Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar Menurut Ahli

Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar
Dalam proses pembelajaran, tugas guru tidak hanya sekedar menyampaikan atau mentransfer ilmu atau bahan pelajaran kepada peserta didik. Guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggung jawab atas perkembangan peserta didik. Kegiatan memahami kesulitan belajar peserta didik ini dikenal dengan istilah diagnosis kesulitan belajar.

Dalam pengertian diagnosis kesulitan belajar terdapat dua istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu yaitu istilah diagnosis dan kesulitan belajar. Banyak ahli mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian diagnosis antara lain, menurut Harriman dalam bukunya Handbook of Psychological Term, diagnosis adalah suatu analisis terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari pola gejala-gejalanya. Jadi diagnosis merupakan proses pemeriksaan terhadap hal-hal yang dipandang tidak beres atau bermasalah. Sedangkan menurut Webster, diagnosis diartikan sebagai proses menentukan hak menentukan permasalahan kikat kelainan atau ketidakmampuan dengan ujian, dan melalui ujian tersebut dilakukan suatu penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta yang dijumpai , yang selanjutnya untuk menentukan permasalan yang dihadapi. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosis adalah penentuan jenis masalah atau kelainan dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala yang tampak.

Setelah kita pahami pengertian diagnosis, selanjutnya kita bahas mengenai kesulitan belajar. Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada peserta didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah norma yang telah ditetapkan. bahwa kesulitan belajar itu menunjukkan adanya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang dicapai oleh peserta didik (prestasi actual). Blassic dan Jones juga mengatakan bahwa peserta didik yang memiliki intelegensi normal, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar, baik dalam persepsi, ingatan, perhatian ataupun dalam fungsi motoriknya.

Jadi kesulitan belajar yang dialami peserta didik tidak selalu disebabkan oleh intelejensi atau angka kecerdasannya yang rendah. Kesulitan atau hambatan belajar yang dialami oleh peserta didik dapat berasal dari faktor fisiologik, psikologik, instrument, dan lingkungan belajar. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosis kesulitan belajar merupakan proses menentukan masalah atau ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar belakang penyebabnya dan atau dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.

Berikut ini akan dikemukakan permasalahan belajar peserta didik menurut Warkitri dkk (1990) sebagai berikut :
  1. Kekacauan Belajar (Learning Discorer) yaitu suatu keadaan dimana proses belajar anak terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.
  2. Ketidakmampuan Belajar (Learning Disability) yaitu suatu gejala anak tidak mampu belajar atau selalu menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab sehingga hasil belajar yang dicapai berada dibawah potensi intelektualnya.
  3. Learning Disfunction yaitu kesulitan belajar yang mengacu pada gejala proses belajar yang tidak dapat berfungsi dengan baik, walaupun anak tidak menunjukkan adanya subnormal mental, gangguan alat indera ataupun gangguan psikologis yang lain.
  4. Under Achiever, adalah suatu kesulitan belajar yang terjadi pada anak yang memiliki potensi intelektual tergolong di atas normal tetapi prestasi belajar yang dicapai tergolong rendah.
  5. Lambat Belajar (Slow Learner) adalah kesulitan belajar yang disebabkan anak sangat lambat dalam proses belajarnya, sehingga setiap melakukan kegiatan belajar membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan anak lain yang memiliki tingkat potensi intelektual yang sama.
Kedudukan Diagnosis Kesulitan Belajar dalam Pembelajaran
Keberhasilan belajar peserta didik dalam proses pembelajaran ditandai dengan penguasaan bahan pelajaran yang telah diberikan oleh guru yang diwujudkan dalam bentuk nilai yang tinggi atau baik. Sebaliknya peserta didik dikatakan belum berhasil dalam belajarnya atau gagal dalam belajar yang diwujudkan dalam bentuk nilai rendah. Artinya peserta didik belum mampu menguasai bahan pelajaran yang diberikan oleh guru sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Kaitannya dengan konsep belajar tuntas (mastery learning) tingkat penguasaan bahan pelajaran biasanya ditetapkan antara 75% - 90%. Bila peserta didik belum mampu menguasai bahan pelajaran seperti yang telah ditetapkan, maka peserta didik tersebut harus dibantu sampai mencapai penguasaan bahan pelajaran seperti yang telah ditetapkan.John B. Carol (1986) mengatakan : apabila peserta didik diberi kesempatan menggunakan waktu yang dibutuhkan untuk belajar, dan mereka menggunakan dengan sebaik-baiknya maka mereka akan mencapai tingkat hasil belajar seperti yang diharapkan. Jadi setiap peserta didik yang memiliki kecakapan normal, apabila diberi kecukupan waktu cukup untuk belajar , mereka akan mampu menyelesaikan tugas-tugas belajarnya selama kondisi yang tersedia menguntungkan. 

Lebih lanjut Caroll mengatakan bahwa hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh :
  1. Waktu yang tersedia untuk mempelajari bahan pelajaran yang telah ditentukan
  2. Usaha yang dilakukan peserta didik untuk menguasai bahan pelajaran
  3. Bakat yang dimiliki peserta didik
  4. Kualitas pengajaran atau tingkat kejelasan pengajarannya.
  5. Kemampuan peserta didik untuk mendapat manfaat yang optimal dari keseluruhan proses pembelajaran yang sedang dihadapi.
Peserta Didik Berkesulitan Belajar
Blassic dan Jones (19760 mengemukakan karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dapat ditunjukkan dalam karakteristik behavioral, fisikal, bicara dan bahasa, serta kemampuan intelektual dan prestasi belajar. Selain itu Sumadi Suryobroto (1984) mengemukakan bahwa peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dapat diketahui melalui kriteria-kriteria yang sebenarnya merupakan harapan dan sekaligus kriteria tersebut merupakan indikator bagi terjadinya kesulitan belajar. Adanya kesulitan belajar tersebut dapat diketahui atas dasar :
  1. Grade level, yaitu apabila anak tidak naik kelas sampai dua kali.
  2. Age level, yaitu apabila anak yang umurnya tidak sesuai dengan kelasnya.
  3. Intellegensi level, terjadi pada anak yang mengalami under achiever.
  4. General level, terjadi pada anak yang secara umum dapat mencapai prestasi sesuai dengan harapan, tetapi ada beberapa mata pelajaran yang tidak dapat dicapai sesuai dengan kriteria atau sangat rendah dimana siswa mengalami kesulitan belajar.
Sumadi Suryabrata menggambarkan ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan adanya gangguan aktivitas motorik, emosional, prestasi, persepsi, tidak dapat menangkap arti, membuat dan menangkap simbol, perhatian, tidak dapat memperhatikan dan tidak dapat mengalihkan perhatian, dan gangguan ingatan.

Sedangkan Moh. Surya (1978) mengemukakan ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar :
  1. Menunjukkan adanya hasil belajar yang rendah
  2. Hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar
  5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan
  6. Menunjukkan gejala emosi yang kurang wajar
Dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan ciri-ciri sbb:
  1. Prestasi belajarnya rendah artinya nilai yang diperoleh dibawah nilai rata-rata kelompoknya.
  2. Usaha yang dilakukan dalam kegiatan belajar tidak sebanding dengan hasil yang dicapai
  3. Lamban dalam mengerjakan tugas dan terlambat dalam menyelesaikan atau menyerahkan tugas.
  4. Sikap acuh dalam mengikuti pelajaran dan sikap kurang wajar lainnya.
  5. Menunjukkan perilaku menyimpang dari peilaku temannya yang seusianya. Emosional, misalnya mudah tersinggung, mudah marah, pemurung.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
Latar belakang terjadinya kesulitan belajar atau ketidakberesan dalam belajar banyak sekali macam ragamnya. Tetapi bila penyebab kesulitan belajar itu dikaitkan dengan faktor-faktor yang berperanan dalam belajar, maka penyebab kesulitan belajar itu dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pelajar (faktor internal) yang meliputi: kemampuan intelektual,afeksi seperti perasaan dan percaya diri, motivasi, kematangan untuk belajar, usia, jenis kelamin, kebiasaan belajar, kemampuan mengingat, dan kemampuan pengindraan seperti melihat, mendengarkan, dan merasakan(Fontana, 1981). Sedang faktor yang berasal dari luar pelajar (faktor eksternal) meliputi faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi proses pembelajaran yang meliputi: guru, kualitas pembelajaran, instrumen atau fasilitas pembelajaran baik yang berupa hardware maupun software serta lingkungan, baik lingkungan social maupun lingkungan alam.

Menyimak faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar tersebut di atas, maka peserta didik mengalami kesulitan belajar atau ketidakberesan dalam belajar, ditunjukkan oleh hasil belajar yang rendah. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal seperti yang dikemukakan oleh Noehi Nasution. (1992: 215)
  1. Rendahnya kemampuan intelektual anak
  2. Gangguan perasaan atau emosi
  3. Kurangnya motivasi untuk belajar
  4. Kurang matangnya anak untuk belajar
  5. Usia yang terlampau muda
  6. Latar belakang sosial yang tidak menunjang
  7. Kebiasaan belajar yang kurang baik
  8. Kemampuan mengingat yang rendah
  9. Terganggunya alat-alat indra
  10. Proses belajar mengajar yang tidak sesuai dan
  11. Tidak adanya dukungan dari lingkungan belajar.
Untuk lebih lengkapnya, marilah kita simak pandangan ahli yang lain yang berkaitan dengan permasalahan belajar yang dialami peserta didik, baik faktor internal maupun eksternal. Dimyati dan Mudjiono(1994: 228-235) mengemukakan faktor-faktor internal yang mempengaruhi proses belajar sebagai berikut:
  1. Sikap terhadap belajar
  2. Motivasi belajar
  3. Konsentrasi belajar
  4. Mengolah bahan ajar
  5. Menyimpan perolehan hasil belajar
  6. Menggali hasil belajar yang tersimpan
  7. Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja
  8. Rasa percaya diri siswa
  9. Inteligensi dan keberhasilan belajar
  10. Kebiasaan belajar
  11. Cita-cita siswa
Sedang faktor eksternal yang berpengaruh terhadap proses belajar meliputi:
  1. Guru sebagai Pembina siswa belajar
  2. Sarana dan prasarana pembelajaran
  3. Kebijakan penilaian
  4. Lingkungan social siswa di sekolah
  5. Kurikulum sekolah
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

Bagan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Keterangan:
  • Raw Input : peserta didik
  • Learning Teaching Process : proses belajar mengajar atau proses pembelajaran
  • Environmental input : faktor lingkungan
  • Instrumental input : sarana dan prasarana penunjang proses belajar mengajar
  • Output : peserta didik sebagai hasil proses pembelajaran
Pengenalan Kesulitan Belajar Peserta Didik
Untuk membantu mengatasi kesulitan belajar peserta didik, kita harus menentukan faktor penyebab dari kesulitan belaja tersebut. Setelah faktor penyebab kesulitan belajar diketahui, kita baru dapat menentukan alternative bantuan yang diberikan. Untuk dapat menentukan kesulitan belajar peserta didik dengan tepat,maka kita harus mengumpulkan data selengkap mungkin, baik dengan teknik non tes maupun dengan teknik tes.

1. Teknik Nontes
Teknik nontes yang dimaksud disini adalah teknik pengumpulan data atau keterangan yang dilakukan dengan cara: wawancara, observasi, angket, sosiometri, biografi, pemeriksaan kesehatan dan fisik, dan dokumentasi.

a. Wawancara
Wawancara atau interview merupakan cara untuk memperoleh data atau keterangan degan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data.

b. Observasi
Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan alat indra terhadap kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Berikut ada beberapa petunjuk bagi observer dalam mengadakan observasi:
  1. Observer perlu memahami terlebih dahulu apa yang akan dobservasi dan jenis gejala apa yang perlu dicatat.
  2. Meneliti tujuan umum dan khusus, apakah sudah sesuai denga permasalahan yang akan diteliti, seingga dapat dijadikan dasar untuk menentukan apa yang harus diobservasi.
  3. Buatlah cara untuk mencatat observasi. Cara ini akan menghemat waktu dan menyeragamkan tata kerja observasi yang dilakukan terhadap banyak peristiwa.
  4. Adakan batasi dngan tegas macam-macam tingkat kategori yang akan digunakan.
  5. Adakan observasi secermat-cermatnya dengan pencatatan yang sudah disederhanakan.
  6. Catatlah gejala-gejala secara terpisah.
  7. Ketahuilah baik-baik alat-alat pencatat dan tata cara mencatat sebelum melakukan observasi.
c. Angket
Angket atau kuisener adalah alat pengumpul data yang berisi daftar pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang diselidiki atau disebut responden, secara tertulis.

Bila ditinjau dari cara menjawabnya angket terbagi menjadi dua yaitu:
1) Angket langsung
Angket yang diberikan kepada orang yang akan dikumpulkan datanya.

2) Angket tidak langsung
Angket yang diberikan kepada orang lain yang dianggap mengetahui keadaaan orang yang akan dikumpulkan datanya.

Bila ditinjau dari bentuk pertanyaannya angket dibedakan menjadi tiga yaitu:
1) Angket tertutup
Pertanyaan yang dijawabnya sudah disediakan sehingga responden tinggal memilih jawaban yang sesuai dengan dirinya.

2) Angket terbuka
Pertanyaaan-pertanyaan dalam angket yang memberikan kesempatan kepada responden untuk memberikan jawaban seluas-luasnya. Angket teruka ini tepat digunakan utuk mengungkap pendapat seseorang tentang sesuatu.

3) Angket tertutup terbuka
Angket yang terdiri dari angket tertutup, shingga responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan, namun bila jawaban tidak ada yang sesuai menurut responden, maka responden diberi kesempatan untuk mengemukakan jawaban sesuai dengan keadaan responden.

Dalam pelaksanaannya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan angket:
  • Gunakan angket dalam keadaan atau situasi yang setepat-tepatnya.
  • Tentukan terlebih dahulu tujuan kuisener/angket, baik tujuan umum maupun khusus.
  • Tentukan dan susunlah pertanyaan-pertanyaan sebaik-baiknya:
  1. Pertanyaan harus singkat dan jelas(mudah dimengerti)
  2. Jangan sampai ada pertanyaan yang terulang
  3. Pertanyaan harus tegas, artinya jangan meragukan responden
  4. Pertanyaan jangan sampai menimbulkan pertanyaan
  5. Pertanyaan jangan sampai menimbulkan hal-hal yang memalukan.
  • Pertanyaan disusun menurut aspeknya atau kategorinya atau golongan-golongannya, agar lebih sistematis sehingga mudah menganalisisnya.
  • Sebelum digunakan untuk mengumpulkan data dari responden yang sesungguhnya , maka angket yang telah tersusun sebelumnya diujicobakan terlebih dahulu untuk mengetahui kesalahan-kesalahan baik kesalahan redaksional maupun isi materi.
d. Sosiometri
Sosiometri adalah suatu cara untuk mengetahui hubungan social seseorang, yang sering disebut juga sebagai ukuran berteman seseorang. Gambaran mengenai hubungan seseorang disebut sosiogram.
Baik tidaknya hubungan social seseorang denga orang lain dapat dilihat dari beberapa segi. Bimo Walgito, 1980:72.mengemukakan sebagai berikut:
  1. Frekuensi hubungan, yaitu sering tidaknya anak atau orang itu bergaul.
  2. Intesitas hubungan, yaitu segi mendalam tidaknya anak atau orang didalam pergaulannya, yaitu intim tidaknya mereka bergaul
  3. Popularitas hubungan, yaitu banyak sedikitnya teman bergaul, dapat dgunakan sebagaikriteria pula untuk melihat baik buruknya dalam hubungan sosialnya..
e. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu cara mengumpulkan data dengan jalan mengutip dari sumber catatan yang sudah ada

f. Pemeriksaan fisik dan kesehatan
Pemeriksaan fisik berkaitan dengan pengumpulan data yang berkaitan dengan kondisi dan perkembangan fisik, misalya kecacatan yang dimiliki, bentuk tubuh dan wajah yang kurang menarik. Sedang pemeriksaan kesehatan berkaitan dengan masalah penyakit yang diderita seseorang. Dalam hal ini peran dokter sangat dibutuhkan dalam memberikan informasi tentang kesehatan seseorang.

2. Teknik Tes
Teknik tes adalah teknik pengumpulan data atau keterangan yang dilakukan dengan memberikan tes. Tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dijalankan, yang didasarkan atas jawaban testee terhadap pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah itu penyelidik megambil kesimpulan dengan cara membandingkannya dengan standar atau testee yang lain(sumadi Suryoboto,1984). Selanjutnya dalam hal ini dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Tes hasil belajar
Tes yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui penguasaan bahan pelajaran yang telah disajikan dalam proses pembelajaran dalam bentuk ulangan, ujian, atau dalam bentuk evaluasi yang lain.

b. Tes psikologis
Teknik pengumpulan data yang bersifat potensial yaitu data tentang kemampuan yang belum nampak yang dimiliki seseorang, misalnya bakat, inteligensi, minat, kepribadian, sikap, dan sebagainya.

Prosedur Pelaksanaan Diagnosis Kesulitan Belajar
Guru dalam proses pembelajaran menghadapi peserta didik yang beranekaragam karakteristiknya. Perbedaan peserta didik berkaitan dengan kapasitas intelektual, keterampilan, motivasi, sikap, kemampuan, minat, latar belakang kehidupan keluarganya dan lain-lainnya. Perbedaan ini cenderung berakibat adanya perbedaan dalam belajar bagi setiap peserta didik baik dalam kecepatan belajarnya maupun keberhasilan belajar yang dicapainya.

Langkah-langkah melaksanakan diagnosis kesulitan belajar yaitu :
1. Mengidentifikasi peserta didik yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Dengan cara mengenali latar belakang baik psikologis maupun non psikologis. Kasus kesulitan belajar dapat diketahui melalui :

a. Analisis Perilaku
Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dapat diketahui melalui observasi atau laporan proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran dapat diketahui :
  1. Cepat lambatnya menyelesaikan tugas
  2. Kehadiran dan ketekunan dalam proses pembelajaran
  3. Peran serta dalam mengerjakan tugas kelompok
  4. Kemampuan kerjasama dan penyesuaian sosial
b. Analisis Prestasi Belajar
Dapat dilakukan dengan cara menghimpun dan menganalisis hasil belajar serta menafsirkannya. Dalam menafsirkan hasil belajar peserta didik harus menggunakan norma yaitu Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)

2. Melokalisasi Letak Kesulitan Belajar
Dapat kita lakukan dengan cara mengetahui dalam mata pelajaran atau bidang studi apa kesulitan itu terjadi, kemudian aspek atau bagian mana kesulitan belajar itu dirasakan oleh peserta didik.

Untuk menemukan bidang studi apa peserta didik mengalami kesulitan belajar dapat dilakukan dengan cara membandingkan skor prestasi yang diperoleh peserta didik dengan nilai rata-rata dari masing-masing bidang studi. Sedangkan untuk mengetahui aspek atau bagian mana kesulitan belajar itu dirasakan oleh peserta didik dapat dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan tes.

3. Menentukan Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Dapat dilakukan dengan cara meneliti faktor-faktor yang ada pada diri peserta didik (internal) dan faktor-faktor yang berada di luar peserta didik (eksternal) yang menghambat proses belajar dan atau pembelajaran.

4. Memperkirakan Alternatif Bantuan
Langkah yang akan ditempuh dengan cara menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
  • Apakah peserta didik masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya?
  • Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan peserta didik?
  • Kapan dan dimana pertolongan dapat diberikan kepada peserta didik?
  • Siapa yang dapat memberikan pertolongan?
5. Menetapkan Kemungkinan Cara Mengatasinya
Langkah ini merupakan langkah untuk menentukan bantuan atau usaha penyembuhan yang diperlukan peserta didik Selanjutnya rencana pemberian bantuan harus disesuaikan dengan jenis kesulitan yang dialami peserta didik.

Bantuan dapat diberikan melalui program remedial atau pengajaran perbaikan, layanan bimbingan dan konseling, program referal yaitu mengirimkan peserta didik kepada ahli yang berkompeten dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik.

6. Tindak Lanjut
Ini merupakan langkah terakhir yang berupa kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
  • Memberikan pertolongan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, sebagai penerapan program bantuan yang telah ditetapkan pada langkah sebelumnya
  • Melibatkan berbagai pihak yang dipandang dapat memberikan pertolongan kepada peserta didik
  • Mengikuti perkembangan peserta didik dan mengadakan evaluasi terhadap bantuan yang telah diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki kesalahan atau ketidaktepatan bantuan yang diberikan
  • Melakukan referral kepada ahli lain yang berkompeten dalam menangani kesulitan yang dialami peserta didik

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar Menurut Ahli"

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca