Pengertian Dan Tujuan Lembaga Pendidikan Islam Menurut Ahli

Tinjauan Tentang Inovasi Lembaga Pendidikan Islam
Inovasi lembaga pendidikan Islam adalah suatu perubahan atau pembaharuan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam menuju kondisi yang lebih baik untuk mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan.

1. Pengertian Lembaga Pendidikan Islam
Lembaga pendidikan merupakan salah satu sistem yang memungkinkan berlangsungnya pendidikan secara berkesinambungan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Adanya kelembagaan dalam masyarakat, dalam proses pembuyaan umat, merupakan tugas dan tanggung jawabnya yang kultural dan edukatif terhadap peserta didik dan masyarakatnya semakin berat. Tanggung jawab lembaga-lembaga pendidikan dalam segala jenisnya menurut pandangan islam adalah erat kaitannya dengan usaha mensukseskan misisnya sebagai seorang muslim.

Lembaga pendidikan islam merupakan pemikiran yang dicetuskan oleh kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang didasari, digerakkan, dan dikembangkanoleh jiwa islam (Al-qur’an & As-sunnah). Lembaga pendidikan islam secara keseluruhan, bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan dalam pertumbuhan dan perkembangannya mempunyai hubungan erat dengan kehidupan islam secara umum. Islam telah mengenal lembaga pendidikan sejak detik-detik awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Rumah Al-Arqam ibnu Alarqam merupakan lembaga pendidikan yang pertama.24 Guru agama yang pertama adalah Nabi Muhammas SAW dengan sekumpulan kecil pengikut-pengikutnya yang percaya kepadanya secara diam-diam. Dan di rumah itulah Nabi mengajarkan Al-Quran.

Lembaga pendidikan Islam bukanlah lembaga beku, tetapi fleksibel, berkembang dan menurut kehendak waktu dan tempat. Hal ini seiring dengan luasnya daerah Islam yang membawa dampak pada pertambahan jumlah penduduk islam. Dan adanya keinginan untuk memperoleh aktifitas belajar yang memadai. Sejalan dengan makin berkembangnya pemikiran tentang pendidikan, maka didirikanlah berbagai macam lembaga pendidikan yang teratur dan terarah.

Beberapa lembaga di antara yang belajar dengan sistem lembaga klasikal, yaitu berupa madrasah. Lembaga pendidikan inilah yang disebut dengan lembaga pendidikan formal.

Berdasarkan secara etimologi, lembaga adalah asal sesuatu, acuan, sesuatu yang memberi bentuk pada yang lain, badan atau organisasi yang bertujuan mengadakan suatu penelitian keilmuan atau melakukan sesuatu usaha. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa lembaga mengandung dua arti, antara lain : 
  1. Pengertian secara fisik, material, dan kongkrit
  2. Pengertian secara non-fisik, dan abstrak.
Sedangkan dalam kamus bahasa Inggris, lembaga berarti institute (dalam pengertian fisik), yaitu saran atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dan lembaga dalam pengertian non-fisik atau abstrak adalah institution, yakni suatu sistem norma untuk memenuhi kebutuhan. Lembaga dalam pengertian fisik disebut juga dengan bangunan, dan lembaga dalam pengertian non-fisik disebut dengan pranata.

Dalam memberikan definisi secara terminologi, antara lain: Hasan Langgulung, mengemukakan bahwa lembaga pendidikan itu adalah suatu sistem peraturan yang bersifat mujarrad, suatu konsepsi yang terdiri dari kode, norma-norma, ideologi dan sebagainya, baik tertulis atau tidak, termasuk perlengkapan material dan organisasi simbolik : kelompok manusia yang terdiri dari individuindividu
yang dibentuk dengan sengaja atau tidak, untuk mencapai tujuan tertentu dan tempat-tempat kelompok itu melaksanakan peraturan-peraturan tersebut adalah : mesjid, sekolah, kuttab dan sebagainya.

Daud Ali dan Habibah Daud, menjelaskan bahwa ada dua unsur yang kontradiktif dalam pengertian lembaga, pertama pengertian secara fisik material, kongkrit, dan kedua perngertian secara non fisik, non material dan abstrak. Terdapat dua versi pengertian lembaga dapat dimengerti karena lembaga ditinjau dari segi fisik merupakan suatu badan dan sarana yang di dalamnya ada beberapa orang yang menggerakkannya, dan ditinjau dari aspek non fisik lembaga merupakan suatu sistem yang berperan membantu mencapai tujuan.

Definisi lain tentang lembaga pendidikan adalah suatu bentuk organisasi yang tersusun relatif tetap atas pola-pola tingkah laku, peranan-peranan dan relasirelasi yang terarah dalam mengikat individu yang mempunyai otoritas formal dan sangsi hukum, guna tercapainya kebutuhan-kebutuhan sosial dasar.

Adapun lembaga pendidikan Islam secara terminologi dapat diartikan suatu wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan itu mengandung pengertian bentuk dan juga pengertian-pengertian yang abstrak, adanya norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu, serta penanggungjawab pendidikan itu sendiri.

2. Latar Belakang Perlunya Inovasi Lembaga Pendidikan Islam
Timbulnya gerakan pembaharuan pendidikan ini berkaitan erat dengan adanya berbagai tantangan dan persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan pada dewasa ini. Secara ringkas tantangan-tantangan tersebut timbul karena akibat dari :
  • Bertambahnya jumlah penduduk yang sangat pesat dan sekaligus bertambahnya keinginan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yangsecara komulatif menuntut tersedianya sarana pendidikan yang memadai.
  • Berkembangnya ilmu modern yang menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh dan penguasaan kemampuan dasar-dasar pendidikan menuntut pendidikan yang lebih lama dan banyak sepanjang umur.
  • Berkembangnya teknologi yang mempermudah manusia dalam menguasai dan memanfaatkan alam dan lingkungannya, tetapi seringkali ditanggapi sebagai suatu ancaman terhadap kelestarian peranan manusiawi.
Tantangan-tantangan itu lebih berat lagi dirasakan, karena berbagai persoalan baik di luar maupun di dalam sistem pendidikan, seperti :
  • Sumber-sumber yang makin terbatas, dan belum dimanfaatkannya sumber yang ada secara efektif dan efisien
  • Sistem pendidikan yang masih lemah dengan tujuan yang masih kabur, kurikulumnya belum serasi, relevan, suasananya belum menarik 
  • Pengelolaan pendidikan yang belum mekar dan mantap dan belum peka terhadap perubahan dan tuntutan keadaan baik pada masa kini maupun masa depan
  • Masih kabur dan belum mantapnya konsepsi tentang pendidikan dan interpretasinya dalam praktek.
Keseluruhan tantangan dan persoalan tersebut memerlukan pemikiran kembali yang mendalam dan pendekatan baru yang progresif. Pendekatan ini harus selalu didahului dengan penjelajahan percobaan dan pengujian serta tidak boleh hanya semata-mata coba-coba.

Ada beberapa latar belakang perlunya inovasi lembaga pendidikan Islam, yaitu :
  • Perkembangan ilmu pengetahuan menghasilkan kemajuan teknologi yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan bangsa Indonesia. Sistem pendidikan yang dimiliki dandilaksanakan di Indonesia belum mampu mengikuti dan megendalikankemajuan-kemajuan tersebut sehingga dunia pendidikan belum dapat menghasilkan tenaga-tenaga pembangunan yang terampil, kreatif, dan aktif sesuai dengan tuntutan dan keinginan masyarakat.
  • Laju eksplosi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang dan fasilitas pendidikan yang sangat tidak seimbang.
  • Melonjaknya aspirasi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, sedangkan (dipihak lain) kesempatan sangat terbatas.
  • Mutu lembaga pendidikan Islam yang dirasakan makin menurun, yang belum mampu mengikuri perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 
  • Belum mekarnya alat organisasi yang efektif, serta belum tumbuhnya suasana yang subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan yang dituntut oleh keadaan sekarang dan yang akan datang.
3. Tujuan Inovasi Lembaga Pendidikan Islam
Setiap aktivitas pasti mempunyai tujuan. Demikian juga dengan inovasi lembaga pendidikan Islam. Tujuan utama inovasi yakni meningkatkan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.

Adapun tujuan inovasi lembaga pendidikan Islam adalah meningkatkan efisien, relevansi, kualitas dan efektivitas; sarana serta jumlah peserta didik sebanyak-banyaknya, dengan hasil pendidikan sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat dan pembangunan), dengan menggunakan sumber, tenaga, uang, alat dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya.

Kalau dikaji, arah tujuan inovasi lembaga pendidikan Islam tahap demi tahap, yaitu :
  • Mengejar ketinggalan-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuanilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan-kemajuan tersebut.
  • Mengusahakan terselenggarakannya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga negara. Misalnya meningkatkan daya tampungusia sekolah tingkat dasar, menengah dan perguruan tinggi.
Di samping itu, akan diusahakan peningkatan mutu yang dirasakan makin menurun dewasa ini. Dengan sistem penyampaian yang baru, diharapkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif dan terampil memecahkan masalahnya sendiri. Tujuan jangka panjang yang hendak dicapai ialah terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya.

4. Masalah Pokok Inovasi Lembaga Pendidikan Islam
Empat masalah pokok yang membutuhkan pembaharuan terhadap lembaga pendidikan Islam yaitu :
a. Masalah kuantitas dan pemerataan kesempatan belajar
Masalah ini merupakan masalah yang mendapat prioritas pertama dan utama yang perlu segera digarap oleh lembaga pendidikan Islam. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menciptakan sistem pendidikan yang dapat menampung sebanyak mungkin anak-anak usia sekolah (6-18 tahun).

b. Masalah kualitas
Masalah kualitas lembaga pendidikan Islam termasuk masalah pokok yang menuntut inovasi atau pembaharuan. Masalah kualitas lembaga pendidikan Islam sebenarnya bukanlah masalah baru. Karena kurangnya dana, kurangnya jumlah guru, kurangnya fasilitas pendidikan, sudah barang tentu hal ini akan mempengaruhi merosotnya mutu lembaga pendidikan Islam. Karena itu lembaga pendidikan Islam dalam mengatasimasalah ini telah berusaha meningkatkan kemampuan guru lewat penataran-penataran, menambah fasilitas, menambah dana pendidikan, mencari sistem mengajar yang tepat guna, dan sistem evaluasi yang baik, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan lembaga pendidikan Islam.

c. Masalah relevansi
Kurang sesuainya materi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat telah di atasi dengan menyusun kurikulum baru. Dari perkembangan yang ada kita ketahui bahwa kurikulum selalu mengalami perubahan. Hal ini memang disengaja untuk mengatasi masalah relevansi. Dengan kurikulumbaru inilah anak-anak dibina kepribadiannya melalui pengetahuan, keteranmpilan dan sikap yang sesuai dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Aspek keterampilan dan kepribadian utama merupakan unsur kurikulum baru yang mendapat perhatian khusus.

d. Masalah efisiensi dan efektifitas
Pendidikan diusahakan agar memperoleh hasil yang baik dengan dana dan waktu yang sedikit. Ini berarti harus dicari sistem mendidik dan mengajar yang efisien dan efektif, sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pendidikan.

5. Upaya-Upaya Inovasi Lembaga Pendidikan Islam
Untuk mengejar ketinggalan, lembaga pendidikan Islam mengadakan inovasi atau pembaharuan di segala komponen atau aspek pendidikan. Beberapa upaya inovasi pendidikan pada lembaga pendidikan Islam antara lain :

1. Penerapan kurikulum terpadu
Yang dimaksud kurikulum terpadu adalah perpaduan antara kurikulum pendidikan nasional dengan kurikulum Departemen Agama atau kurikulum khas lembaga pendidikan Nasional. Dengan kurikulumterpadu ini diharapkan anak memperoleh pengetahuan yang lengkap dan komprehensif. Dari kurikulum pendidikan Nasional, anak akan memperoleh pengetahuan sebagaimana yang ditargetkan oleh pemerintahdan dari kurikulum Departemen Agama atau kurikulum khas lembaga pendidikan Islam anak memperoleh pengetahuan agama yang memadai. Atau dengan ungkapan lain, bahwa dengan kurikulum nasional anakmemperoleh pengetahuan umum sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman yang menuntut keahlian, keterampilan atau skill.

Dengan kurikulum Departemen Agama atau kurikulum khas lembaga pendidikan Islam anak memperoleh pengetahuan agama sebagai bekal pembentukan moral dan akhlakul karimah. Dengan kurikulum terpadu diharapkan anak dapat menyeimbangkan antara IPTEK (Ilmu Pengetahuandan Teknologi) dan IMTAQ (Iman dan taqwa).

Upaya penerapan kurikulum terpadu tersebut dilatar belakangi oleh munculnya dikotomi dalam sistem pendidikan, yaitu sistem pendidikan Barat yang dinasionalisasikan dengan menambah beberapa mata pelajaran agama (Islam) dan sistem pendidikan yang berasal dari zaman klasik (tradisional) yang tidak diperbaharui secara mendasar, mempunyai arah yang berbeda atau dalam beberapa isi penting justru bertolak belakang. Ini sebenarnya permasalahan klasik, namun tetap aktual sampai sekarang, karena sering dipersoalkan oleh para pakar pendidikan Islam. Biang keladisemua ini tidak ada lagi selain pemerintah Belanda yang dengan politiknya sengaja ingin memecah belah dan menghambat kemajuan umat Islam.

Dengan adanya dualisme-dikotomik dalam pendidikan tersebut, maka sebagai akibatnya yang tidak terhindarkan lagi, banyak umat Islam yang seperti terjebak ke dalam pemahaman yang dikotomi tentang keilmuan, yang melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan non agama (ilmu umum). Bahkan ada yang menghadapkan keduanya secara diametral. Padahal sebenarnya dalam pandangan Islam, ilmu pengetahuan itu hanya satu dan bersumber dari yang satu yaitu Allah SWT dan lebih parah lagi menurut penjelasan Amrullah Ahmad bahwa sistem pendidikan yang dikotomik, menyebabkan lahirnya sistem pendidikan umat Islam yang sekularistk, rasionalistik, empiristik, intuitif dan materialisik.

Keadaan tersebut tidak mendukung tata kehidupan umat yang mampu melahirkan peradaban Islam.
Amrullah Ahmad secara rinci masalah dikotomi pendidikan Islam tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
  • Pertama : Kegagalan dalam merumuskan tauhid dan bertauhid
  • Kedua : Kegagalan butir pertama di atas, menyebabkan lahirnya syirik yang berakibat adanya dikotomi fitroh Islami.
  • Ketika : Dikotomik fitroh Islami, menyebabkan adanya dikotomi kurikulum
  • Keempat : Dikotomik kurikulum menyebabkan terjadinya dikotomik dalam proses pencapaian tujuan pendidikan
  • Kelima : Dikotomik proses pencapaian tujuan pendidikan dalam interaksi sehari-hari di lembaga pendidikan menyebabkan dkotomi abituren pendidikan dalam bentuk spit personality ganda dalam artian kemusyrikan, kemunafikan, sikap cita-cita dan perilaku yang sering disebut sekularisme.
  • Keenam : Suasana dikotomi ini melembaga dalam suatu sistem pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang ditandai meminta bantuan dana atau fasilitas tertentu dan dukungan secara politis dengan alasan obyektif atau subyektif, bahwa terjadi krisis dalam penyelenggaraan pendidikan.
  • Ketujuh : Lembaga pendidikan akan melahirkan manusia yang berkepribadian ganda, justru melahirkan dan memperkokoh sistem kehidupan umat yang sekularistik, rasionalistikempirik, intuitif dan materialistik.
  • Kedelapan : Tata kehidupan umat yang demikian itu, hanya mampu melahirkan peradaban Barat sekuler yang diproses dengan nama Islam.
  • Kesembilan : Dalam berusaha merealisasikan Islam dalam bentuknya yangmemisahkan kehidupan sosial politik, ekonomi, ilmu, pengetahuan-pengetahuan dengan ajaran agama Islam urusan akhirat dan ilmu teknologi urusan dunia. Dengan demikian, lengkaplah sudah kegandaan kehidupan.
2. Menata manajemen pendidikan
Lembaga pendidikan dapat dipandang sebagai suatu organisasi yang melibatkan sejumlah orang untuk melakukan berbagai kegiatan kependidikan dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Berbagai kegiatan dalam organisasi merupakan suatu proses produksi yang melakukan transformasi mengubah input menjadi out put. Proses ini akan dapat berjalan dengan baik, dalam arti efektif dan efisien jika dikeloladengan baik. Pengelolaan yang baik tersebut membutuhkan diterapkannya fungsi-fungsi administrasi. Di samping itu, setiap organisasi Islam ini selalu berhadapan dengan perkara-perkara operasional, seperti persoalan manusia baik itu pemimpin pelaksana atau pekerja pokok maupun pekerja penunjang atau sampingan, persoalan modal keuangan, dan persoalan perlengkapan kerja, sarana dan prasarana serta persoalan hubungan kerja. Menghadapi hal ini organisasi harus pula menerapkan fungsi-fungsi administasi agar pengelolaan dapat dilakukan secara efektif, efisien dan produktif. Managemen dalam pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.

Berkaitan dengan administrasi organisasi lembaga pendidikan ini, maka administrasi operasionalnya bisa disebut managemen sumber daya manusia, sumber daya material serta managemen kemasyarakatan atau dapat dijabarkan menjadi managemen tata uasaha sekolah, persoalan guru dan pegawai, managemen murid, supervisi pengajaran, pelaksanaan dan pembinaan kurikulum, pendirian dan perencanaan pembangunan sekolah serta managemen hubungan sekolah dengan masyarakat.

 Penerapan fungsi-fungsi administrasi dalam hal ini sudah barang tentu memerlukan tenaga ahli menurut bidang-bidang yang dibutuhkan seperti ahli perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan sebagainya baik dalambidang managemen sumber daya manusia maupun managemen sumber non manusia.

Adapun fungsi-fungsi administrasi yang harus diterapkan adalahfungsi perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, penggerakan atau motivasi pengawasan/supervisi dan penilaian / evaluasi.

1) Perencanaan
Perencanaan dapat diartikan sebagai persiapan menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu. Perencanaan di dalam pendidikan berarti menyusun suatu keputusan tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam rangka membantu anak didik mencapai tujuan pendidikannya. Tugas atau pekerjaan dalam organisasi dapat dibedakan menjadi tugas-tugas pokok tugas penunjang dan tugas sampingan. Tugas pokok dalam  pendidikan Islam yaitu berkaitan dengan administrasi material, kurikulum, administrasi personal. 

Tugas penunjang yaitu tugas yang secara tidak langsung berkaitan dengan pencapaian tujuan pendidikan namun berfungsi meningkatkan efektiftas dan efisiensi pelaksanaan tugas-tugas pokok, seperti pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan serta pengetahuan atau wawasan, dalam rangka pelaksanaan tuags yang telah dibebankan.

Sedangkan tugas sampingan adalah tugas yang mau tidak mau harus dipertahankan oleh organisasi karena erat kaitannya dengan reputasi dan aspersepsi masyarakat luas terhadap organisasi seperti tugas mengikuti seminar, konferensi serta berbagai konsideral baik dalam skala regional maupun nasional. Selain itu hal-hal yang menyangkut kebutuhan akan perlengkapan maupun sarana dan prasarana dalam pelaksanaan tugas harus diperhatikan.

2) Pengorganisasian
Pengorganisasian merupakan langkah lanjut setelah perencanaan menghasilkan rencana. Pengorganisasian sebagai fungsi administrasi dapat diartikan sebagai kegiatan menyusun struktur dan membentuk hubungan agar memperoleh kesesuaian dalam usaha mencapai tujuan bersama. Pengorganisasian dapat pula diartikan sebagai proses pengelompokkan orang-orang, sarana dan prasarana, alat perlengkapan, tugas, wewenang dan tanggung jawab, sedemikianrupa sehingga tercapai suatu kesatuan yang dapat digerakkan, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 

Upaya pengelompokkan tersebut dilakukan dengan menempuh aktivitas-aktivitas yang disebut :
job specification dan requierement. Selain itu dalam pengorganisasian ditetapkan bentuk serta sifat-sifat hubungan kerja antara orang-orang yang terlibat di dalam organisasi baik pada tingkat pimpinan, pembantu pimpinan, para pekerja maupun staf.

3) Pengkoordinasian
Adanya pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab dalam organisasi baik yang ditujukan kepada unit-unit kerja maupun kepada masing-masing individu sceara langsung membawa tuntunan pemusatan perhatian pada tugas wewenang serta tanggungjawab sebagaimana yang telah ditentukan. Keadaan seperti ini dapat menjadikan setiap unit dan individu dalam organisasi kurang menghiraukan adanya keterkaitan mereka dengan yang lain atau integritas dengan unsur-unsur organisasi secara keseluruhan. Bila keadaan seperti ini dibiarkan, maka disintegrasi akan terjadi yang pada akhirnya menghalangi terciptanya tujuan organisasi secara optimal. Oleh karena itu perlu diadakan kegiatan pengkoordinasian yakni untuk menciptakan integritas kerja menuju arah yang sama yaitu tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi.

Dalam hal ini koordinasi diartikan sebagai kegiatan mengatur dan membawa personal, metode bahan, buah pikiran, saran-saran, cita-cita dan alat-alat dalam hubungan kerja yang harmonis, saling isi mengisi dan saling menunjang sehingga pekerjaan berlangsung efektif dan seluruhnya terarah pada pencapaian tujuan yang sama. Dengan koordinasi yang efektif menimbulkan kerjasama yang efektif pula sehingga tujuan mudah dicapai.

4) Penggerakan
Bagaimanapun juga yang melakukan tugas-tugas organisasi adalah manusia, yang disamping memiliki daya-daya yang bersifat positif konstruktif juga memiliki kekuatan yang bersifat negatif-destruktif. Kekuatan tersebut harus mampu diantisipasi untuk dapat menciptakan iklim kerja yang menyenangkan dalam artimenumbuhsuburkan perkembangan kekuatan positif-konstruktif danmampu mendukung kekuatan manusia yang negatif-destruktif.

Salah satu upaya untuk menciptakan iklim kerja yangmenyenangkan adalah pengembangkan sistem motivasi kerja yangdapat menjamin kepuasan kerja yang erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan manusia. Oleh karena itu sistem penggerakan harus pula diperhitungkan apakah pengorbanan, jasa dan dedikasimanusia dalam organisasi telah diberikan imbalan yang memuaskankebutuhan manusia, sekurang-kurangnya minimal kebutuhan hidupmanusia.

Kebutuhan manusia selalu bersifat dua dimensi yaitu jasmanidan rohani. Keduanya harus memperoleh pemuasan. Atas dasar ini maka dalam organisasi lembaga pendidikan Islam diusahakan menseimbangkan imbalan yang diberikan kepada setiap guru yang terlibat didalamnya. Dengan demikian tidak dapat diterimasepenuhnya apabila organisasi Islam hanya menjanjikan imbalan rohaniah atau ukhrowiyah yang megharuskan adanya sifat ikhlas tanpa pamrih dengan semangat juang yang tinggi.

5) Pengawasan
Pengawasan adalah kegiatan pengamatan dan pencarian faktatentang berbagai kesenjangan antara tugas-tugas yang sedangdijalankan dengan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Untuk itu dibutuhkan berbagai tindakan prefentif dan kuratif termasuk di dalamnya memberikan bimbingan, pengarahan danpenjelasan kepada para pegawai agar mereka memahami akan kesenjangan yang terjadi serta bagaimana menanggulanginya. Sehubungan dengan hal di atas pengawasan dapat diartikansebagai kegiatan mengukur tingkat efektifitas kerja personal dan tingkat efisiensi penggunaan metode dan alat tertentu dalam usaha mencapai tujuan.

Managemen tingkat maksudnya menilai kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan apakah telah menghasilkan sesuatu sesuai denganrencana yang ditetapkan untuk mencapai tujuan. Sedangkan mengamati tingkat efisiensi kerja maksudnya adalah menilai kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan apakah dapat mencapai yang maksimaldengan menekan resiko yang sekecil-kecilnya. Dengan demikian jelas bahwa hasil dari suatu pengawasan harus memungkinkan untuk dilakukannya evaluasi terhadap aspek yang dikontrol.

6) Penilaian / evaluasi
Penelitian atau evaluasi adalah fungsi managemen yang dilakukan untuk menilai sejauhmana target atau tujuan yang ditetapkan itu tercapai. Jika ditemukan adanya beberapa bagian tujuan tidak tercapai maka penilaian selanjutnya digunakan untuk mengkaji ulang terhadap keputusan yang menjadi pedoman pelaksanaan tugas.

Keputusan-keputusan yang dimaksud yaitu keputusan yang diterapkandalam rencana tentang berbagai tugas yang hendak dilaksanakan,keputusan dalam pengorganisasian, tentang pengelompokkan danpembagian tugas, wewenang serta tanggung jawab, demikian jugapengelompokkan sumber daya manusia maupun material, keputusanyang ditetapkan berkaitan dengan pelaksanaan fungsi pengkoordinasian, penggerakan, pengawasan juga merupakan kajian dalam penilaian. Dari hasil evaluasi dapat diketahui apakah berbagaikeputusan yang telah diambil/ditetapkan merupakan keputusan yang rasional, realistik dan valid atau sebaliknya. Hal ini merupakan bahan yang berharga bagi suatu organisasi untuk menetapkan atau merumuskan keputusan serta kebijaksanaan di masa yang akan datang.

3. Meningkatkan kualitas guru
Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan, bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Oleh karena itu guru seyogyanya memiliki kemampuan yang memadai untuk mengembangkan siswanya secara utuh. Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru adalah dengan menumbuhkan kreatifitas guru di lapangan.

a. Menumbuhkan kreativitas guru
Kreatifitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suasan produk baru, baik yang benar-benar baru sama sekali maupun yang merupakan modifikasi atau perubahan dengan mengembangkan hal-hal yang sudah ada. Dikaitkan dengan kreatifitas guru, maka guruyang bersangkutan mungkin menciptakan suatu strategi belajar mengajar yang benar-benar baru atau memodifikasi bentuk-bentuk yang ada sehingga menghasilkan bentuk baru.

b. Penataran dan lokakarya
Penataran dan lokakarya dilakukan untuk meningkatkan kemampuanguru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam penetapandan lokakarya ini selain guru mendapatkan informasi, juga diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan dasar mengajar.

c. Supervisi
Supervisi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuandalam proses belajar mengajar mulai pada saat melaksanakan belajarmengajar. Hal ini bisa dilakukan oleh beberapa orang yang sama-samaingin meningkatkan kemampuan dalam proses belajar mengajar,dengan secara bergantian melakukan pengamatan terhadap berbagaibentuk tingkah laku dalam proses belajar mengajar. Setelah masing-masingmengetahui bentuk kelemahannya, maka hal ini dijadikanuntuk melakukan perbaikan dan peningkatan kemampuan.

d. Pengajaran makro
Pengajaran makro secara praktek untuk melatih kemampuan melaksanakan proses belajar mengajar di suatu sekolah. Karena pelaksanaan latihan ini bersifat khusus, maka pelaksanaannya dilakukan di luar kegiatan belajar mengajar yang sebenarnya. Kegiatanini merupakan suatu cara untuk bekerjasama meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan pengajaran.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Dan Tujuan Lembaga Pendidikan Islam Menurut Ahli"

Posting Komentar

Blog ini jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan Saran dari Sobat Pembaca