terhadap aktivitas-aktivitasnya dan kesulitan-kesulitan belajar mengajar, serta menolong mereka merencanakan perbaikan-perbaikan; 
  4. Meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan guru serta warga sekolah lainnya terhadap tatakerja yang demokratis dan kooperatif, dengan meningkatkan kesadaran untuk menolong; 
  5. Memperbesar ambisi guru-guru untuk meningkatkan mutu karyanya secara maksimal dalam bidang profesinya; 
  6. Membantu kepala untuk mempopulerkan sekolah kepada masyarakat dalam pengembangan program-program pendidikan; 
  7. Melindungi orang-orang yang disupervisi terhadap tuntutan-tuntutan yang tidak wajar dan kritik-kritik yang sehat dari masyarakat; 
  8. Membantu kepala sekolah dan guru-guru untuk dapat mengevaluasi aktivitas peserta didiknya; dan 
  9. Mengembangkan spirit the corps guru-guru, yaitu adanya rasa kolegialitas antar guru-guru. 
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa efektif tidaknya pencapaian tujuan supervisi pembalajaran sangat tergantung pada tingkat pemahaman pengawas terhadap standar kompetensinya itu sendiri yaitu: 
  1. Kompetensi kepribadian, 
  2. Kompetensi manajerial, 
  3. Kompetensi supervisi akademik, 
  4. Kompetensi evaluasi pendidikan, 
  5. Kompetensi penelitian pengembangan, dan 
  6. Kompetensi sosial. 
Fungsi Supervisi Pembelajaran 
Supervisi pembelajaran berfungsi untuk memperbaiki situasi pembelajaran melalui pembinaan profesionalisme guru. Briggs (dalam Sahertian, 1986:25) menyebutkan fungsi supervisi sebagai upaya mengkoordinir, menstimulir dan mengarahkan pertumbuhan guruguru. Supervisi pembelajaran memiliki fungsi penilaian (evaluation) yaitu penilaian kinerja guru dengan jalan penelitian, yakni mengumpulkan informasi dan fakta-fakta mengenai kinerja guru dengan cara melakukan penelitian. Kegiatan evaluasi dan penelitian ini merupakan usaha perbaikan (improvement), sehingga berdasarkan data dan informasi yang mestinya sehingga dapat meningkatkan kualitas kinerja guru dalam pembelajaran (Sagala, 2010). 

Dalam pandangan penulis fungsi supervisi pembelajaran mencakup: 
  1. Penelitian, 
  2. Perbaikan, 
  3. Pembinaan, 
  4. Pengembangan, 
  5. Koordinasi, 
  6. Memotivasi, dan 
  7. Penilaian. 
Swearingen (1961) mengemukakan delapan fungsi utama supervisi pembelajaran, yaitu: 
  1. Mengkoordinir semua usaha sekolah 
  2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah 
  3. Memperluas pengalaman guru-guru/staf 
  4. Menstimulir usaha-usaha yang kreatif 
  5. Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus menerus 
  6. Menganalisis situasi belajar mengajar 
  7. Memberikan pengetahuan dan skill kepada setiap anggota staf 
  8. Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan staf dan kemampuan mengajar guru. 
Prinsip-prinsip Supervisi Pembelajaran 
Pengawas dalam melaksanakan supervisi hendaknya senantiasa menerapkan prinsip-prinsip supervisi sebagai berikut: 

  • Prinsip Ilmiah (scientific) dengan unsur-unsur: 
  1. Sistematis, berarti dilaksanakan secara teratur, berencana kontinyu. 
  2. Obyektif, artinya data yang didapat berdasarkan pada observasi nyata, bukan tafsiran pribadi. 
  3. Menggunakan alat (instrumen) yang dapat memberikan informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar. 
  • Demoktaris, menjunjung tinggi atas musyawarah. 
  • Kooperatif/kemitraan, seluruh staf dapat bekerja bersama, mengembangkan usaha dalam ”menciptakan” situasi pembelajaran dan suasana kerja yang lebih baik. 
  • Konstruktif dan kreatif, membina inisiatif staf/guru serta mendorong untuk aktif menciptakan suasana agar setiap orang merasa aman dan dapat mengembangkan potensi-potensinya. Selain prinsip-prinsip yang telah dikemukakan, Rivai (1981) membagi prinsip-prinsip supervisi atas dua bagian, yaitu prinsip positif dan prinsip negatif. 
1. Prinsip-prinsip Positif 
  1. Supervisi harus konstruktif dan kreatif 
  2. Supervisi harus lebih berdasarkan sumber kolektif kelompok daripada usaha-usaha supervisi sendiri 
  3. Supervisi harus didasarkan atas hubungan profesional, bukan atas dasar hubungan pribadi 
  4. Supervisi harus dapat mengembangkan segi-segi kelebihan pada yang dipimpin 
  5. Supervisi harus dapat memberikan perasaan aman pada anggotaanggota kelompoknya 
  6. Supervisi harus progresif 
  7. Supervisi harus didasarkan pada keadaan yang riil dan sebenarnya 
  8. Supervisi harus sederhana dan informal dalam pelaksanaannya 
  9. Supervisi harus obyektif dan sanggup mengadakan self evaluation. 
2. Prinsip-prinsip Negatif 
  1. Supervisi tidak boleh bersifat mendesak/direktif 
  2. Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaan pangkat/ kedudukan atau atas dasar kekuasaan pribadi 
  3. Supervisi tidak boleh dilepaskan dari tujuan pendidikan dan pengajaran (the ultimate educative goals) 
  4. Supervisi tidak boleh terlalu banyak mengenai soal-soal yang mendetail mengenai cara-cara mengajar dan bahan pembelajaran 
  5. Supervisi tidak boleh mencari-cari kesalahan dan kekurangan staf/ guru 
  6. Supervisi tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil dan lekas kecewa. 
Prinsip-prinsip positif dan negatif ini harus menjadi acuan utama pengawas dalam menjalankan kegiatan supervisi di sekolah agar kontribusi supervisi terhadap pembelajaran membuahkan hasil yang optimal. Realitas di lapangan masih ditemukan pengawas dalam menjalankan tugas-tugas pembimbingan justru cenderung pada implementasi prinsip negatif seperti: 
  1. Lebih mengedepankan kekuasaan dari pada kemitraan sehingga komunikasi bersifat satu arah, 
  2. Cenderung mencari-cari kesalahan sehingga menimbulkan rasa takut di kalangan guru, 
  3. Cenderung cepat mengharapkan hasil dan mengutamakan nilai belajar daripada perbaikan proses pembelajaran, dan 
  4. Lebih banyak bersifat administratif ketimbang pembinaan aspek akademik. 
Tugas Supervisor (Pengawas) 
Untuk memberikan kejelasan dan pemahaman yang memadai, maka fungsi supervisi (pengawasan) pendidikan perlu dispesifikasi pada tugas-tugas dan kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai tindak lanjut. Erat kaitannya dengan tugas dan kegiatan itu perlu ditelusuri kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang supervisor (pengawas) agar tugas dan kegiatannya dapat dilaksanakan dengan baik. 

Hal ini penting agar pelayanan supervisi betul-betul dapat memperbaiki pembelajaran. 
1. Tugas-tugas Supervisor Pembelajaran Ben M. Harris (1985) mengemukakan tugas supervisor diklasifikasi atas sepuluh bidang tugas sebagai berikut; 
  1. Pengembangan kurikulum, 
  2. Pengorganisasian pengajaran, 
  3. Pengadaan staf, 
  4. Penyediaan fasilitas, 
  5. Penyediaan bahan-bahan, 
  6. Penyusunan penataran pendidikan, 
  7. Pemberian orientasi anggota-anggota staf, 
  8. Berkaitan dengan pelayanan murid khusus, 
  9. Pengembangan hubungan masyarakat, dan 
  10. Penilaian pengajaran. 
Kesepuluh tugas yang telah dikemukakan Harris dapat dikategorikan ke dalam tugastugas pendahuluan, tugas operasional dan tugas pengembangan. Tugas ini diilustrasikan Harris di halaman berikut:

Mengacu pada pendapat Harris dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya tugas pengawas sangat luas dan kompleks, namun dalam pelaksanaannya harus lebih terfokus pada pengembangan kemampuan guru, sebab mereka merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan  di sekolah. Oleh karena itu, umpan balik setelah pelaksanaan supervisi mutlak diperlukan agar guru bisa mengetahui kelebihan dan kelemahannya, sehingga mereka dengan segera dapat memperbaikinya. 

2. Tugas Supervisi Menurut Jon Wiles dan Joseph Bondi Tugas supervisi pembelajaran menurut Jon Wiles dan Joseph Bondi sebagaimana dikutip Nurtain (1989) adalah: 
(a) tugas administratif, 
(2) tugas yang berkaitan dengan kurikulum, dan (
3) tugas yang berkaitan dengan pembelajaran. Ketiga aspek tersebut dijelaskan secara ringkas berikut ini. 

a. Administrasi 
Tugas pengawas yang berkaitan dengan aspek administratif antara lain: 
1) Menyusun dan menetapkan prioritas tujuan umum 
2) Menetapkan standar dan mengembangkan kebijakan 
3) Mengadakan rencana jangka panjang 
4) Mendesain struktur organisasi 
5) Mengidentifikasi dan mengamankan sumber-sumber 
6) Memilih personalia dan staf 
7) Mengadakan fasilitas yang adekuat 
8) mengamankan dana yang diperlukan 
9) Mengorganisasikan pembelajaran 
10) Memajukan hubungan sekolah dan masyarakat 

b. Kurikulum 
Tugas pengawas yang berhubungan dengan kurikulum antara lain: 
1) Menetapkan tujuan khusus pengajaran 
2) Survai kebutuhan dan melakukan riset 
3) Mengembangkan program dan merencanakan perubahan 
4) Menghubungkan program pada berbagai pelayanan khusus 
5) Memilih bahan dan mengalokasikan sumber 
6) Orientasi dan penukaran staf pengajar dengan yang baru 
7) Menyarankan modifikasi dalam fasilitas 
8) Memperkirakan kebutuhan anggaran untuk pembelajaran 
9) Mempersiapkan program pembelajaran 
10) Mengembangkan dan menyebarluaskan uraian program sekolah

c. Pembelajaran 
Tugas pengawas yang berkaitan dengan pembelajaran mencakup: 
1) Mengembangkan rencana pembelajaran (silabus dan RPP) 
2) Menilai program pembelajaran (silabus dan RPP) 
3) Memprakarsai program baru 
4) Mendesain kembali organisasi pengajaran 
5) Menyampaikan sumber-sumber pengajaran 
6) Menasehati dan membatu guru-guru 
7) Menilai fasilitas dan mengatur modifikasi 
8) Mengedarkan dan menggunakan dana 
9) Melaksanakan dan mengoordinasikan program penataran 
10)Merujuk pada hasil penelitian dan kebutuhan masyarakat. 

Proses Kepemimpinan dalam Supervisi Beberapa studi kepemimpinan mengemukakan untuk dapat memelihara dan mengandalkan perubahan dalam penyelenggaraan organisasi sekolah mencakup: penilaian, penentuan prioritas, penyusunan desain, penetapan alokasi sumber-sumber, koordinasi dan pengarahan (Harris, 1985; Masaong, 2010) Proses ini diaplikasikan di sekolah dengan menganalisis kebutuhan peserta didik, penentuan prioritas terhadap kebutuhan untuk menjamin perhatian pada sesuatu yang dianggap urgen, mendisain urutan kegiatan secara selektif, menetapkan alokasi jumlah tenaga, waktu dan uang dalam urutan prioritas serta mengarahkan semua tindakan sesuai dengan kebutuhan yang diprioritaskan. Proses ini akan berakhir dan kembali pada proses penilaian awal pelaksanaan sebagai langkah awal perencanaan sekolah. Keenam proses kepemimpinan dalam supervisi ini secara lebih operasional diuraikan sebagai berikut: 

1. Penilaian 
Seorang pemimpin harus melakukan penilaian untuk mengetahui apakah program yang telah disusun sudah berjalan sesuai yang diharapkan. Tahapan-tahapan yang harus dilakukan menurut Harris (1985) mencakup:

Penganalisisan; melihat dengan penuh perhatian dan pandangan yang analitis dan kritis Peninjauan kembali; lakukan peninjauan kembali atau memeriksa secara kritis program yang dilakukan Pengukuran kemampuan/penampilan Perbandingan kemampuan/penampilan. 

2. Penentuan Prioritas 
Penentuan prioritas mencakup tujuan umum, tujuan khusus dan kegiatan-kegiatan dalam urutan yang penting. Penyusunan tujuan umum yang meliputi: 
a. Melakukan spesifikasi tujuan-tujuan khusus 
b. Memilih alternatif-alternatif dan 
c. Penetapan prioritas 

3. Penyusunan Disain 
Proses perencanaan atau penyusunan outline suatu sistem perubahan yang efektif melalui: 
a. Pengorganisasian; penetapan personil dan tugas-tugas yang harus dikerjakan setiap unsur. 
b. Pemikiran; menghimpun berbagai pemikiran dengan mengkombinasikan atau mengaplikasikan ide-ide baru dalam mewujudkan program yang telah disusun. 
c. Persiapan; mengatur fasilitas penunjang yang diperlukan oleh setiap unsur dan personil yang terlibat 
d. Pengsistimatisan; pengaturan ke dalam satu sistem, pengaturan sesuai dengan metodenya. e. Penyusunan program. 

4. Pengalokasian Sumber-sumber 
Proses pengalokasian sumber-sumber untuk dapat digunakan lebih efesien dilakukan dengan cara: 
a. Pemberian dan penetapan sumber-sumber sesuai dengan kebutuhan program 
b. Pendistribusian sumber-sumber di antara personalia atau program 
c. Pemerataan sumber-sumber menurut proporsi suatu divisi/bagian 
d. Penunjukan sumber-sumber untuk maksud yang spesifik 
e. Penetapan personalia untuk maksud-maksud atau program-program yang spesifik. 

5. Pengkoordinasian 
Koordinasi sangat penting dijalankan agar dapat mensinerjikan antara manusia dengan waktu, bahan-bahan dan fasilitas sehingga semua unsur dapat menjalankan tugas secara optimal. 

Tahapan-tahapan yang perlu dilakukan antara lain: 
a. Pengorganisasian; membawa sesuatu ke dalam tindakan bersama agar tindakan itu berjalan lancar dan dalam bentuk yang kongkrit. 
b. Pengharmonisan; membawa sesuatu ke dalam persesuaian atau keserasian 
c. Penyesuaian; membawa bagian-bagian pada kedudukan yang benar atau ke hubungan yang lebih efektif 
d. Penjadwalan; penetapan jadwal waktu dan urutan kejadian dan penetapan hubungan-hubungan. 

6. Pengarahan 
Proses mempengaruhi praktek pelaksanaan agar cocok dengan perubahan yang tepat dan esensial mencakup: 
a. Penunjukan, penetapan melalui surat keputusan 
b. Penentuan; peletakan aturan tindakan sebagai tuntunan atau arahan 
c. Pengaturan; penetapan atau penyesuaian waktu, jumlah, derajat atau harga 
d. Pembimbingan; pengaturan dan penentuan 
e. Pengspesifikasian prosedur-prosedur 
f. Memutuskan alternatif-alternatif. 

Tahapan-tahapan ini hendaknya dilakukan dalam pelaksanaan supervisi pembelajaran. Kaitannya dengan kepemimpinan, kepala sekolah/pengawas melakukan pembinaan baik yang berhubungan dengan kegiatan akademik maupun yang berkaitan dengan supervisi manajerial.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Dan Konsep Dasar Supervisi Pembelajaran"

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca