Pengertian Pola Komunikasi Menurut Ahli

Pengertian Pola Komunikasi
“Pola komunikasi diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami” (Djamarah, 2004:1).

“Dimensi pola komunikasi terdiri dari dua macam, yaitu pola yang berorientasi pada konsep dan pola yang berorientasi pada sosial yang mempunyai arah hubungan yang berlainan” (Sunarto, 2006:1) Tubbs dan Moss mengatakan bahwa “pola komunikasi atau hubungan itu dapat dicirikan oleh : komplementaris atau simetris. Dalam hubungan komplementer satu bentuk perilaku dominan dari satu partisipan mendatangkan perilaku tunduk dan lainnya. Dalam simetri, tingkatan sejauh mana orang berinteraksi atas dasar kesamaan. Dominasi bertemu dengan dominasi atau kepatuhan dengan kepatuhan” (Tubbs, Moss, 2001:26). Disini kita mulai melihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur sistem. Bagaimana orang merespon satu sama lain menetukan jenis hubungan yang mereka miliki.

Dari pengertian diatas maka suatu pola komunikasi adalah bentuk atau pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan pesan yang dikaitkan dua komponen, yaitu gambaran atau rencana yang meliputi langkah-langkah pada suatu aktifitas dengan komponen-komponen yang merupakan bagian penting atas terjadinya hubungan komunikasi antar manusia atau kelompok dan organisasi. Terdapat empat pola komunikasi antar suami dan istri menurut Joseph A.

Devito (2007:277-278) diantaranya :
1. Pola keseimbangan
Pola keseimbangan ini lebih terlihat pada teori dari pada prakteknya, tetapi Ini merupakan awal yang bagus untuk melihat komunikasi pada hubungan yang penting. Komunikasi yang terjalin antara suami istri sangat terbuka, jujur, langsung dan bebas.

2. Pola keseimbangan terbalik
Dalam pola keseimbangan terbalik, masing-masing anggota keluarga (suami-istri) mempunyai orientasi diatas daerah atau wewenang yang berbeda. Masing-masing suami istri adalah sebagai pembuat keputusan konflik yang terjadi antara keduanya (suami-istri), dianggap bukan ancaman oleh si suami atau si istri karena keduanya memiliki keahlian sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya.

3. Pola pemisah tidak seimbang
Pola pemisah tidak seimbang, satu orang dalam keluarga (si suami atau istri) mendominasi.

4. Pola Monopoli 
Dalam pola monopoli ini, si suami atau si istri sama-sama menganggap dirinya sebagai penguasa. Keduanya (suami istri ) lebih suka memberi nasehat dari pada berkomunikasi untuk saling bertukar pendapat.

Komunikasi Antar pribadi
Komunikasi memiliki berbagai jenis dan salah satu jenisnya yaitu komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi terjadi dalam konteks satu komunikator dengan satu komunikan (komunikasi diadik, dua orang) satu komunikator dengan dua komunikan (komunikasi triadik, tiga orang) lebih dari tiga orang biasanya dianggap komunikasi kelompok. Komunikasi antarpribadi dapat berlangsung secara tatap muka atau menggunakan media komunikasi antarpribadi (non media massa), seperti telepon. 

Dalam komunikasi antarpribadi, komunikator relatif cukup mengenal komunikan dan sebaliknya, pesan dikirim secara simultan dan spontan relatif kurang terstruktur, demikian pula halnya dengan umpan balik yang dapat diterima dengan segera. Dalam sirkuler, peran komunikator dan komunikan terus dipertukarkan, karenanya dikatakan bahwa kedudukan komunikator dan komunikan relatif setara. Proses ini lazim disebut dialog walaupun dalam konteks tertentu dapat juga terjadi monolog, hanya satu pihak yang mendominasi percakapan. Efek komunikasi antarpribadi tataran yang paling kuat diantara tataran komunikasi lainnya. Dalam komunikasi antarpribadi, komunikator dapat mempengaruhi langsung tingkah laku (efek Konatif) dari komunikasinya, memamfaatkan pesan verbal dan non verbal, serta segera berubah atau menyesuaikan pesannya apabila didapat umpan balik negatif. (Dani Fardiansyah, 2004:30-31)

Joseph A.Devito dalam bukunya “The Interpersonal Communication Book” mendefinisikan “komunikasi antar pribadi sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika”. (Marhaeni Fajar, 2009:78) Memahami definisi komunikasi antar pribadi ada tiga perspsektif, (Riswandi, 2009:81-84) yaitu:
1. Perspektif Komponensial
Dengan mengacu pada model komunikasi Harold Lasswell, komponen-komponen yang terdapat dalam komunikasi antar pribadi adalah sebagai berikut:
a. Pengirim-penerima
Komunikasi antarpribadi paling tidak melibatkan dua orang. Istilah pengirim-penerima digunakan untuk menekankan bahwa fungsi pengirim dan penerima ini dilakukan oleh setiap orang yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi. memproduksi dan mengirim pesan sekaligus menerima dan memahami pesan.

b. Encoding-decoding
Encoding adalah tindakan menghasilkan pesan. Artinya pesan-pesan yang akan disampaikan di kode atau di informasikan terlebih dahulu dengan kata-kata, simbol dan sebagainya. Sedangkan decoding adalah tindakan untuk menginterpretasikan dan memahami pesan-pesan yang diterima.

c. Pesan-pesan
Dalam komunikasi antarpribadi, pesan-pesan ini bisa berbentuk verbal atau non verbal, atau gabungan verbal dan non verbal.

d. Saluran
Komunikasi antarpribadi lazimnya para pelaku bertemu secara tatap muka, atau sebaliknya menggunakan suatu media seperti telepon, email.

e. Gangguan (Noise)
Gangguan adalah segala sesuatu yang mengganggu kejernihan pesan dalam proses komunikasi, sehingga sering kali pesan-pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan-pesan yang diterima.

f. Umpan Balik
Umpan balik memainkan pesan sangat penting dalam proses komunikasi antarpribadi, karena pengirim dan penerima pesan secara terus menerus dan secara bergantian memberikan umpan balik dalam berbagai cara baik verbal (dengan pertanyaan atau jawaban dalam kaitannya denga apa yang dibicarakan) maupun nonverbal (senyuman, anggukan, gelengan kepala). Umpan balik bisa positif, netral dan negatif.

g. Bidang pengalaman (field of experience)
Bidang pengalaman merupakan faktor penting dalam komunikasi. Komunikasi akan semakin efektif apabila para pelaku mempunyai bidang pengalaman yang sama. Sebaliknya komunikasi akan menjadi sulit jika para pelakunya mempunyai bidang pengalaman yang tidak sama.

h. Efek
Proses komunikasi selalu mempunyai berbagai akibat, baik positif maupun negatif pada salah satu atau keduanya.

2. Perspektif Proses Pengembangannya
Menurut perspektif ini, komunikasi adalah suatu proses yangberkembang, yaitu dari yang bersifat impersonal menjadi interpersonalatau intim. Artinya ada peningkatan antara para pelaku yang terlibat dalam komunikasi.

3. Perspektif relasional
Menurut pandangan ini, komunikasi antarpribadi didefinisikan sebagai komunikasi yang terjadi diantara dua orang yang mempunyai hubungan yang terlihat jelas diantara mereka. Misalnya komunikasi antarpribadi yang mencangkup disini adalah suami dan istri.

Hubungan Antar pribadi
Jalinan hubungan merupakan seperangkat harapan yang ada pada partisipan yang dengan itu mereka menunjukkan perilaku tertentu di dalam berkomunikasi. Jalinan hubungan antar individu hampir senantiasa melatar  belakangi pola-pola interaksi diantara partisipan dalam komunikasi antarpribadi. Seseorang yang baru saja berkenalan akan cenderung berhati-hati dalam berkomunikasi akan tetapi seseorang yang bertemu dengan teman akrab cenderung terbuka dan spontan, contohnya komunikasi yang dilakukan oleh suami istri (Parwito, 2007:3).

Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila pesan yang kita pahami tetapi hubungan diantara komunikan menjadi rusak “ tulis Anita Taylor et al (1977:187). ”banyak penyebab dari rintangan komunikasi berakibat kecil saja bisa ada hubungan baik diantara komunikan, sebaliknya pesan yang paling jelas, paling tegas, dan paling cermat tidak dapat menghindari kegagalan, jika terjadi hubungan Setiap kali kita melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan; kita menentukan kadar hubungan interpersonal, bukan hanya menentukan content tetapi juga relationship”.

Ada sejumlah model untuk menganalisa hubungan interpersonal, Coleman dan Hammen (1972:224-231) dalam Jalaluddin rakmat “psikologi komunikasi” diantaranya:
1. Model pertukaran sosial
Model ini menganggap hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisa adalah bahwa setiap individu secara suka rela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran, biaya, laba, dan tingkat perbandingan.

2. Model peranan
Bila model pertukaran sosial memandang hubungan interpersonal sebagai transaksi dagang, model peranan melihat sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan “naskah” yang telah dibuat masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan ekspedisi peranan (role expectation ) dan tuntutan peranan (role demands), memiliki keterampilan peranan (role skill), terhindar dari konflik peranan dan kerancuan peranan.

3. Model permainan
Model ini berasal dari psikiater Eric Berner (1964, 1972) yang menceritakannya dalam buku games people play. Analisis kemudian dikenal sebagai analisis transaksional. Dalam model ini, orang-orang berhubungan dalam berbagai macam-macam permainan. Mendasari permainan ini adalah tiga bagian kepribadian manusia yaitu orang tua, orang dewasa, anak (parent, adult, child).

4. Model interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat stuktural, integratif, dan medan. Semua sistem mempunyai subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak sebagai kesatuan. Untuk memahami sistem, kita harus melihat stuktur. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecederungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Dengan singkat model interaksional mencoba menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.

Hubungan interpersonal melibatkan dan membentuk kedua belah pihak. Individu saling berhubungan dengan individu yang lain untuk berbagi pengalaman. Bila pengalaman itu menyenangkan, bila permainan peranan berlangsung seperti yang diharapkan, bila terjadi hubungan yang konglementer, hubungan akan dilanjutkan. Sebaliknya, bila hubungan hanya menimbulkan ketidaknyamanan dan kesedihan maka individu akan mengakhiri hubungan tersebut. Hubungan interpersoanal berlangsung melewati tiga tahap : ( Jalaluddin rakmat;1993:125-129)

1. Pembentukan hubungan interpersonal
Tahap ini terfokus pada proses penyampaian dan penerimaan informasi dalam pembentukan hubungan (Stave Duck;1976:127). Sering disebut sebagai tahap perkenalan (acquaintance process). Yaitu fase pertama, fase kontak yang pemulaan (initial contact phase), ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi masing-masing, berusaha menggali secepatnya identitas, sikap, dan nilai. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Bila mereka merasa berbeda, mereka berusaha menyembunyikan dirinya. Hubungan interpersoanal mungkin diakhiri. Proses saling menilik ini disebut newcomb sebagai reciprocal scanning (saling menyelidiki). Pada tahap ini informasi yang dicari dan disampaikan umumnya berkisar mengenai data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebangainya.

2. Peneguhan hubungan interpersonal
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, perubahan memerlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan (equilibrium). 

Ada empat faktor yang amat penting dalam memelihara keseimbangan ini: keakraban, control, respons yang tepat, dan nada emosional yang tepat.
  • Keakraban : merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan ineterpersonal akan terpelihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat keakraban yang diperlukan.
  • Kontrol : kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Jika dua orang mempunyai pendapat yang berbeda sebelum mengambilan kesimpulan, siapakah yang harus berbicara lebih banyak, siapa yang menentukan, siapakah yang dominan. Konflik terjadi umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak yang mau mengalah.
  • Respons : artinya, respon A harus diikui oleh respons B yang sesuai. Dalam konteks ini membagi respons kedalam dua kelompok : konfirmasi dan diskonfirmasi (Tubbs dan Mos, 1974:259-298). Konfirmasi menurut Sieburg dan Larson adalah “any behavior that cause another person to value himself more”. Sebaliknya diskonfirmasi adalah “behavior that cause a person to value himself less” Konfirmasi akan memperteguh hubungan ineterpersonal, sedang diskonfirmasi akan merusaknya.
  • Nada emosi : keserasian suasana emosional ketika berlangsung komunikasi. 
3. Pemutusan hubungan interpersonal
Walaupun kita dapat menyimpulkan bahwa jika empat faktor di atas tidak ada, hubungan interpersonal akan diakhiri, penelitian tentang pemutusan hubungan masih jarang sekali dilakukan. Menurut R.D Nye (1973) dalam bukunya Conflict among Humans menyebutkan lima sumber konflik : 
  1. Kompetisi; salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain. 
  2. Dominasi; salah satu pihak berusaha mengendalikan piahaj lain sehingga orang itu merasa haknya dilanggar. 
  3. Kegagalan; masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai. 
  4. Provokasi; salah stu piha terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan yang lain. 
  5. Perbedaan nilai; kedua belah piahak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut”.
Pola-pola komunikasi interpersonal mempunyai efek yang berlainan pada hubungan interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka. Yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan, tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Agar hubungan interpersonal menumbuhkan hubungan yang baik, berjalan lancar dan tidak mudah terpecah, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan diantaranya: ( Jalaluddin rakmat;1993:129-138) 

1. Percaya (trust)
Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal, Faktor percaya adalah paling penting. Dengan kita percaya kepada orang lain dapat meningkatkan komunikasi interpersonal karena membuka saluran komunikasi, memperjelas pengiriman dan penerimaan informasi serta memperluas peluang komuikan untuk mencapai maksudnya.

2. Sikap Suportif
Sikap yang mengurangi sikap defensive dalam komunikasi. Orang bersifat defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis. Sudah jelas dengan sikap defensif komunikasi interpersonal akan gagal, karena orang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi ketimbangmemahami pesan orang lain.

3. Sikap Terbuka
Sikap terbuka (open-mindedness) amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi yang efektif. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Pola Komunikasi Menurut Ahli"

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca