Pengertian Co-Branding Menurut Ahli

Pengertian Co-Branding
Co-branding (penggabungan merek) merupakan tindakan menggunakan nama merek terkenal dari dua perusahaan yang berbeda atas produk yang sama (Kotler dan Amstrong, 2001:363). Konsep co-branding menurut masyarakat umum adalah aktivitas pemasaran yang cukup luas dan melibatkan penggunaan dua merek atau lebih. Sedangkan menurut Rhenald Kasali doktor bidang consumer sciences-business administration, co-branding adalah “segala aktivitas yang harus dapat meningkatkan nilai tambah, entah berupa asosiasi baru yang positif, diferensiasi produk yang lebih cespleng, kepercayaan konsumen yang lebih bagus karena kepastian terhadap kualitas yang lebih besar, atau bahkan strategi-strategi pemasaran baru seperti jalur distribusi baru dan produk baru”.

Kasali mengungkapkan ada empat hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan yang melakukan co-branding agar dapat berhasil di pasar atau dapat diterima dan memenuhi harapan konsumen yaitu :

a. Faktor partner
Perusahaan yang akan melakukan co-branding harus memperhatikan asosiasi merek dari perusahaan yang bertindak sebagai ingredient branding maupun sebagai host branding. Tidak selamanya co-branding antara perusahaan dengan asosiasi merek yang sama-sama kuat selalu berhasil di pasar. Menurut riset yang ada suatu perusahaan dengan asosiasi merek yang kuat dalam jangka panjang akan lebih menguntungkan apabila melakukan co-branding dengan perusahaan yang memiliki asosiasi merek yang lebih lemah.

b. Pengalaman dengan produk
Ada kalanya merek yang lebih kuat menciptakan harapan yang berlebihan atas produk co-branded sehingga dapat menimbulkan ketidakpuasan dalam mencoba produk tersebut. Dimana kepuasan tersebut dapat diteruskan kepada merek ingredient yang menyebabkan evaluation kualitas jadi semakin rendah.

c. Atribut kualitas
Bila atribut kualitas tidak bisa diamati terutama pada produk-produk experience (produk yang membutuhkan pengalaman dari konsumen dalam mengkonsumsi produk tersebut agar dapat memberikan penilaian produk), co-branding bisa memberikan kepastian kualitas. Tetapi sebaliknya jika atribut kualitas dapat diamati maka kehadiran merek yang kuat kurang berperan karena konsumen menilai secara langsung(www.linkpdf.com, 24 Oktober 2010).

Keuntungan Co-branding
Para pemilik merek pasti punya cara yang berbeda-beda untuk menemukan bentuk co-branding yang menguntungkan karena co-branding menawarkan segudang keuntungan yang menarik tergantung pada kondisi pasar dan masing-masing merek yang bekerja sama. Adapun keuntungan co-branding (www.marketing.co.id, 28 Nopember 2010) antara lain :

a. Pendapatan dari Royalti
Bagi perusahaan yang produknya digunakan sebagai bahan (ingredient) untuk produk lain, sebuah kesepakatan co-branding bisa mendapatkan sumber pendapatan yang baru atau sumber pendapatan kedua. Perusahaan yang mereknya digunakan tersebut dapat menegosiasikan pembayaran tambahan atau pembayaran royalti.

b. Meningkatkan Penjualan
Dengan melakukan co-branding, sebuah perusahaan dapat meningkatkan penjualannya. Dengan menggabungkan merek yang setara atau mungkin lebih baik, penjualan bisa ditingkatkan. Bahkan sebuah perusahaan yang sudah mempunyai merek yang kuat pun masih bisa mendapatkan keuntungan dengan cara ini.

c. Kesempatan Memasuki Pasar yang Baru
Salah satu keuntungan melakukan co-branding, sebuah perusahaan dapat memasuki pasar yang tadinya tidak dapat dimasuki dengan cara menggandeng merek lain yang menguasai pasar yang dituju. Jadi sebuah perusahaan punya peluang untuk memperluas pasar dan mencapai target konsumen yang lebih banyak atau beragam.

d. Menawarkan Additional Benefit
Co-branding, selain bisa member keuntungan bagi masing-masing perusahaan, juga bisa memberikan benefit tambahan bagi pelanggan-pelanggan mereka. Beberapa benefit tambahan yang dapat diberikan kepada pelanggan, misalnya menawarkan pelanggan paket-paket penawaran yang lebih menarik, bonus tambahan dari partnernya, program-program menarik dari hasil kerja sama co-branding, penawaran kredit dari bank untuk produk tertentu dan lain-lain.

e. Meminimalisasikan Investasi
Kadang sebuah perusahaan ingin mengembangkan usahanya dengan memasuki pasar yang baru atau mencoba untuk mengembangkan produk baru. Ketimbang melakukannya sendirian, perusahaan tersebut bisa menghemat banyak dana dan pengeluaran dengan melakukan co-branding. Jika mendapatkan partner yang seimbang atau lebih baik dan melakukan co-branding, biaya yang dikeluarkan bisa dihemat dan hasil yang mungkin diperoleh bisa jadi lebih besar.

f. Mengurangi Risiko
Salah satu daya tarik co-branding adalah dapat mengurangi risiko kegagalan yang dapat terjadi dalam memasuki suatu pasar yang baru atau mencoba untuk meluncurkan produk yang baru tetapi tanpa mengurangi peluang untuk meraih keuntungan atau keberhasilan. Mencoba untuk memasuki pasar yang sama sekali baru, atau mencoba meluncurkan produk dengan varian yang sama sekali baru, berarti memulai segala sesuatunya dari awal. Bahkan untuk sebuah perusahaan dengan merek yang sudah kuat pun, hal ini mempunyai risiko yang tinggi.

g. Keuntungan Lebih Cepat Didapat
Dengan melakukan co-branding, peluang atau hasil yang diharapkan bisa lebih cepat diraih, karena usaha ini dilakukan secara bersama-sama dengan perusahaan yang sudah mempunyai reputasi baik di bidangnya masing-masing. Kepercayaan pelanggan pun lebih cepat didapatkan.

h. Harga Premium
Dengan melakukan co-branding, perusahaan bisa membuat harga yang premium, dan mempunyai peluang lebih untuk sukses di pasar dengan harga tersebut.

i. Mengkonsumsikan Kualitas Produk
Dengan melakukan co-branding, sebuah perusahaan dapat mengkomunikasikan keunggulan produknya dengan cepat, dan mendapatkan perhatian dan kepercayaan dari pelanggan dengan cepat pula.

j. Meyakinkan Pelanggan

Pelanggan mungkin ragu-ragu untuk mencoba produk atau sesuatu yang baru. Dengan melakukan kerja sama atau co-branding dengan pihak lain yang ahli di bidangnya, maka pelanggan dapat diyakinkan dengan dengan cepat untuk dapat mencoba produk tersebut.

k. Akses ke Teknologi Canggih
Sebuah perusahaan yang mengalami kelemahan atau kekurangan dalam teknologi, dapat melakukan co-branding dengan perusahaan lain yang memang mempunyai focus, reputasi, dan keahlian di bidang ini.

l. Memperkuat Pesan Iklan
Perusahaan yang melakukan co-branding bisa saling memberikan pesan-pesan yang saling mendukung dalam iklannya. Kedua perusahaan bisa memfokuskan diri pada bidang masing-masing dan pada advertising yang dibuat, serta bisa saling mendukung dengan pesan dan resputasinya masing-masing.

m. Meningkatkan Minat Pelanggan
Sejumlah pelanggan mungkin tidak berminat mencoba suatu merek atau produk tertentu. Tetapi dengan melakukan co-branding dengan pihak atau merek lain, pelanggan yang tadinya tidak tertarik, mungkin jadi berminat untuk mencoba merek atas produk tersebut.

Risiko dalam Co-branding
Adapun risiko-risiko dalam co-branding (www.marketing.co.id, 28 Nopember 2010) antara lain :

a. Kerakusan terhadap uang
Seringkali dalam kegiatan co-branding, ada pihak yang terlalu memfokuskan diri pada keuntungan finansial yang akan didapat, tanpa memperhatikan kepentingan kerja sama yang terjalin. Suatu kerja sama haruslah dibina dengan baik, terutama dalam co-branding, bukan untuk sementara saja. Bila masing-masing pihak tidak berpikir untuk kepentingan dan reputasi jangka panjang, dan hanya mementingkan diri sendiri untuk kepentingan finansial yang besar dan cepat saja, maka co-branding bisa menjadi bumerang masing-masing pihak.

b. Perbedaan Corporate Personality
Perusahaan-perusahaan yang melakukan co-branding haruslah dapat bekerjasama dengan baik. Bila masing-masing mempunyai gaya, atau personality yang berbeda, maka perlu dilakukan penyesuaian. Bila tidak, maka co-branding tidak akan berlangsung dengan baik.

c. Perubahan Status Finansial Partner
Bila salah satu pihak mengalami krisis dalam hal finansial, atau lebih buruk lagi, mengalami kebangkrutan, maka hal ini dapat menjadi masalah dalam kerja sama co-branding yang sudah terjalin.

d. Merger atau Takeover
Bila salah satu pihak melakukan merger atau diambil alih oleh pihak lain yang tidak terlibat dalam co-branding, hal itu dapat menimbulkan masalah pada kerja sama co-branding yang sudah dibuat. Kesepakatan co-branding, bisa gagal dan tidak dapat dilanjutkan karena kebijakan-kebijakan yang mungkin berubah.

e. Perubahan pada Perilaku Pasar

Kita hidup di zaman yang senantiasa berubah. Walaupun co-branding, telah berjalan baik, masing-masing pihak haruslah jeli dalam mempelajari pasar. Bila perilaku pasar mendadak berubah atau pesaing lain masuk ke dalam pasar, ini dapat menjadi ancaman serius.

f. Risiko Kehilangan Identitas
Perusahaan yang melakukan co-branding, mungkin saja dapat menjadi kehilangan identitas aslinya di mata pelanggan. Dalam co-branding, dua perusahaan mungkin bisa dilihat menjadi satu perusahaan dengan satu identitas di mata pelanggan. Jadi suatu perusahaan dapat mengalami perubahan image atau identitas di mata pelanggan.

g. Perubahan Positioning Partner
Jika pemilik merek memutuskan untuk mengubah positioning atau strategi yang berhubungan dengan target market-nya, ini akan menjadi masalah bagi partner co-branding-nya.

h. Kegagalan Memenuhi Target
Jika salah satu partner merasa kerja sama co-branding yang dilakukan gagal mencapai targetnya, maka akan datang risiko kerja sama itu bakal dihentikan.

i. Terciptanya “Single Brand”
Apabila pelanggan mulai melihat kedua brand sebagai satu brand, maka itu merupakan masalah besar yang membutuhkan tidakan cepat untuk mengembalikan situasi seperti semula.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Co-Branding Menurut Ahli"

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca