Pengertian Permainan Menurut Ahli

Permainan 
Salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi pada usia 6-13 tahun adalah seorang anak mampu untuk menyesuaikan diri dengan teman sebayanya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan anak harus berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sebaya , sebagian besar interaksi teman sebaya selama masa anak-anak adalah melibatkan permainan.Menurut Hurlock (2010: 320) tidak ada bidang lain yang lebih benar kecuali belajar menjadi seseorang yang sosial. Karena belajar sosial bergantung pada kesempatan berhubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dank arena hal ini terutama terjadi dalam kegiatan bermain, maka bermain dianggap sebagai alat yang penting bagi sosialisasi. Berikut penjelasan tentang permainan: 

Pengertian Permainan 
Menurut Santrock (2006: 273) permainan (play) adalah suatu kegiatan menyenangkan yang dilaksanakan untuk kepentingan kegiatan itu sendiri. 

Menurut Freud dan Erickson ( dalam Santrock, 2006: 273) permainan adalah suatu bentuk penyesuainan diri manusia yang sangat berguna, menolong anak menguasai kecemasan dan konflik. Karena tekanan tekanan terlepaskan didalam permainan, anak dapat mengatasi masalah-masalah kehidupan. Permainan memungkinkan anak melepasakan energi fisik yang berlebihan dan membebaskan perasaan-perasaan terpendam. Menurut Daniel Berlyne (dalam Santrock, 2006: 273) menyatakan permainan sebagai suatu yang mengasyikan dan menyenangkan karena permainan itu memuaskan dorongan penjelajahan kita. Dorongan ini meliputi keingintahuan dan hasrat akan informasi tentang suatu yang baru atau yang tidak biasa. Permainan adalah suatu alat bagi anak-anak untuk menjelajahi dan mencari informasi baru secara aman, sesuatu yang mungkin mereka tidak lakukan bila tidak ada suatu permainan. Permainan mendorong perilaku penjelajahan ini dengan menawarkan anak-anak kemungkinan-kemungkinan kebaruan ( novelty), kompleksitas, kejutan dan keanehan. Sedangkan menurut Romlah (2001: 118) permainan merupakan cara belajar yang menyenangkan karena dengan bermain anak-anak belajar sesuatu tanpa mempelajarinya. Apa yang dipelajarinya ini disimpan dalam pikiranya dan akan dipadukan menjadi satu kesatuan dengan pengalaman-pengalaman lain yang kadang tanpa disadari. Freeman dan Munandar (dalam Ismail, 2006: 11) mendefinisakan permainan sebagai suatu aktifitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik secara fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional anak. 

Menurut Joan Freeman dan Utami Munandar (2001: 263) mengemukakan pandangan beberapa ahli psikologis dan sosiologi : 
  1. Anak mempunyai energi berlebih karena terbebas dari segala macam tekanan, baik tekanan ekonomis maupun sosial, sehingga ia mengungkapkan energinya dalam bermain (Schiller & Spencer) 
  2. Melalui kegiatan bermain, seorang anak menyiapkan diri untuk bidupnya kelak jika telah dewasa. Misalnya, bermain peran secara tidak sadar ia menyiapkan diri untuk peran atau pekerjaannya di masa depan (Karl Groos) 
  3. Melalui bermain anak melewati tahap-tahap perkembangan yang sama dari perkembangan sejarah umat manusia (Teori Rekapitulasi). Kegiatan-kegiatan seperti berlari, melempar, memanjat, dan melompt merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari dari generasi ke generasi (Stanley hall) 
  4. Anak bermain (berekreasi) untuk membangun kembali energi yang telah hilang. Bermain merupakan medium untuk menyegarkan badan kembali (revitalisasi) setelah bekerja selama berjam-jam (Lazarus). 
  5. Melalui kegiatan bermain, anak memuaskan keinginan-keinginan yang terpendam atu tertekan. Dengan bermain ank seperti mencari kompensasi untuk apa yang tidak ia peroleh didunia nyata, untuk keinginan-keinginan tidak mendapat pemuasan (Mazab Psikoanalisis). 
  6. Bermain juga memungkinkan anak melepaskan perasaan-perasaan dan emosinya, yang dalam realitas tidak dapat diungkapkanya. 
  7. Kepribadian terus berkembang dan untuk pertumbuhan yang normal, perlu ada rangsangan (stimulus), dan bermainan memberikan stimulus ini untuk pertumbuhan (Appleton). 
Dari beberapa pengertian dan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa permainan adalah suatu media yang mengasyikan dan memuaskan bagi anak untuk mempelajari sesuatu, dengan permainan anak belajar suatu hal tanpa disadari namun selalu diingat dan disimpan dalam memorinya karena sifatnya menyenangkan dan membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional. Dengan permainan anak tidak akan merasa bosan dan selalu antusias untuk mempelajari suatu hal yang belum ia ketahui. Permainan yang dirancang sedemikian rupa namun harus tetap dalam koridor kedisiplinan dan dapat merangsang anak dalam perkembangannya. 

Jenis Permainan 
Freeman dan Munandar (2000: 265-266) menyatakan ada beberapa jenis permainan yaitu eksploratif, konstruktif, destruktif dan kreatif. Berikut adalah penjelasan dari jenis-jenis permainan, yaitu: 

1) Bemain eksploratif 
Bermain eksploratif meliputi eksplorasi diri dan juga eksplorasi lingkungan atau dunia seseorang. Proses mengeksplorasi badan, pikiran, dan perasaan, melalui gerakan, penglihatan, pendengaran, dan perabaan, anak mengenal dunianya. Dunia anak mencangkup diri sendiri,ruangan, serta benda-benda di sekelilingnya. 

2) Bermain konstruktif 
Bermain konstruktif dapat mengikuti proses eksplorasi material. Anak terlibat membentuk dan menggabungkan objek-objek. Ia bereksperimen dengan balok-balok kayu dari berbagai bentuk dan ukuran, dan dengan bahan-bahan lain, seperti tongkat, batu, biji-biji, tanah liat, dan pasir. Dengan menumpuk, memasang, mencocokan, mencari keseimbangan antara bagian-bagian, anak membuat rumah, menara, benteng, dan sebagainya. 

3) Bermain destruktif 
Anak berekperimen dengan benda-benda yang diperlakukan secara deskrutif, yaitu melempar, memecahkan, menendang, menyobek-nyobek, atau membanting sesuatu. Suara dari sesuatu yang runtuh, roboh, jatuh, pecah, dan sebagainya memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak. ia akan menyusun suatu menara dan merobohkannya kembali. Ia dapat merusak sesuatu karena ia ingin tahu bagaiman sesuatu bekerja. 

4) Bermain kreatif 
Bermain kreatif dapat mengikuti tahap eksperimen dengan material untuk membuat benda-benda. Dalam bermain kreatif, anak anak menggunakan imajinasinya, pikiranya, dan pertimbanganya untuk menciptakan sesuatu, atau membuat kombinasi-kombinasi baru daru komponen-komponen alat permainan atau menggunakan bahan-bahan tidak terpakai lagi (daur ulang). Dengan material yang tersedia, ia menggambar, melukis, membuat pola-pola sebagai ungkapan perasaanya. Apa yang diciptakan seorang anak mungkin tidak jelas bagi orang dewasa, hanya anak dapat menyelasaikan sendiri. Selain jenis permainan diatas terdapat jenis permainan anak yang diteliti secara lebih luas. Bergin dalam Santrok (2002: 274-275) menyebutkan diantara jenis-jenis permainan anak yang diteliti secara lebih luas adalah permainan sensorimotor/praktis, permainan pura-pura/simbolis, permainan sosial, permainan konstruktif, dan games. Berikut penjelasannya : 

1) Permainan Sensorimotor/Praktis 
Permainan Sensorimotor adalah perilaku yang diperlihatkan oleh bayi untuk memperoleh kenikmatan dari melatih perkembangan (skema) sensori motor mereka. Permainan Praktis melibatkan pengulangan perilaku ketika ketrampila-ketrampilan baru sedang dipelajari atau ketika penguasaan dan koordinasi ketrampilan-ketrampilan fisik atau mental diperlukan dalam games atau olahraga. Permainan sensormotor, yang sering kali melibatkan permainan praktis, utamanya muncul pada masa bayi, sedangka permainan praktis dapat terjadi sepanjang hayat. Rubin, Fein, & Vandenbreg, 1983 dalam Santrok (2002: 274 ) menunjukan bahwa permainan praktis merupakan sepertiga kegiatan permainan anak prasekolah, tetapi kuarng dari seperenam kegiatan permainan anak sekolah dasar. Walaupun permainan praktis menurun di tahun-tahun sekolah dasar, kegiatan permainan praktis sepeti berlari, melompat, meluncur, berputar-putar, dan melempar bola atau benda-benda lain sering diamati dilapangan permainan di sekolah-sekolah dasar. 

2) Permainan Pura-pura/simbolis 
Permainan Pura-pura/simbolis adalah permainan dimana anak belajar mentransformasikan benda-benda dengan mengantikan benda itu dengan benda lain dan memperlakukan benda tersebut seperti benda yang digantikannya. Seperti seorang anak perempuan yang menganggap boneka sebagai anaknya dan memperlakukan boneka tersebut seperti seorang anak. di dalam permainan pura-pura, anak-anak mencobakan banyak peran berbeda. Beberapa peran seperti peran seperti ibu guru, adalah peran yang berasal dari dunia nyata. Peran lain seperti spiderman dan batman, datang dari fantasi. 

3) Permainan Sosial 
Permainan Sosial ialah permainan yang melibatkan interaksi sosial dengan teman - teman sebayanya. Selain permainan sosial dengan teman teman sebaya dan permainan kelompokm pura-pura atau sosiodrama, bentuk lain permainan sosial ialah permainan kelompok yang kasar dan kacau atau permainan yang bersifat bermusuhan dengan berlari mengejar, melompat, terjatuh dan memukul. 

4) Permainan Konstruktif 
Permainan Konstruktif mengkombinasikan kegiatan sensorimotor/praktis yang berulang dengan representasi gagasa-gagasan simbolis. Permainan konstruktif terjadi ketika anak-anak melibatkan diri dalam suatu kreasi atau konstruksi suatu produk atau suatau pemecahan masalah ciptaan sendiri. 

5) Games 
Ganes ialah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh kenikmatan yang melibatkan aturan dan seringkali kompetisi dengan satu orangatau lebih. Menurut Eiferman, 1971 (dalam Santrok, 2002: 275) dalamminvestigasi , permainan game [aling banyak dilakukanterjadi antara usia 10 dan 12 tahun. Dalam tahun-tahun sekolah dasar, games menonjolkan makna suatu tantangan. 

Faktor yang Mempengaruhi Permianan 
Menurut Hurlock (2010: 327) ada beberapa faktor yang mempengaruhi permainan pada anak, yaitu kesehatan, perkembangan motorik, intelegensi, jenis kelamin, lingkungan, status sosio-ekonomi, jumlah waktu bebas, dan peralatan bermain. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing faktor tersebut : 

1) Kesehatan 
Semakin sehat anak, semakin banyak energinya untuk bermain aktif, seperti permainan dan olahraga. Anak yang kekurangantenaga lebih menyukai hiburan.

2) Perkembangan motorik 
Permainan anak pada setiap usia melibatkan koordinasi motorik. Apa saja yang akan dilakukan dan waktu bermainnya bergantung pada perkembangan motorik mereka. Pengendalian motorik yang baik memungkinkan anak terlibat dalam permainan aktif. 

3) Intelegensi 
Pada setiap usia, anak yang pandai lebih aktif ketimbang yang kurang pandai, dan permainan mereka lebih menunjukan kecerdikan. Dengan bertambahnya usia, mereka lebih menunjukan perhatian dalam permainan kecerdasan, dramatic,konstruksi, dan membaca. Anak yang pandai menunjukan keseimbangan perhatian bermain yang lebih besar, termasuk upaya menyeimbangkan factor fisik dan intelektual yang nyata. 

4) Jenis kelamin 
Anak lelaki bermain lebih kasar ketimbang anak perempuan dan lebih menyukai permainan dan olahraga ketimbang berbagai jenis permainan lain. Pada awal massa kanak-kanak, anak laki-laki menunjukan perhatian kepada berbagai jenis permainan yang lebih banyak ketimbang anak perempuan tetapi sebaliknya terjadi pada akhir masa kanak-kanak. 

5) Lingkungan 
Anak dari lingkungan yang buruk kurang bermain ketimbang anak lainya karena kesehatanya yang buruk, kurang waktu, peralatan, dan ruang. Anak yang berasal dari lingkungan desa kurang bermain ketimbnag mereka yang berasal dari lingkungan kota. Hal ini karena kurangnya teman bermain dan kurangnya peralatan serta waktu bebas. 

6) Status sosio-ekonomi 
Anak dari kelompok sosio-ekonomi lebih tinggi lebih menyukai kegiatan yang mahal, seperti lomba atletik, bermain sepatu roda, sedangkan mereka dari kalangan bawah terlihat dalam kegiatan yang tidak mahal seperti bermain bola dan berenang. Kelas sosial mempengaruhi buku yang dibaca dan film yang ditonton anak, jenis kelompok rekreasi yang dimilikinya dan supervesi terhadap mereka. 

7) Jumlah waktu bebas 
Jumlah waktu bermain terutama bergantung pada status ekonomi keluarga. Apabila tugas rumah tangga atau pekerjaan menghabiskan waktu luang mereka, anak terlalu lelah untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan kegiatan besar. 

8) Peralatan bermain 
Peralatan bermain yang dimiliki anak mempengaruhi permainanya, missalnya, dominasi boneka dan binatang buatan mendukung permainan pura-pura, banyaknya balok, kayu, cat air, dan lilin mendukung permainan yang sifatnya konstruktif. 

Pengaruh yang Ditimbulkan dari Bermain 
Menurut Hurlock (2010: 323) aktivitas bermain memiliki pengaruh yang besar terhadap hal-hal berikut :

1) Perkembangan fisik 
Bermain aktif penting bagi anak untuk mengembangnkan otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya. Bermain juga berfungsi sebagai penyalur tenaga yang berlebihan, yang apabila dipendam akan membuat anak tegang, gelisah ddan mudah tersinggung. Dengan bermain lompat tali dapat merangsang pertumbuhan anak sehingga anak tumbuh tinggi, berlari, melompat, juga dapat merangsang pertumbuhan fisik anak. 

2) Dorongan berkomunikasi 
Agar dapat bermain dengan baik bersama anak lain, anak harus belajar komunikasi, dalam arti mereka dapat mengerti dan sebaliknya, mereka harus belajar mengerti apa yang dikomunikasikan anak lain. 

3) Penyaluran bagi energi emosional yang terpendam. 
Bermain merupakan sarana bagi anak untuk menyalurkan ketegangan yang disebabakan oleh pembatasan lingkungan terhadap perilaku mereka. Karena dengan bermain bersama teman-teman anak dapat lebih rileks disbanding ia harus selalu dirumah dengan situasi rumah yang sama setiap harinya. Melalui bermain energi anak taersalurka sehingga ia dapat tumbuh sehat dan emosi anak dapat tersalur karena dengan bermain anak dapar tertawa dan berteriak untuk melepaskan emosi. 

4) Penyalur bagi kebutuhan dan keinginan. 
Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat terpenuhi dengan cara lain seringkali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak dapat mencapai peran “pemimpin” dalam kehidupan nyata mungkin akan memperoleh pemenuhan keinginan itu dengan menjadi peran “pemimpin” disebuah permainan, seperti menjadi kapten. 

5) Sumber belajar.
Bermain member kesempatan untuk mempelajari berbagai hal melalui buku, televise, atau menjelajah lingkungan yang tidak diperoleh anak dari belajar di rumah atau di sekolah. Dari bermian tersebut anak dapat belajar banyak hal seperti kejujuran, tata tertib yang harus selalu ia taati, belajar kerja sama. Selain itu dari beberapa jenis permaianan anak juga dapat belajar melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan dari permainan. Sebagi contoh permainan bisik berantai dilakukan dengan tujuan anak belajar mendengar efektif dan meyampaikan sesuatu sesuai dengan yang ia dengar. 

6) Rangsangan bagi kreativitas. 
Melalui eksperimentasi (percobaan) dalam bermain, anak-anak menemukan bahwa merancang sesuatu yang baru, dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan. Selanjutnya mereka dapat mengalihkan minat kreatifitasnya ke situasi diluar dunia bermain. Saat anak bermain dan mencoba sesuatu yang ia pikir sebuah permainan namun hasilnya berhasil dan dapat digunakan untuk hal lain yang berhubungan dengan belajarnya atu hal lain dan dari kreativitas yang diawali dari bermain itu anak selalu tertangtang untuk melakukan eksperimentasi sehingga kreativitas dan kemampuannya semakin berkembang.

7) Perkembangan wawasan diri. 
Dengan bermain bersama anak lain, mengetahui tingkat kemampuannya di bandingkan teman bermainnya. Ini memungkinkan mereka untuk megembangkan konsep dirinya (self concept) dengan lebih pasti dan nyata. Ketika ia ikut bermain dan ia kalah ia dapat belajar dari situ diman kekurangnya disbanding temannya dan dilain waktu ia akan berusaha untuk jadi lebih baik lagi sehingga ia lebih unggul disbanding teman mainya yang lain. 

8) Belajar bermasyarakat atau bersosialisasi.
Dengan bermain dengan bersam anak lain, mereka belajar bagaimana membentuk hubungan sosial, bagaimana menghadapi, dan memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.dengan bermain anak terbiasa menghadapi bermacam-macam watak orang, berkomunikasi, mengenal dan memahami teman-temannya. 

9) Standart moral. 
Walau anak belajar dirumah dan disekolah tentang apa saja yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standart moral paling teguh selain dalam kelompok bermain. Karena dalam bermain selalu da peraturan yang pasti harus diikuti oleh anak dan dari situ anak belajar tentang moral megenai kepatuhan, kejujuran, kesetia kawanan, dll. 

10) Belajar bermain sesuai denagn peran jenis kelamin 
Anak belajar dan disekolah mengenai apa saja peran jenis kelamin yang disetujui. Akan tetapi, mereka segera menyadari bahwa mereka juga harus 63 

menerimanya bila ingin menjadi anggota kelomok. Segai contohnya dalah ketika bermain bola seorang perempuan masuk kedalam kelompok sudah jelas anak laki-laki lain pasti akan menolaknya. 

11) Perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan.
Dari hubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dalam bermain, anak belajar bekerjasama, murah hati, jujur, sportif, dan disukai orang lain. Keperibadian-kepribadian tersebut yang diharapkan dapa didapatkan anak dari kegiatan bermain bersam teman sebayanya. Dari beberapa penjelasan diatas dapat kita lihat pengaruh dari kegiatan bermain yang dilakukan anak, dari permainan anak dapat belajar banyak hal yang tidak dengan ia mudah dapatkan di kegiatan lain. Karena dengan permianan tersebut anak belajar banyak dan tanpa mereka sadari banyak hal-hal ia mereka pegang teguh dari kegiatan permainan. Sebagai contohnya adalah dengan mereka bermain anak anak belajar dan menerapkan kedisiplinan tanpa mereka sadari karena mereka belajar mematuhi aturan dari permaian. Anak juga belajar berkomunikasi dengan teman sebaya dalam permainan. Sebagai contoh adalah dalam permainan dimana anak harus menata sebuah poster yang sudah digunting seperti puzzle disitu anak belajar untuk berkomunikasi bersama satu sama lain agar gambar bisa menjadi satu gambar utuh. 

Efektivitas Permainan dalam Bimbingan Kelompok 
Efektivitas bimbingan kelompok dapat dibentuk dengan adanya permainan karena dengan adanya permainan akan terbentuk dinamika kelompok yang akan menghangatkan suasana. Menurut Prayitno (1995: 43) dengan permainan akan terbangun suasana yang hangat dalam hunbungan antaranggota kelompok dan sekaligus suasana kebersamaan. Menurut Prayitno (1995:43) syarat dan fungsi permainan dalam bimbingan kelompok sebagai berikut. 

1) Syarat Permainan adalah sebagai berikut : 
a. Dilakukan oleh seluruh anggota kelompok (termasuk pemimpin kelompok) 
b. Bersifat gembira atau lucu 
c. Tidak memakan tenaga atau melelahkan 
d. Sederhana 
e. Waktunya singkat 

2) Fungsi Permainan adalah sebagai berikut : 
a. Mengakrabkan anggota kelompok 
b. Menghangatkan atau menumbuhkan kehidupan kelompok 
c. Memecah kebekuan dalam kelompok 
d. Memberikan kegembiraan guna untuk menyegarkan kembali pikiran anggota kelompok. 

Menurut Nursalim dan suradi dalam Restyowati dan Najlatun (2010: 4) permainan digunakan sebagai objek untuk melepaskan ketegangan - ketegangan psikis dari individu. Dengan adanya individu dapat melampiaskan ketegangan - ketegangan emosinya. 

Dalam prosedur pelaksanaan bimbingan kelompok permainan dilakukan pada tahap pembentukan sebagai upaya untuk memecahkan kebekuan dan keakraban diantara para anggota kelompok. selain itu permainan juga dilakukan pada tahap kegiatan sebagai selingan saat akan menuju pada topik kedua yang akan dibahas atau pada saat menuju tahap pengakhiran. Pada tahap ini permainan diadakan untuk menciptakan suasana rileks dan menghilangkan kejenuhan pada kelompok. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik permainan merupakan salah satu teknik dari bimbingan kelompok yang dapat membangun suasana hangat dalam hubungan antar anggota kelompok dan sekaligus suasana kebersamaan. Dengan begitu tercipata dinamika kelompok yang akan membuat kegiatan bimbingan kelompok ini efektif dan berjalan lancar tanpa ada kecanggungan antar anggota. Keefektifan proses bimbingan kelompok yang tercapai maka fungsi dari bimbingan kelompok juga akan tercapai secara efektif. Tujuan yang ingin dicapai yaitu meningkatnya komunikasi antar teman sebaya. Dengan adanya kegiatan permainan akarn terlihat dan terbentuk komunikasi diatara kelompok sebaya dan diharapkan dapat meningkatkan komunikasi antar teman sebaya. 

Bimbingan Kelompok Berbasis Permainan sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Antar Teman Sebaya Siswa Kelas V SD Negeri 1 Parakancanggah. 
Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki setiap individu berbeda satu sama lainya. Ada anak yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang bagus dan ada pula kuranga atau tidak bagus. Hal tersebut dapat terjadi karena banyak faktor didalamnya. Menurut De Vito dalam Sugiyo (2005: 14) ada lima faktor yang mempengaruhi kemampuan komunikasi antarpribadi yaitu keterbukaan, empati, mendorong atau dukungan,rasa positif dan kesamaan. Terdapat individu yang memiliki kemampuan komunikasi antar teman sebaya yang rendah yang dapat menghambat perkembanganya dan dapat membuat siswa tidak diterima di kelompok. 

Havighurst sebagaimana dikutip oleh Furqon (2005: 36) salah satu tugas perkembangan yang harus terpenuhi oleh anak usia 6-13 tahun adalah belajar menyesuaikan diri dengan teman sebayanya sehingga siswa harus dapat berkomunikasi untuk dapat memenuhi tugas perkembangan tersebut dengan begitu pula siswa dapat diterima dalam kelompoknya. Dilihat secara umum rata-rata anak memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Namun bila diperhatikan secara khusus atau secara individual kemampuan secara individu berbeda. Ada beberapa anak yang tergolong kesulitan dalam berkomunikasi dengan teman sebaya. 

Keadaan seperti itu harus segera ditangani karena jika tidak kemampuan komunikasi antar teman sebayanya terhambat itu dapat menyebabkan terhambatnya pemenuhan tugas perkembangannya dan mengganggu perkembangannya yang tentu saja akan menyebabkan tidak terpenuhinya tugas perkembangan selanjutnya. Murid sekolah dasar merupakan individu yang sedang dalam proses perkembangan. Perkembangan mereka dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah komunikasi antar pribadi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu murid berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman-temannya adalah dengan menyelenggarakan bimbingan kelompok. 

Seperti yang disebutkan Depdikbud yang dikuti oleh Furqon (2005: 51) menjelaskan tujuan layanan bimbingan disekolah dasar adalah untuk membntu siswa agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangan yang meliputi aspek sosial pribadi, pendidikan dan karir sesuai dengan tuntutan dan lingkungan. Dalam aspek sosial pribadi layanan bimbingan dan konseling salah satunya adalah membantu agar siswa mampu mengembangkan ketrampilan komunikasi antar pribadi. Layanan yang dapat digunakan untuk dapat mengembangkan komunikasi antar pribadi tersebut salah satunya adalah dengan kegiatan bimbingan konseling. Melaui bimbingan kelompok siswa dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasinya dengan teman sebaya. 

Mengingat bahwa tujuan umum dari bimbingan kelompok adalah mengembangkan kemampuan sosialisasi siswa, khususnya kemampuan berkomunikasi antar anggota. Tujuan khusus dari bimbingan kelompok menurut Prayitno (2004: 3) Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang diwujudkannya tingkah laku yang lebih efektif. Dari bimbingan kelompok siswa dapat memperoleh pengalaman, pengetahuan dan informasi yang berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi antar teman sebaya. 

Salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi pada usia 6-13 tahun adalah seorang anak mampu untuk menyesuaikan diri dengan teman sebayanya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan anak harus berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sebaya , sebagian besar interaksi teman sebaya selama masa anak-anak adalah melibatkan permainan.Menurut Hurlock (2010: 320) tidak ada bidang lain yang lebih benar kecuali belajar menjadi seseorang yang sosial. Karena belajar sosial bergantung pada kesempatan berhubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dan karena hal ini terutama terjadi dalam kegiatan bermain, maka bermain dianggap sebagai alat yang penting bagi sosialisasi. Permainan adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi yang dimiliki siswa Sekolah Dasar. 

Dari pernyataan sebelumnya peneliti memilih permainan sebagai upaya meningkatkan kemampuan komunikasi antar teman sebaya, selain itu permainan digunakan karena dalam permainan ini adalah kegiatan yang menyenangkan saat dilakukan dan kita bisa sekaligus belajar didalamnya seperti yang disebutkan oleh Romlah (2001: 118) permainan merupakan cara belajar yang menyenangkan karena dengan bermain anak-anak belajar sesuatu tanpa mempelajarinya. Tanpa anak sadari anak bermain dan menikmati itu dan disitu ia belajar banyak hal yang bisa ia tanamakan dalam hidupnya salah satunya adalah belajar meningkatkan kempuan komunikasi anak, tanpa anak sadari saat bermain mereka akan belajar berkomunikasi dengan teman sebayanya dengan suasana yang nyaman dan santai tersebut anak tidak merasa tegang dan tertekan sehingga lebih mudah dan tidak canggung untuk berkomunikasi. Dari kegiatan bimbingan kelompok anak belajar berpendapat dan didalam bimbingan kelompok berbasis permainan dapat menciptakan dinamika kelompok sehingga siswa berkomunikasi dengan santai dan terbuka. Dari situ dapat dilihat peningkatan kemapuan komunikasi antar pribadi siswa.

Dari penjelasan tersebut dapat kita lihat bahwa bimbingan kelompok bebasis permainan dapat kita gunakan untuk meningkatkan kemampuan bakomunikasi antar teman sebaya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Permainan Menurut Ahli"

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca